Catatan Sinau Bareng Jogja Gumregah, Yogyakarta 4 Oktober 2016

Pak Nevi dan Masa Kecilnya di Kampung Muhammadiyyah

Setiap malam Selasa, Pak AR menggelar pengajian di Pawiyatan dekat Masjid Gede Kauman. Yang datang sangat banyak. Orang-orang Muhammadiyyah se-DIY.

Gapura di dekat panggung KiaiKanjeng malam ini bertuliskan Warungboto Kampung Muhammadiyyah. Sebagaimana Kauman, Suronatan, Notoprajan, Karangkajen, Puro Pakualaman, dan lain-lain, kampung Warungboto memang adalah kantong Muhammadiyyah.

Sembari menikmati hidangan makan malam dan menunggu hujan yang turun deras, Pak Nevi Budianto bercerita tentang kehidupan Yogyakarta pada masa tahun 67 hingga 70-an. Sepenggal potret tentang sejarah Muhammadiyah, Cak Nun, dan Pak Nevi sendiri. Kedua orangtua Pak Nevi adalah orang-orang yang aktif sebagai pengurus Muhammadiyyah. Ayahnya bernama R. Supardi Atmosuseno aktif di bagian Pendidikan Muhammadiyyah, dan Ibu, Siti Zaibiyah adalah ketua ‘Aisiyyah Suronatan. Ayah Pak Nevi ikut meresmikan beberapa sekolah Muhammdiyyah, seperti SD Muhammadiyyah Notoprajan dan Ngampilan.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

“Terkait dengan Cak Nun, orang-orang Muhammadiyyah seusia saya ke atas mestinya kenal Cak Nun, karena waktu remaja Cak Nun sudah aktif di Muhammadiyyah. Di majalah Kuntum, sejak awal sudah ada kolom khusus bernama “Apa Kata Emha”,” tutur Pak Nevi, dan melanjutkan, “Saat itu saya belum kenal secara pergaulan, tapi Cak Nun sudah sering datang ke kampung Notoprajan.

Pak Nevi lalu menceritakan bahwa ayahnya termasuk jamaahnya Pak AR Fahruddin, ulama dan ketua Muhammadiyyah yang masyhur sebagai muballigh yang dekat dengan masyarakat. “Setiap malam Selasa, Pak AR menggelar pengajian di Pawiyatan dekat Masjid Gede Kauman. Yang datang sangat banyak. Orang-orang Muhammadiyyah se-DIY. Tak hanya dari kota, tetapi dari Kulonprogo, Bantul, dan lain-lain, dan semuanya naik sepeda, karena belum banyak motor pada waktu itu. Walaupun tidak memakai musik, tetapi pengajiannya mirip Cak Nun, yaitu ada dialog interaktif dengan peserta, dan Pak AR merespons dengan bagus dan hidup, dan satu hal Pak AR juga piawai menyampaikan humor.”

Perkembangan Muhammadiyyah di Yogyakarta, di tempat kelahirannya, ditopang oleh para pengusaha, terutama pengusaha Batik. Mertua Pak Nevi juga pengusaha batik. Sedangkan pengusaha dan desainer batik yang terkenal adalah Haji Bilal. Kata Pak Nevi, batik zaman dahulu bukan untuk pakaian, melainkan pusaka. Hanya dipakai pada momen sangat khusus, itu pun bukan baju atau atasan melainkan bebet. Karena berharganya batik sebagai pusaka, maka kain tersebut punya nilai untuk bisa digadaikan di pegadaian. Pegadaian punya lemari khusus untuk batik.

Demikian hidupnya usaha batik, sehingga di tiap-tiap Kecamatan terdapat Koperasi Batik. Ada koperasi batik Tamtama di kecamatan Mergangsan, Senopati di wilayah keraton, Karangtunggal di Kecamatan Karangkajen, dan Tamtama di wilayah jogja barat. Setahun sekali mereka mengadakan kegiatan sosial, seperti khitanan massal. “Nah saya ikut khitanan massal itu. Dinaikkan andong, dapat amplop, dan lain-lain,” kenang Pak Nevi, dan masih meneruskan banyak ceritanya tentang kehidupan masa itu termasuk orang Indonesia kala itu, ketika belum ada listrik, masih lampu teplok, masih radio dan tak banyak yang punya, itu pun ada yang namanya iuran radio, dan lain-lain. (hm/adn)