Catatan Sinau Bareng Pameran Kaligrafi Nusantara, 28 September 2016

Pameran yang Lain Sama Sekali

Selama ini pameran lukisan atau senirupa berlangsung dengan tradisi kota, ekslusif, intelektual, hanya sekalangan seniman, dan jauh dari masyarakat.

Selama ini pameran lukisan atau senirupa berlangsung dengan tradisi kota, ekslusif, intelektual, hanya sekalangan seniman, dan jauh dari masyarakat. Datang ke pameran, dibuka secara resmi, nonton lukisan, lalu pulang, dan tak ada interaksi kedalaman yang berlangsung. Tetapi pembukaan Pameran Kaligrafi Nusantara ini beda dan lain daripada yang lain. Masyarakat terlibat dan mendukung. Ada diskusi dan tanya-jawab. Berlangsung di pinggir jalan raya. Bukan hanya orang-orang yang bersedia duduk lesehan untuk berdiskusi dan mengapresiasi, bahkan para seniman-seniman lain tetap memilih bertahan untuk mengikuti sampai selesai rangkaian pembukaan.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Tak salah kiranya Langit Art Space menghadirkan Cak Nun dan KiaiKanjeng, sehingga suasana pembukaan pameran ini menjelma lain sama sekali. Segala sesuatunya berbeda. Rasanya beda. Jauh dari nuansa yang selama ini dibangun dan ditradisikan oleh kebakuan ilmu dan kuratorial seni modern Barat. Ini mungkin lebih pas atau lebih dekat dengan sesuatu yang boleh jadi bisa disebut otentik manusia Indonesia. Egaliter, alamiah, merdeka, dan tetap menjalankan nikmat kebersamaan. Sentuhan-sentuhan Cak Nun dan KiaiKanjeng pada pameran ini menyodorkan sesuatu yang berbeda. Belum lagi, tusukan-tusukan logika Cak Nun, “Senirupa tak cuma milik seniman, pelukis, atau kolektor. Kamu sendiri ada di situ…,” tegas Cak Nun mendobrak keterpisahan senirupa dengan jiwa manusia pada umumnya yang diakibatkan oleh elitisasi seni melalui pendidikan dan tradisi seni modern. (hm/adn)