Daur (205)

Pathok Negoro dan Allah Audiens-mu

Ta’qid : “Pemimpin Indonesia yang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit bangsa dan negaranya adalah pemimpin yang meletakkan Allah sebagai audiens utamanya. Hanya itu kemungkinan yang terbuka untuk mendirikan kembali Pathok Negoro dan Patrap Nilai Kebangsaan”

Diam-diam Tarmihim, Sundusin dan semuanya berpikir, “Sebenarnya hampir setiap yang diomongkan oleh Cak Sot, kadarnya Sapu jagat semua. Pertemuan intensif dengan Cak Sot benar-benar harus diselenggarakan. Soal kepemimpinan nasional itu mutlak harus kita gali sedalam-dalamnya selengkap-lengkapnya”

Apalagi Cak Sot sempat menegaskan, “Kalau kalian mempertanyakan kenapa keputusan langkah-langkah hidup saya bertentangan dengan yang dilakukan oleh kebanyakan orang, maka jawabannya sangat sederhana: karena audiens hidup saya adalah Allah…”.

Tidak serta merta teman-teman itu bisa memahami secara utuh apa maksud Markesot.

“Saya melakukan apapun dalam hidup saya tidak untuk memenuhi pandangan orang banyak, masyarakat, bangsa dan ummat manusia terhadap saya. Saya harus menanggung ketidakpahaman mereka semua atas pilihan hidup saya. Saya melangkahkan kaki ke manapun dan menggerakkan tangan saya untuk apapun, tidak dengan mempertimbangkan khalayak ramai akan menyimpulkan saya orang sukses atau orang gagal, saya orang besar atau orang kecil, saya orang bermanfaat atau orang sia-sia, saya orang jaya atau hina, saya orang miskin atau kaya, saya orang normal atau gila. Ummat manusia semuanya, dengan segala kelompok dan pandangan hidupnya, dengan segala madzhab dan aliran ideologinya, dengan segala jenis kecenderungannya — bukanlah penonton saya. Mudah-mudahan jelas bagi kalian bahwa Allahlah audiens saya, Allahlah yang melihat dan mempersaksikan saya, Allahlah yang mengamati, meneliti dan menilai saya, Allahlah Hakim Agung kehidupan saya. Maka pembelajaran utama yang saya lakukan adalah terus-menerus mempelajari apa sebenarnya kriteria penilaian Allah atas perilaku dan keputusan-keputusan hidup saya”

Beratnyaaaaa, Cak Sot.

“Dan tidak bisakah kalian menarik garis ke soal kebobrokan Negara dan Bangsa kalian? Pemimpin Indonesia yang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit bangsa dan negaranya adalah pemimpin yang meletakkan Allah sebagai audiens utamanya. Hanya itu kemungkinan yang terbuka untuk mendirikan kembali Pathok Negoro dan Patrap Nilai Kebangsaan”

Teman-teman mulai agak paham.

Hanya saja yang dibutuhkan adalah rumusan-rumusan yang lebih sederhana dan aplikatif. Pembicaraan Cak Sot ini seperti hutan belantara yang berisi sangat banyak jenis pepohonan, tetanaman dan buah-buahan. Yang mendengarkannya harus telaten dan teliti untuk membelah rimba, menelusuri wilayah-wilayah yang sangat liar untuk menemukan bebuahan yang dibutuhkan. Mungkin lebih menolong dan memudahkan kalau Cak Sot menyusun pembicaraannya seperti kebun yang tertata dan jelas jalur-jalurnya, bukan belantara liar dan remang-remang.

“Saya merasa selalu gagal untuk menjelaskan kepada teman-teman”, lanjut Markesot, “bahwa keadaan ummat manusia, masyarakat dan Negara sangat tidak sederhana sebagaimana yang kebanyakan orang membayangkannya, sehingga menyangka kalau ada kerusakan-kerusakan mereka mengharapkan ada kiat yang sederhana, ada resep yang jelas dan padat. Jangan berpikir bahwa keadaan ini bisa diatasi seperti kita menyembuhkan masuk angin dengan sebotol kecil cairan obat, atau memasak sayur dengan racikan bahan-bahan yang sederhana, tertentu dan mudah dihitung. Perubahan zaman dan sejarah, apalagi di Negara yang sudah kehilangan Patok Negoro-nya, dengan rakyat yang sudah tidak memiliki patrap nilai, takaran perubahannya bukan melalui resep atau kiat, apalagi yang instan”

Tarmihim membatin, “Rasa-rasanya kok Cak Sot di bawah sadarnya tahu bahwa kita berpikir tentang Kuda-kuda Sapu jagat…”

“Coba kalian mundur beberapa langkah dulu ke diri kalian sendiri masing-masing. Kalau engkau melakukan ibadah, shalat di rumah atau berjamaah di masjid atau memberi pengajian di layar televisi dan corong radio, menginisiativi gerakan-gerakan moral dan kebaikan, membeber pekerjaan-pekerjaan yang penuh kemuliaan — siapakah sebenarnya yang paling engkau dambakan untuk mengetahui itu semua? Bahasa mendasar dan gamblangnya: siapa audiens hidupmu?”

“Ini bukan sekadar soal siapa audiens, pendengar, penonton, publik dan massa. Sebab tujuanmu sangat ikut menentukan karyamu. Ketentuan audiensmu sangat turut menyusun komposisi perbuatanmu, kualitas perilaku dan karyamu. Bikin lagu untuk kanak-kanak sangat berbeda segala-galanya dibanding lagu untuk kaum dewasa. Menjadi Presiden bangsa yang mudah ditipu sangat menentukan apa yang akan engkau katakan dan lakukan dibanding jika yang dipimpin adalah bangsa yang cerdas dan memiliki kewaspadaan intelektual, kultural, politis, syukur yang lebih luas dan kualitatif dari itu.”

“Atau yang lebih sederhana dan sehari-hari saja: engkau memilih pakaian itu untuk siapa? Engkau berdandan dan menaburkan wewangian untuk siapa? Engkau tinggal di rumah, keluar rumah, bekerja di kantor atau tempat lain, melakukan perjalanan, menjalani kegiatan-kegiatan, apapun saja, untuk siapa?”

“Siapakah audiensmu? Pasar apa dan mana yang kau rambah? Kau jualan apa dan membeli apa? Di mana itu semua engkau lakukan? Di lingkup dunia, atau di dalam lingkup yang lebih luas di mana dunia hanya menjadi bagian sangat kecil darinya? Sampai kapan engkau melakukan itu semua? Dengan hitungan jangka waktu selama hidupmu, atau sejauh umur dunia, atau sepanjang manusia ada, atau selama-lamanya? Apakah engkau sedang melakukan sesuatu dengan konsep kesementaraan atau keabadian?