Daur (79)

Para Filosof di Rongsokan Gerbong

Menjelang tengah malam Markesot berhenti di sebuah stasiun dan kelihatannya akan bermalam di situ.

Di sejumlah stasiun kereta api ada gerbong-gerbong lama yang terbengkalai. Dipakai sudah tidak layak, dibuang tidak ada tong sampah yang cukup untuk memuat gerbong kereta. Gerbong rongsok itu oleh sejumlah orang yang mengerti ilmu hidup biasanya dijadikan bermanfaat. Misalnya untuk tempat tinggal, untuk sementara waktu atau seterusnya kalau mungkin.

Di dalam gerbong sampah itu mereka berteduh dari panas dan hujan. Untuk tidur jika malam. Atau untuk ngrumpi sesekali dengan sesama handai taulannya untuk saling mengungkapkan filosofi-filosofi kehidupan, kebijaksanaan, kesabaran dan ketabahan.

Di antara para filosof itu ada yang bujangan, ada yang bersama keluarganya. Tujuan mereka berkomunitas di dalam gerbong rongsok itu antara lain untuk menjaga jangan sampai ada barang atau sesuatu yang tidak bermanfaat. Secara khusus mereka juga melaksanakan suatu wisdom, misalnya, melatih dengan lelaku total untuk ikhlas tidur di tempat yang semua manusia tidak mau tidur padanya.

Mereka juga memakan makanan yang bisa dikatakan semua orang tak ada yang mau memakannya, dan itulah sebabnya mereka membuangnya karena dipahami sebagai sisa-sisa makanan. Mereka pun memakai pakaian yang hampir bisa dipastikan semua orang tak mau memakainya. Demikian pula dalam hal-hal lainnya.

***

Komunitas filosof itu merasa kasihan kepada kebanyakan orang yang hidupnya sangat ringkih dan penuh ketergantungan. Hampir semua orang harus makan makanan sehat agar tidak sakit, sementara para filosof itu hampir tidak pernah sakit meskipun memakan makanan yang dibuang orang ke tong-tong sampah, yang sudah tidak segar, sudah basi dan sama sekali tidak enak rasanya.

Para filosof heran kenapa orang baru bisa makan kalau makanannya enak dan segar. Kenapa penduduk bumi baru memakai pakaian kalau pakaiannya bagus, bersih, halus dan necis. Kenapa makhluk di dunia ini baru bisa tenang hatinya kalau sudah punya rumah sendiri, ruangan tertutup sendiri, ranjang tidur sendiri, kamar mandi sendiri. Kalau mereka masih menyewa, mereka merasa belum sukses hidupnya, bahkan merasa belum ‘jadi orang’.

Komunitas filosof itu tidak bisa memahami kenapa untuk menjadi orang, makhluk-makhluk Tuhan mempersyaratkan bahan-bahannya adalah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, bahkan kekayaan dan kemegahan. Padahal semua itu tidak terlalu ada kaitannya dengan orang.

Bahkan kabarnya dalam rangka memperjuangkan diri menjadi orang, para penghuni bumi ini merasa penting untuk menyakiti orang, membohongi orang, menganiaya orang, menindas orang, mencuri milik orang, menyingkirkan orang, sampai-sampai juga rela menyelenggarakan peperangan di antara sesama orang, membunuh berjuta-juta orang, dan semua itu tujuannya adalah agar menjadi orang.

***

Demikianlah di dalam gerbong-gerbong buangan orang itu para filosof biasanya melepas lelah di bawah atap gerbong itu sesudah mencari sisa-sisa makanan sekitar restoran, mal, supermarket, atau rumah orang-orang kaya.

Terus terang, kehidupan di gerbong-gerbong semacam itu adalah bagian sangat penting dari kehidupan Markesot berpuluh-puluh tahun. Tapi tidak perlu lantas berpikir atau apalagi menuduh sesungguhnya Markesot adalah seorang gelandangan. Apalagi hanyalah seorang gelandang.

