Daur (151)

Pemberani Yang Pengecut

Ta’qid : “...untuk waktu yang sangat lama sebenarnya Markesot sangat setia menemani siapa saja manusia yang ada di sekitarnya. Markesot adalah penduduk semua kampung dan setiap desa”

Sesungguhnya diam-diam Markesot bersyukur punya Saimon sahabat setianya, meskipun jika berjumpa mereka selalu bertengkar. Kalau pakai bahasa sederhana, sahabatnya itulah yang memelihara cintanya kepada manusia, yang membuatnya tidak kehilangan kejernihan di dalam memandang keadaan mereka.

Pernah sekitar dua puluhan tahun Markesot meninggalkan dunia manusia yang gaduh, dan jangan sangka ia pernah benar-benar tega meninggalkan, karena sesungguhnya ia pergi itu justru didorong oleh kedalaman cintanya kepada manusia.

Markesot tinggal di tempat-tempat tak menentu yang jauh dari manusia. Misalnya di area yang semua orang melihatnya sebagai hutan yang penuh pepohonan rimbun. Jauh dari perkampungan manusia. Apakah ia membuat semacam gubug atau rumah kecil atau apapun untuk melindunginya dari hujan dan panas matahari, tidaklah perlu dipersoalkan.

Markesot sebatang kara, tinggi badannya tak lebih dari dua meter, lebarnya tak sampai setengah meter: sangatlah sederhana dan terlalu kecil dan lemah untuk dijadikan tempat berlindung.

Keputusan hidup Markesot tidak bisa dicontoh oleh manusia lainnya. Ia sendirian. Pernah dahulu kala ia hampir mengambil keputusan untuk berkeluarga. Tetapi ia merasa bagaimana mungkin ia akan mempertanggungjawabkan kepada Tuhan lebih dari dirinya sendiri.

Bukannya ia tidak sanggup menanggung beban rumah tangga, tetapi ia tidak berani menjadi beban bagi keluarganya, terlebih-lebih lagi bagi anak-anak dan cucu-cucunya kelak. Ia pasti akan meninggalkan mereka semua, tanpa mampu menjamin bahwa segala sesuatu yang pernah diwariskannya, terutama nilai-nilai dan nasib, akan tidak membuat anak cucu menderita.

Markesot seorang pengecut. Tidak punya keberanian untuk menyangga dunia. Kalau semua orang mengikuti jejaknya, maka peradaban akan berhenti, karena tidak terjadi regenerasi. Kehidupan bukanlah seribu individu dan individu, seseorang dan sejuta orang.

Kehidupan adalah individu dan orang-orang yang membangun lingkaran-lingkaran kecil yang bernama keluarga. Dan Markesot adalah seorang pengecut untuk itu, meskipun ia sangat pemberani, tangguh dan gagah perkasa untuk membebaskan dirinya dari dunia dan keduniaan.

Ia kokoh dan menang melawan nafsu jasad, khayalan budaya, karier, nama baik sosial, reputasi dan eksistensi. Markesot merdeka dari urusan sukses gagal, menang kalah, kaya miskin, hebat konyol, pandai bodoh, serta berbagai macam ukuran aneh yang membuat umumnya manusia di muka bumi menjadi sakit jiwa.

Dan sakit jiwa massal global itu dibiayai oleh ummat manusia dengan merusak bumi, menyelenggarakan peperangan, mencampakkan martabat hidup di parit-parit kebodohan, bahkan mengongkosinya dengan nyata miliaran manusia dari abad ke abad, tanpa pernah ada tanda-tanda bahwa suatu saat itu semua akan berakhir.

Ummat manusia membangun peradaban, berganti-ganti peradaban, untuk mendapatkan kemashlahatan yang ongkos kemudlaratannya tidak masuk akal dan jauh lebih mahal dibanding kemashlahatan yang bisa dicapainya. Manusia menggali semua kandungan emas dari perut bumi, kemudian mereka olah untuk dijadikan berhala. Markesot tidak paham kenapa mereka tidak langsung ambil batu-batu saja.

Manusia membangun gedung-gedung pendidikan, demi supaya ratusan juta anak didik bisa diubah menjadi robot dan budak-budak. Manusia mengarang ilmu dan ideologi, dengan tujuan untuk mempersempit otak mereka. Manusia membentuk institusi dan satuan-satuan, agar supaya tidak habis alasan untuk bertengkar satu sama lain.

Manusia membangun gedung-gedung tinggi dalam rangka merendahkan kemanusiaannya. Manusia membangun tempat-tempat ibadah, dengan tujuan agar setiap kumpulan jamaah menemukan bahwa jamaah lain salah dan sesat. Manusia mendirikan Negara, mata uang, sistem materi dan lembaran-lembaran strategi rahasia, dengan visi misi agar ummat manusia bisa dikurung dalam sel-sel penjara utopia, manipulasi, tipu daya dan artifisialisme nilai-nilai.

Meskipun Markesot semakin hari semakin tidak sanggup menahan hatinya untuk menyangga kenyataan-kenyataan sakit jiwa di muka bumi, untuk waktu yang sangat lama sebenarnya Markesot sangat setia menemani siapa saja manusia yang ada di sekitarnya. Markesot adalah penduduk semua kampung dan setiap desa.