Catatan Sinau Bareng Budaya Lingkungan Hidup, IAIN Surakarta 30 November 2016

Para Santri IAIN Surakarta Sinau Hadapi Masa Depan Indonesia yang Tak Menentu

Mudah-mudahan Allah memberikan ilmu buat anak-anak kita ini untuk menghadapi keadaan yang tak menentu yang mungkin akan berlangsung sampai 2024.

Usai Universitas Negeri Malang semalam, malam ini giliran IAIN Surakarta yang berlokasi di Kartasura mendapatkan “iya” dari Cak Nun dan KiaiKanjeng. Sinau Bareng malam ini adalah satu mata rantai di antara perjalanan panjang Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam menemani masyarakat.

Sementara ini, diharapkan bagi mahasiswa dan civitas akademika IAIN Surakarta Sinau Bareng ini menjadi satu milestone tersendiri yang melengkapi, memperkaya, atau memperdasar kembali ilmu pengetahuan yang selama ini digeluti. “Peranan Agama dalam Menjaga Budaya Lingkungan Hidup”, demikian tajuk tema yang dikaji. Dan bagi Cak Nun, bukan soal apa temanya, tetapi bagaimana cara kita memandang tema itu.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Para mahasiswa IAIN Surakarta yang hari-hari ini menggelar Festival Mahasiswa sudah memenuhi lapangan kampus yang cukup asri sebelum Cak Nun dan Rektor dan lain-lain menuju panggung. Mereka telah menampilkan sejumlah persembahan bagi sesama mahasiswa maupun jamaah umum yang hadir. Ada shalawatan, qashidah, tari saman, dan lain-lainnya. Terasa sekali bahwa iklim di sini sangat kental dengan kesantrian, sebagaimana di IAIN di berbagai kabupaten yang pernah Cak Nun dan KiaiKanjeng datangi seperti IAIN Pekalongan dan Kudus. Lantunan al-Quran, shalawat, dan adzan terdengar indah.

Lapangan yang berada di tengah kompleks gedung-gedung kampus memasuki pukul 20.00 sudah dipadati oleh ribuan mahasiswa, para generasi muda, sangat banyak di antara mereka yang perempuan. Mereka semua menanti dan antusias menunggu Cak Nun datang. Mereka akan belajar mengikuti sinau ‘cara pandang’ atas banyak hal yang selama ini mengkarakteri ilmu-ilmu Cak Nun. Di antara di awal yang Cak Nun ajak kepada mereka adalah melantunkan bersama doa khotmil Quran. “Khotmil Quran itu formalnya adalah khatam membaca mushaf al-Quran. Tetapi karena ayat-ayat Allah tak hanya literer, melainkan juga ayat berupa alam dan diri manusia, maka khataman atau khotmil Quran bisa lebih luas makna dan wujudnya. Ada khataman simbolik, ada khatama esensial. Meskipun Anda belum lulus kuliah, sangat mungkin Anda sudah khataman sesuatu yang sifatnya bisa harian,” terang Cak Nun menyuguhkan sebuah cara pandang.

Cak Nun naik ke panggung ditemani Pak Rektor dan para Wakilnya, beberapa pentolan lembaga mahasiswa, Kiai Muzammil, dan beberapa yang lain. Sebelum mempersilakan Pak Rektor dan lain-lain mbeber kloso ilmu, Cak Nun mengajak semua hadirin untuk membaca Ya Ayyatuhan nafsul muthmainnah irji’i ila robbiki rodhiyatan mardhiyyah, doa khotmil Quran tadi, serta kemudian Cak Nun mendoakan generasi muda ini, “Mudah-mudahan Allah memberikan ilmu buat anak-anak kita ini untuk menghadapi keadaan yang tidak menentu yang mungkin akan berlangsung sampai 2024, syukur dianugerahi ilmu juga untuk menghadapi 20 tahun lagi sesudah 2024.”

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Saat berjalan dari ruang rektor tempat Cak Nun beramah tamah dengan pimpinan IAIN Surakarta ini sebelum acara, para mahasiswa atau generasi muda ini bergegas menyambut menyalami Cak Nun. Mereka lakukan itu dengan rasa kedekatan seorang anak kepada ayahnya, kendatipun jarak usia mereka dengan Cak Nun sangatlah jauh. Dan demikianlah, ketika Cak Nun berbicara kepada mereka fungsi sebagai ayah sangat kuat. Mereka mendapatkan bimbingan, panduan, kasih sayang yang menggembirakan, dan ilmu yang membekali. Hal yang hampir saban hari Cak Nun kerjakan di mana-mana. (hm/adn)