Reportase Kenduri Cinta April 2016

Pemimpi Kepemimpinan

Kepemimpinan di Maiyah tidak harus figur, dan semua jamaah Maiyah bisa menjadi pemimpinnya, karena pemimpin adalah output dari kepemimpinan.

Tentang pemimpin dan kepemimpinan sebenarnya bukanlah tema yang baru di Kenduri Cinta. Bahkan, hampir di setiap edisi Kenduri Cinta selalu ada pertanyaan yang mencecar tentang pemimpin dan kepemimpinan. Jamaah Maiyah mungkin hanya sebagian kecil dari masyarakat Indonesia yang menyadari bahwa ada yang salah dengan pengertian pemimpin saat ini.

Tema “Pemimpi Kepemimpinan” muncul dalam sebuah obrolan antar penggiat di grup messenger, yang saat itu meneruskan pesan dari Cak Nun bahwa Kenduri Cinta diminta untuk mengangkat lagi tentang kepemimpinan dengan marja’ yang lebih lengkap; Al Qur’an, khazanah budaya-budaya, ke-Muhammadan, hingga teori-teori modern yang berkembang saat ini.

Sebab, masyarakat kebanyakan semakin tidak tahu apa itu Pemimpin, khalifah, imam, yang pada akhirnya mereka justru membeli dan menikmati boneka-boneka plastik untuk disembah dan diserahi pekerjaan-pekerjaan menjawab tantangan zaman.

Malam ini Maiyah berada dua langkah di depan cara pandang kebanyakan orang yang masih sangat baku, konvensional-kultural, yang memperkuat ketidakmungkinan munculnya kepemimpinan yang sejati. Maiyah sudah melewati proses wal tandzur maa qaddamat lighoddi, mempelajari sejarah untuk bekal di masa yang akan datang.

Tahun lalu, dalam sebuah pertemuan di Kadipiro, Cak Nun pernah menyampaikan, “kalau engkau ingin membangun kehancuran masa depan dirimu, masyarakatmu, bangsa dan negerimu serta ummat kekhalifahanmu, tutuplah pintu masa silam dan simpan ia di ruang hampa kegelapan sampai ke relung ketiadaan. Toh, innallaha khobiirun bimaa ta’maluun, Allah Maha Mengabarkan segala apapun yg kita lakukan”.

Itu adalah sebuah pesan yang menekankan betapa pentingnya untuk belajar terhadap sejarah sebagai pijakan menuju masa depan. Sementara itu, orang-orang sudah kadung pongah, sombong, terlalu percaya diri dengan apa yang ada di depan matanya. Wayang-wayang yang sebenarnya hanya dikendalikan oleh dalang dipuja sedemikian tinggi. Parameter masyarakat terhadap pemimpin hilang. Dan, inilah yang hendak diangkat oleh Kenduri Cinta di bulan April ini.

Setelah pembacaan Wirid Wabal yang dipimpin oleh Hendra dam Ibrahim, diskusi sesi prolog dimoderatori oleh Agus Susanto dan Tri Mulyana. Seperti biasa, Adi Pudjo, Hendra Kusuma dan Ali Hasbullah bergantian membuka lontaran untuk digelar sebagai karpet diskusi Kenduri Cinta malam itu.

“Tema ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Tujuh puluh tahun Indonesia merdeka. Tetapi, kita masih hanya bisa bermimpi untuk mendapatkan pemimpin yang mampu mengantarkan bangsa ini menuju Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur”, Ali mengawali pemaparannya.

Kenduri Cinta April 2016
Kenduri Cinta April 2016. Foto: KC.

Dengan mengutip salah satu hadits Nabi Muhammad SAW, Kullukum raa’in, wa kullukum mas uulun ‘an raiyyatihi, setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya, Ali menjelaskan bahwa ada banyak sekali tafsir dan pemahaman dari hadits Nabi tersebut. Tetapi, setidaknya yang bisa kita fahami adalah minimal setiap diri kita merupakan pemimpin bagi diri sendiri. Dalam struktur yang lain, bisa dilihat bahwa seorang bapak adalah pemimpin bagi keluarganya, seorang Manajer adalah pemimpin bagi bawahannya, dan seterusnya.