Orang hidup mungkin cuma sekali, dan sangat pendek waktunya, sehingga tidak perlu diluangkan untuk mendengar jawaban Markesot terhadap tuduhan bahwa ia gelandangan:

“Memang cita-cita saya adalah menjadi gelandangan. Kalian keberatan? Dan karena keberatan itu maka kalian selalu mengganggu-ganggu saya, menanyakan ini-itu tak ada habisnya, minta tolong sana-sini tak ada ujungnya, tak ada batas jenis urusannya, tak ada kemenentuan ragam urusannya? Sehingga saya selalu harus mengalah, tidak pernah benar-benar punya waktu untuk menikmati cita-cita saya”

Pastilah pandangan masyarakat umum sukar meletakkan pola pikir hidup Markesot itu dalam peta nilai yang mereka pakai secara umum sehari-hari. Dalam konsep sosial, filsafat kebudayaan atau tata nilai peradaban apapun sejak Nabi Adam hingga sekarang, tidak pernah ada fenomena bahwa seorang manusia hidup di bumi bercita-cita menjadi gelandangan.

Cita-cita itu ya menjadi Kepala Gudang, sopir bis, teknisi mesin kapal, kasir Bank, semacam-semacam itu. Atau agak meningkat sedikit: jadi Camat, insinyur, dokter, ustadz, dukun, tabib, yang begitu-begitu. Atau minimal bercita-cita ingin menjadi Presiden, Menteri, Ketua Parlemen, Raja atau Ratu, orang terkaya se-Negara, syukur sedunia.

***

Bercita-cita itu yang agak pantaslah. Cita-cita kok jadi gelandangan. Mestinya gantungkan cita-citamu setinggi langit, ini Markesot kok malah bercita-cita menjadi gelandangan, tidur di gerbong-gerbong rongsokan.

Tapi bagi siapa saja yang sedikit mengenal latar belakang riwayat Markesot, hal itu agak sedikit bisa dipahami. Kira-kira yang dijadikan model oleh Markesot bab gelandangan itu kalau tidak Mbah Dul ya Gus Rur. Mereka berdua ini memang gelandangan kaliber besar.

Mbah Dul ini orang cukup kaya, putra-putrinya beres sekolah dan gambaran masa depannya. Ketika anak-anaknya sudah berkeluarga semua dan mapan hidupnya, Mbah Dul menjual rumahnya, kemudian dibelikan tanah dan ia dirikan Masjid. Setelah Masjid berdiri, beres kepengurusannya, Mbah Dul menghilang jadi gelandangan.

Benar-benar gelandangan. Benar-benar tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit. Kumuh. Kotor. Tidak pernah mandi. Jalan kaki terus siang malam entah ke mana saja. Kalau malam cari tempat di pojok luar pasar atau sudut bangunan untuk menggeletak.

Makan minum cari di tempat sampah atau buangan makanan lainnya. Tidak pernah minta-minta atau mengemis, kecuali sesekali kepada orang yang ia pilih dengan pertimbangan yang ia sendiri yang tahu. Awal-awalnya kepalanya dikerudungi, mungkin khawatir dikenal orang. Tapi lama-lama kerudung ia lepas, karena toh wajahnya sudah menghitam, rambutnya gimbal dan seluruh penampilannya sudah bukan orang lagi.

Kalau melihat hidupnya, sukar membayangkan Mbah Dul pernah melakukan shalat. Sayang seribu kali sayang di masa hidup Mbah Dul belum ada gerakan Takfiry, arus golongan orang beragama yang tugasnya khusus menjadi Dewan Juri iman orang lain, memberi semacam sertifikat bahwa orang itu kafir, musyrik, sesat, diadzab Tuhan dan masuk neraka.

Andaikan ketika itu sudah ada arus global Takfiry, insyaallah ramainya kebencian dan pertengkaran di antara Kaum Muslimin bisa dimulai sejak dulu, tidak perlu menunggu lama sampai era saat ini.

Memang semua itu indah dan menggiurkan. Tidak heran kalau Markesot terpesona untuk mengikuti jejak Mbah Dul.

Tapi mengikuti jejak yang mana? Berkeluarga dan mencukupi putra-putrinya sampai mapan berkeluarga? Tidak. Membangun Masjid? Tidak. Yang ditiru Markesot hanya gelandangannya.

***

Gus Rur? Beliau ini punya Pesantren. Menata segala sesuatunya, menyiapkan bangunan-bangunan untuk mengaji dan tempat tinggal para santri. Ustadz-ustadznya pun disiapkan infrastruktur penghidupannya.

Pembagian tugas dan manajemen pembelajaran sudah diatur sedemikian rupa, sehingga Gus Rur merasa aman, kemudian menghilang, pergi jalan kaki tanpa membawa tas atau bekal apapun. Hanya pakaian yang dipakainya. Selebihnya, berideologi seperti ayam kampung, kucing liar atau burung-burung yang merdeka.

Lha Markesot nggelandang tapi Pesantrennya mana?