Tadabburan Warga Kembangsri Ngoro Mojokerto 19 September 2016

Pastikan “Tidak” dulu Pada Anak-anak

Cak Nun berpesan agar para orangtua memastikan ‘tidak’ dulu pada anak-anak. Mereka dipastikan benar-benar tidak mau melakukan molimo.

“Yang barusan tadi ini cuma alat untuk menunjukkan bahwa ada formasi kepemimpinan yang mesra dan penuh cinta…,” terang Cak Nun merespons penampilan para pemuka masyarakat yang mau nembang dan kolaborasi dengan KiaiKanjeng. Bahkan Banser NU pun inisatif ikut maju membawakan nomor Ilir-ilir dan Tombo Ati.

Tadabburan Warga Kembangsri Ngoro Mojokerto
Tadabburan Warga Kembangsri Ngoro Mojokerto. Foto: Adin.

Begitulah salah satu suasana Tadabburan di Lapangan Kembangsri Ngoro Mojokerto yang diinisiasi yang diselenggarakan oleh pemerintah Desa dan didukung sepenuhnya oleh generasi muda Karang Taruna Harapan Jaya. Mereka ingin Cak Nun memberikan dorongan agar para anak-anak muda khususnya tetap mampu memiliki mental dan akhlak mulia yang tinggi di tengah perubahan zaman. Itu sebabnya, terkait pendidikan anak sejak dini, Cak Nun berpesan agar para orangtua memastikan ‘tidak’ dulu pada anak-anak. Mereka dipastikan benar-benar tidak mau atau moh-moh tenan melakukan molimo atau perbuatan yang dilarang Allah. Baru setelah itu, menyusul muatan-muatan nilai pendidikan lainnya.

Malam itu, masyarakat yang hadir mendapatkan cukup banyak ilmu dan pengalaman kebersamaan dalam bangunan keindahan yang diciptakan bersama. Bersamaan dengan itu mereka dikondisikan untuk menurunkan kadar apa yang semestinya bukan fokus utama dalam hidup. “Bah sampeyan NU ta Muhammadiyyah, sing penting Islam,” tegas Cak Nun dan langsung diafirmasi seluruh jamaah. Dari Islam, mereka diajak masuk ke Iman atau mukmin. Setiap orang hendaknya menjadi amirul mukminin bagi dirinya, bagi akalnya, bagi rohaninya, bagi kesehatannya, bagi rumahnya, dan lain-lain.

Bah sampeyan NU ta Muhammadiyyah, sing penting Islam
Bah sampeyan NU ta Muhammadiyyah, sing penting Islam. Foto: Adin.

Seperti pada Maiyahan bersama masyarakat luas di lapangan, alun-alun, atau tempat-tempat lain, sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Cak Nun dan KiaiKanjeng adalah pembangunan manusia dan pembangunan masyarakat, justru di tengah banyak pergerakan yang memecah-belah kesatuan masyarakat di bawah yang berujung pada hilang dan hancurnya martabat manusia Indonesia. Karena itu, sebelum merespons hal-hal aktual, malam itu secara spiritual Cak Nun lebih banyak untuk mendekatkan diri dan menghadapkan wajah kepada Allah Swt melalui serangkaian doa dan shalawat kepada Kanjeng Nabi.