Ali menambahkan, sebagai orang Islam maka sudah pasti Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok yang paling tepat untuk dijadikan rujukan sebagai seorang Pemimpin. Di dalam diri Beliau terdapat sifat wajib; siddiq, amanah, tabligh dan fathonah. Keempat sifat wajib bagi Rasul ini seharusnya juga menjadi syarat wajib bagi seorang pemimpin di tengah kita. Jika seorang pemimpin tidak memiliki sifat jujur, bagaimana mungkin ia bisa dipercaya untuk pemimpin kaumnya?

Pemimpin juga harus amanah, bukan pengkhianat. Dan, pemimpin pun harus berani menyampaikan informasi kepada kaumnya sesuai dengan fakta yang ada.

Pemimpin pun mesti cerdas. Tetapi, bukan untuk menjadi orang yang sok pintar, atau dalam istilah jawa disebut minteri.

Selain empat sifat tersebut yang juga patut diteladani dari Rasulullah SAW adalah sikap pemaaf dan lemah lembut yang luar biasa, bahkan kepada para pengkhianat Islam sekalipun. Ali merefleksikan bagaimana Rasulullah SAW mampu bersikap lemah lembut kepada orang-orang yang berkhianat ketika perang Uhud terjadi. Selain itu pula, tanggungjawab yang patut dimiliki oleh pemimpin adalah tidak tahannya ia terhadap penderitaan yang dirasakan oleh kaumnya. Dari mulut Rasulllah SAW, di saat sakaratul maut, bahkan masih terucap; ummatii, ummatii, ummatii.

Lantas, apakah sosok yang saat ini dianggap sebagai pemimpin juga seperti itu?

Ali merefleksikan paparannya pada terminologi Manunggaling Kawulo Gusti, yang beberapa kali ditafsirkan oleh Cak Nun, bahwa seorang pemimpin itu di dalam hatinya bersatu antara rakyat dan Tuhannya. Seorang pemimpin tidak mungkin berkhianat kepada rakyatnya, karena Tuhan akan marah. Dan, seorang pemimpin tidak akan ingkar kepada Tuhannya, yang mengakibatkan sengsaranya rakyat.

Selama ini, sangat jarang kita melihat ada sosok pemimpin yang mampu bersikap Manunggaling Kawulo lan Gusti. Malahan, pada era demokrasi yang dianut saat ini, begitu salah seorang pemimpin resmi terpilih melalui pemilihan umum, apa itu Bupati, Walikota, Gubernur bahkan Presiden, yang menjadi  konsentrasi utama dalam diri dan tim suksesnya adalah bagaimana caranya agar berkuasa kembali di periode mendatang, dan bukan bagaimana cara mensejahterakan rakyatnya.

Ketika mencalonkan diri menjadi pemimpin, mereka mendambakan fasilitas yang akan dinikmati, juga pendapatan yang akan mereka terima setiap bulannya. Padahal, pelayanan kepada rakyat seharusnya menjadi faktor utama yang seharusnya selalu ada dalam fikiran pemimpin sejak ia bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari.

Ali berpendapat, mungkin yang juga harus dirubah dari pola pikir masyarakat saat ini adalah cara pandang terhadap sebuah jabatan. Jabatan seharusnya difahami sebagai sebuah alat untuk menunaikan amanah, dan bukan sebagai tujuan.

Ali menambahkan bahwa dengan adanya Kenduri Cinta dan simpul-simpul Maiyah yang lain salah satu tujuannya adalah meluruskan kembali kesalahan berfikir kebanyakan orang saat ini terhadap pemahaman tentang pemimpin dan kepemimpinan. “Seribu empat ratus tahun yang lalu Rasulullah SAW sudah menyampaikan bahwa pemimpin adalah pelayan kalian”.

Jamaah Maiyah bisa memulai dari skala yang lebih kecil, tidak harus dengan membuat sebuah forum diskusi seperti Kenduri Cinta, tetapi bisa dengan hal-hal yang lebih ringan, dengan tulisan misalnya. Dari apa yang dibahas dalam Maiyah, selanjutnya bisa ditulis di media sosial atau website, untuk menjadi salah satu bahan rujukan baru bagi pemikiran masyarakat sekarang. Karena, hal ini sangat perlu untuk dikembangkan lebih jauh lagi oleh Jamaah Maiyah.

Sebelum memberikan kesempatan kepada Hendra Kusuma, Tri Mulyana merefleksikan kondisi bangsa Indonesia ini seperti sedang ingin melakukan thoharoh, tetapi air yang ada adalah air musta’mal, atau juga bisa dikatakan sulit mendapatkan air yang suci sehingga yang dilakukan adalah tayammum. Tetapi, bahkan untuk tayammum pun kita kesulitan mencari debu yang benar-benar suci.

