Daur (142)

Pelarian di Jalan Sunyi

Ta’qid : “Sembunyi dari bebrayan, merasa tidak bersalah untuk tidak ikut memperbaiki keadaan masyarakat dan Negaranya yang semakin bobrok”

Sementara Saimon mendengarkan pembacaan Nguntal Buah Simalakama, Markesot diam-diam meneruskan othak athik gathuk-nya tentang IT, yang tadi diinterupsi oleh Saimon. Tapi ternyata Saimon mengganggunya terus.

“Jadi apa rekomendasimu kepada anak-anak muda itu, Sot?”, katanya, “kamu suruh mereka jadi Sufi? Kamu suruh mereka mengikuti jejakmu membelakangi Dunia, menjauh dari harta benda, materialisme, kompetisi karier, menghindari kekuasaan, melarikan diri ke hutan dan gunung, menempuh Jalan Sunyi?”

Markesot jengkel luar biasa. Ia bisa mendengarkan dramatic reading itu sambil melamunkan IT atau apa saja, tapi jangan ditambah menjadi tiga wilayah konsentrasi. Teroris bener ini Saimon.

“Mon…”

“Ya…”

“Saya mau nanya”

“Silakan”

“Di dunia Jin ada nggak tradisi topo bisu?”

“O itu makanan sehari-hari kami”, jawab Saimon, “kebudayaan Jin lebih banyak bermuatan bisu dan sunyi, tidak seperti peradaban manusia yang selalu gaduh, sakit jiwa dengan kata-kata yang tidak dipikir apa artinya, pernyataan, pidato, diskusi, seminar, simposium dan yang semacam itu, padahal ternyata hanya pura-pura…”

“Cukup”, Markesot memotong, “saya tidak memintamu untuk menjadi analis sosial dan pemerhati kebudayaan ummat manusia. Saya hanya bertanya tentang topo bisu di dunia Jin. Jawab secukupnya saja…”

“Oke”, kata Saimon, “kami lebih banyak bisu dibanding nyerocos seperti kebiasaan manusia”

“Kalau begitu tolong jalankan kebiasaanmu saat ini. Jangan ganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan, apalagi yang membuat saya mundur ke belakang, karena semua yang kamu tanyakan itu tadi mengandung kesimpulan dan tuduhan kepada saya yang sama sekali tidak benar. Dan itu memaksa saya untuk mengulang-ulang lagi apa yang sudah saya tegas-tegaskan sejak setengah abad yang lalu”

“Panjang benar kalimatmu, Sot, benar sekali apa yang saya katakan tentang kebudayaan manusia”

“Tidak usah menilai”

“Andaikan saya membisu, itu juga suatu bentuk penilaian. Mending saya berterus terang kepadamu, sambil saya menyesuaikan diri dengan budaya komunikasi manusia…”

“Lho kamu tadi kan menuduh saya menempuh Jalan Sunyi, dan memfitnah bahwa saya menyuruh anak-anak muda itu mengikuti jejak kesunyian hidup saya itu”

“Kan semua orang yang mengenal kamu menyimpulkan bahwa kamu adalah Pejalan Sunyi”

“Siapa bilang. Berpuluh-puluh tahun saya berada di tengah keramaian manusia. Hanya sesekali saya istirahat seperti yang kamu lantas nongol di tepi sungai pinggir hutan kemarin…”

Saimon tertawa terpingkal-pingkal tapi ditahan suaranya, supaya tidak mengganggu para pendengar Nguntal Buah Simalaka di sekitarnya.

“Apa yang kamu tertawakan?”

“Katanya saya disuruh membisu, tapi kamu omong terus yang membuat saya tidak mungkin tidak menanggapinya”

“Karena kamu terlanjur memfitnah saya”

“Memfitnah bagaimana. Jalan Sunyi itu kan kebanggaanmu…”

“Kebanggaan gundhulmu. Saya tidak ada urusan dengan kebanggaan. Jalan Sunyi itu view mereka terhadap saya yang asing bagi mereka”

Markesot sendiri yang melanggar permintaannya agar Saimon membisu.

“Yang jelas Jalan Sunyi itu membuat mereka merasa sah dan halal untuk melarikan diri dari kewajiban-kewajiban sosial mereka”, Saimon menyerbu, “sembunyi dari bebrayan, merasa tidak bersalah untuk tidak ikut memperbaiki keadaan masyarakat dan Negaranya yang semakin bobrok. Lantas mereka jadi besar kepala karena merasa sedang menjadi Sufi. Mereka mentertawakan dunia dan harta benda, padahal karena memang miskin dan tidak mampu bekerja. Mereka sinis terhadap politik, kekuasaan atau persaingan untuk sukses, padahal itu karena mereka memang dlu’afa, lemah, tak berdaya….”