Wedang Uwuh (2)

Patrap dan Atlas Nilai Yogya

Kedaulatan Rakyat, 25 Oktober 2016

Akhirnya semua bubrah. Tentu saya tidak boleh memaksakan kehendak. Jadinya kami duduk melingkar.

“Kok bikin Atlas gimana tho Mbah?”, Gendon mengejar.

Saya harus menjawab, meskipun sesungguhnya anak-anak saya itu sudah tahu. Tetapi pengetahuan tidak bisa diketahui kebenarannya kalau tidak terletak pada koordinat ruang dan waktu yang tepat. Orang Yogya menyebutnya: patrap.

Salah satu yang semakin hilang dari manusia, masyarakat dan bangsa kita adalah kesadaran tentang patrap. Gemah ripah loh jinawi hanya bisa dicapai kalau proses memperjuangkannya diletakkan dan setia pada patrap-nya. Manusia Indonesia dan Yogya modern saat ini sudah sangat melimpah pengetahuannya tentang kebenaran, kebaikan dan keindahan, tetapi belum disertai oleh pengelolaan patrap.

Kita sudah berproses 71 tahun menjalani pem-beradab-an bangsa. Kita sudah menanam dan membangun ilmu-ilmu, demokrasi, republik, supremasi hukum, sampai ada variabel-variabel yang mbumboni keadaan ini secara sangat riuh rendah. Sejak sosialisme dan kapitalisme, politik kanan dan kiri, kebudayaan timur dan barat, hingga racikan-racikan yang bikin kita kepedesen: liberalisme dan ultranya, radikalisme, fundamentalisme, ekstremisme, anarkisme, agama garis lurus, madzhab garis lengkung, politik lipatan dan strategi tikungan, serta bermacam-macam lagi.

Bahkan kita sudah memasuki era teknologi penggandaan pahala, emas, uang, bahkan penggandaan kepribadian: bunglonisme, esuk dele sore tempe, mancolo putro mancolo putri, lamis, leda-lede, ingah-ingih, hipokrisi, oportunisme, kemunafikan, bajing loncat, dan beratus gejala dan fakta sejarah lainnya.

Semua itu soal patrap. Ada yang memang memilih benere dhewe, ada yang mengklaim atau memanipulasi benere wong akeh, ada yang tersingkir karena mencari bener kang sejati. Ada yang memang benar-benar bener, tapi susah banget untuk pener tatkala diterapkan. Karena seluruh konstruksi nilai zaman ini memang sudah semakin kehilangan patrap.

“Soal Atlas itu sebenarnya awal dari hilirnya”, saya menjawab Gendon, “atlas kan tidak hanya geografis teritorial. Manusia juga sangat memerlukan atlas nilai. Peta nilai yang dipijaknya, yang mengepungnya, kemudian bagian yang dipilihnya. Yogya perlu mengatlaskan kembali tatanan nilai diri keYogyaannya, karena Yogya yang paling berkewajiban dan menyiapkan diri untuk nanti menyelamatkan Indonesia yang sedang semakin kehilangan patrap…”

“Maksud Mbah misalnya patrap Indonesia antara Negara dengan Pemerintahnya, seperti yang kemarin Mbah omongkan?”, Pèncèng menyela, “mencari, menemukan, membangun dan menata kembali Patrap Segitiga antara Rakyat, Negara dengan Pemerintah, di atas tanah air Ibu Pertiwinya?”

“Ya”, saya menjawab, “Yogya harus menemukan dirinya kembali, dalam seluruh arti dan dimensinya, supaya ia bisa menjalankan tugasnya untuk mencari dan menemukan kembali Indonesia. Tapi itu nanti dulu, saya ajak kalian ke hulunya…”

Saya jelentrehkan bahwa asal usulnya ini semua karena Kedaulatan Rakyat ndawuhi saya untuk mengekspressikan Yogya melalui tulisan seminggu sekali. Hajat beliau adalah meneruskan uyon-uyon kultural yang dulu dipandegani oleh almarhum Begawan Kebudayaan Prof Dr Umar Kayam, kemudian diteruskan oleh glenyengan Pak Bakdi Sumanto yang juga Allah merahmatinya di sorga.

“Alaaaaa! Mana bisa Mbah njenengan meneruskan Mbah Kayam dan Mbah Bakdi. Gamelan beliau berdua kuningan, gamelannya Mbah kan besi…”, Pèncèng berteriak kurang ajar .