Tri menggarisbawahi bahwa dahulu para alim ulama seringkali dilibatkan dalam proses pemilihan seorang pemimpin, sehingga resonansi gelombang hidayah Allah menjadi salah satu elemen yang begitu kuat dan menentukan bahwa seseorang layak atau tidak untuk menjadi pemimpin. Karena, yang seharusnya menjadi pertimbangan utama seorang Pemimpin dalam mengambil keputusan adalah Tuhan dan rakyatnya, bukan sponsornya, bukan koleganya, bukan kroninya.

Hendra kemudian menggambarkan bagaimana fenomena di masyarakat saat ini. Apabila ada pemilihan pemimpin, dimana pada posisi pemimpin itu terdapat nilai materi seperti fasilitas, gaji dan lain sebagainya, orang-orang  pun memperbutkannya. Bahkan, bukan hanya melakukan praktik kecurangan seperti money politic kepada para calon pemilihnya saja, melainkan juga melakukan penyuapan kepada pihak-pihak yang seharusnya mengawasi jalannya pemilihan tersebut.

Menurut Hendra, fenomena ini tidak hanya terjadi dalam kehidupan politik berbangsa dan bernegara saja. Saat ini, beberapa organisasi-organisasi pergerakan kepemudaan dan kemasyarakatan pun sudah terjangkit virus tersebut. Demikian pula dalam sebuah departemen pemerintahan, dimana para pejabat saling sikut berebut jabatan. Atau, hal yang sama juga berlaku di perusahaan-perusahaan swasta, selain para direktur, sesama karyawan juga kerap saling jegal agar dirinya mendapat prmosi jabatan.

Akan tetapi, beda dengan pemilihan Ketua RT. Dalam pemilihan ketua RT, kebanyakan orang akan saling tunjuk, bukan saling jegal. Dan, Hendra berpendapat, seandainya kelak RT juga ada fasilitas dan gaji bulanannya, bisa juga akan terjadi saling jegal untuk menduduki posisi tersebut.

Saat ini, orang cenderung memilih pemimpin berdasar kebutuhannya. Semisal, ketika lingkungan tidak aman, maka akan dicari pemimpin yang berani, kuat dan tegas. Ketika dihadapkan dengan situasi pemimpin jauh dari rakyatnya, kita pun mendambakan pemimpin yang bisa dekat dengan rakyatnya tanpa jarak. Menurut Hendra, yang juga menjadi persoalan sekarang adalah calon-calon pemimpin memiliki banyak kepentingan, baik kepentingan pribadi maupun golongannya.

Hendra yang sudah cukup lama ikut berjamaah di Maiyah menjelaskan, kembali menjelaskan bahwa tema kepemimpinan ini sebenarnya bukan tema yang baru, bahkan hampir di setiap Maiyahan tema ini selalu dibahas oleh Cak Nun.

Di Kenduri Cinta pernah tercatat adanya judul Pemimpin gress dan Bangsa Indonesia Baru,  Qoumun Akhor, Demokrasi Jaran Kepang, Opera Sabung; Sabung Capres-Karapan Capres, dan beberapa tema lain yang membuat Jamaah Maiyah sesungguhnya sudah khatam terhadap tema kepemimpinan ini. Khasanah-khasanah jawa seperti manunggaling kawulo Gusti, ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani, hingga khasanah-khasanah keislaman juga seringkali dibahas oleh Cak Nun di Kenduri Cinta. Tentu saja semua itu dalam rangka bersama-sama terus mencari kebenaran pemahaman terhadap makna pemimpin dan kepemimpinan.

Tri Mulyana juga menggarisbawahi bahwa manfaat ekonomi yang didapatkan dalam sebuah jabatan kepemimpinan saat ini telah menjadi penyebab utama banyaknya orang berebut, mulai dari skala yang kecil hingga yang besar.

“Jika sebelumnya tadi disampaikan bahwa menurut Rasulullah SAW setiap kita adalah pemimpin, maka menjadi pertanyaan besar mengapa kita saat ini masih mencari pemimpin?” Adi Pudjo melemparkan pertanyaan awal sebagai pijakan diskusi.

Pemimpi Kepemimpinan
Pemimpi Kepemimpinan. Foto: KC.

Manurutnya, jika memang Rasulullah SAW sudah bersabda bahwa setiap manusia adalah pemimpin, maka logikamya kita tidak akan menghadapi kebingungan pada hari ini untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pemimpin. Artinya, hal ini juga menjadi kritikan tajam bagi diri kita masing-masing, apakah diri kita ini ternyata tidak layak menjadi pemimpin sehingga seringkali terseret arus kebanyakan orang yang begitu bersemangat mendukung seseorang.

Pada pemilihan presiden misalnya, yang terjadi adalah orang yang sebenarnya lebih pantas menjadi calon presiden justru hanya menjadi pendukung. Hal ini terjadi bukan karena orang tersebut tidak layak menjadi presiden, tetapi karena ia tidak memiliki kendaraan politik yang kuat untuk mencalonkan diri sebagai Presiden. Ada juga, yang karena kalah populer dibanding calon yang lain berdasarkan survey dan pemberitaan di media massa, maka orang tersebut memilih mundur saja dari pertandingan.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa peran media massa begitu vital saat ini untuk menggerakkan opini publik, orang yang sebelumnya tidak dikenal sama sekali oleh masyarakat, setelah diekspos habis-habisan oleh media massa, maka orang tersebut akan menjadi sorotan publik dan tentu menjadi lebih terkenal dari sebelumnya. Kepopuleran ini kemudian menjadi parameter yang menghancurkan cara pandang masyarakat untuk lebih jeli memilih pemimpin. Saat ini, siapa yang terkenal di media massa akan lebih dipertimbangkan oleh masyarakat untuk dipilih menjadi pemimpin.

Mencari Yang Masuk Akal

Dari Tri Mulyana, fokus forum kemudian diberikan kepada jamaah Kenduri Cinta. Fari, jamaah asal Matraman berpendapat bahwa seharusnya sistem Demokrasi tidak diaplikasikan di negara berkembang seperti Indonesia. Karena, Demokrasi adalah sebuah sistem dimana kekuasaan berada di tangan rakyat, sedangkan yang terjadi di Indonesia keadaan dan kondisi rakyatnya belum sepenuhnya terjamin seperti di negara-negara maju. Sangat tidak masuk akal, ketika rakyat masih banyak yang nganggur, masih banyak yang miskin, kemudian pemerintahnya justru menggunakan sistem Demokrasi untuk mengurusi urusan rakyat. Fari mengusulkan bahwa sebuah perbuahan besar diawali dari sebuah perbuahan kecil, sebuah perbaikan yang besar dimulai dari perbaikan yang kecil, dan ia mengajak jamaah Kenduri Cinta untuk memulai dari perubahan dan perbaikan dalam diri pribadi masing-masing terlebih dahulu sebelum melakukan perubahan dan perbaikan yang sifatnya lebih besar.

Mudhoffir, salah seorang jamaah dari Kebumen melemparkan sebuah pertanyaan tentang bagaimana cara mendidik generasi-generasi muda sekarang untuk mengenali karakter keadilan dan keteladanan. Naufal, jamaah asal Cipinang, menambahkan bahwa yang harus kita lakukan saat ini adalah bagaimana menjadi masyarakat yang baik, berperilaku yang baik, sehingga apa yang kita lakukan akan berdampak positif dalam kehidupan masyarkat di sekitar kita sendiri.

Berpijak dari yang disampaikan bebarapa jamaah itu Hendra pun merespon, bahwa seringkali kita menuntut Tuhan untuk berlaku adil, tetapi di saat yang sama kita tidak menyadari bahwa keadilan versi Tuhan belum tentu sama dengan keadilan versi manusia. Kita semua mengakui bahwa Tuhan Maha Adil, tetapi tidak selalu kita mampu memahami bahwa keadilan Tuhan itu tidak selalu sama dengan keadilan yang dimaksudkan oleh manusia. Ali Hasbullah pun sekali lagi menggarisbawahi bahwa keteladanan pemimpin bagi orang Islam sudah tentu tolak ukurnya adalah Nabi Muhammad SAW.

Dengan mengutip salah satu hadits, Ibda’ binafsika, mulailah dari diri sendiri. Ali menyepakati apa yang disampaikan oleh Fari bahwa perubahan yang besar harus dimulai dari perubahan yang kecil, dan perubahan itu dimulai dari diri kita sendiri. Dan, sebagaimana yang sudah dibahas pada edisi sebelumnya, bahwa inti dari pengabdian kita kepada Allah adalah tentang Cinta.