Pak Is Gelap Terbitlah Terang

Habis Gelap Terbitlah Terang. Seketika wangsit itu muncul dan meluncurlah sebuah plesetan dari mulut pak guru, “Pak Is Gelap Terbitlah Terang.

Terdengar suara pramugari mengumumkan bahwa beberapa saat lagi pesawat akan mendarat. Agar seluruh penumpang memasang kembali sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi, dan membuka penutup jendela. Sebuah pengumuman standar di setiap penerbangan.

Sebelumnya, sebelum pesawat lepas landas dari Lanud Adi Sucipto Yogyakarta, pramugari memberikan panduan khusus kepada kami. Kebetulan rombongan Cak Nun, KiaiKanjeng dan Progress dalam penerbangan kali ini berada di tempat duduk pada deretan 17 hingga 21. Dan di antara deretan tersebut berada dua pintu darurat masing-masing di samping kanan dan kiri. Maka pramugari, seperti biasa, menyampaikan prosedur membuka pintu darurat bila terjadi situasi yang membutuhkan pendaratan darurat.

Kiai Muzammil yang duduk di samping saya, memberikan perhatian khusus kepada pramugari. Tepatnya cara pramugari menyampaikan informasi penting tersebut. “Tadi saya disuruh baca buku panduan, ya saya ethok-ethok (pura-pura) baca saja. Wong dia menyampaikannya seperti robot, hanya formalitas. Tidak ada sentuhan humanitas. Disapa secara wajar dulu mestinya. Dari nadanya saja jelas sekali nada bicara yang diseragamkan, seperti robot, tidak natural.” Begitu analisa Kyai Muzammil kepada saya.

Peristiwa sapaan hampa seperti ini banyak juga dijumpai di mini market waralaba yang tersebar di kota-kota besar. Asalkan ada pembeli membuka pintu dan masuk, tanpa melihat yang masuk, otomatis kasir menyapa seperti robot, “Selamat datang di mini market.” Bahkan sering tanpa memandang yang masuk. Begitulah gambaran industri yang semakin mengikis sisi kemanusiaan manusia.

Setelah tadi sang pramugari selesai menginformasikan prosedur tersebut, Ki Juru Hina di KiaiKanjeng yang tugasnya nuthuk bonang nyeletuk, “Seharusnya gini enggak hanya diinformasikan, tapi dicoba juga. Nanti kalo pas darurat enggak bisa dibuka piye?” Pertanyaan celetukan lucu tapi wajar. Bahwa peristiwa gagal buka bisa saja terjadi. Sayangnya pramugari tidak merespon pertanyaan tersebut.

***

Sebenarnya yang ingin diceritakan di sini adalah hal-hal yang menyangkut peristiwa celetukan. Lebih tepatnya plesetan. Dan pembaca tentunya mafhum siapa rajanya plesetan di KiaiKanjeng jika bukan pimpinannya sendiri. Sang Kanjeng Kiai Nevi Budianto.

Plesetan demi plesetan sudah banyak meluncur deras dari mulutnya. Rasanya mulut gatal jika tidak ada kata yang diplesetkan. Dan wahyu untuk memplesetkan bisa muncul kapan saja. Tidak bisa dipaksa juga. Bisa di waktu dan tempat yang tidak tepat. Seperti yang pernah diceritakan sebelumnya, Kanjeng Kiai telah mendapat ganjaran akibat memplesetkan Miqot menjadi Mi Kocok saat umroh di Baitullah.

Tahun 2003, saat CNKK berkesempatan rihlah ke Mesir, di depan pengecekan imigrasi bandara, petugas imigrasi mengkonfirmasi data-data yang ditulis di formulir imigrasi. Hingga tiba pada pertanyaan, “Where is your residence?” Sang Kanjeng Kiai sangat paham atas pertanyaan itu. Tapi sebelum menjawabnya dengan benar, mulutnya gatal ingin memplesetkan sehingga nyeletuklah ia, “Residence Suharto.” Presiden pun ia plesetkan menjadi residence.

Dua kata itu memang sangat dekat secara bunyi walau berbeda bahasa. Jika dikumpulkan, puluhan bahkan mungkin ratusan kata telah ia plesetkan. Dan sedang diinventarisir hingga mungkin bisa menjadi Kamus Plesetan.

Nama personel KiaiKanjeng pun jadi ‘korban’ plesetannya. Pak Ervan, operator senior sound KiaiKanjeng, diplesetkan dalam lirik lagunya Iwan Fals, Umar Bakri: “Pak Ervan dari kulit buaya.” Mas Gianto, ia plesetkan menjadi “Giantoli” dari frase “Ganti Oli”. Kemudian giliran adiknya mas Gianto, yakni mas Sariyanto. Pak Bobiet biasa memanggil mas Sariyanto dengan “Dek Sar” dan terdengar oleh Master Plesetan lalu masuk dalam lirik lagu anak-anak, “Dek Sar ku yang kucinta”. Maksudnya “Desaku yang kucinta”.

Masih banyak lagi nama-nama yang diplesetkannya. Memang belum semua personel KiaiKanjeng diplesetkan. Tinggal menunggu giliran saja. Tergantung timing dan wangsit yang muncul.

Dalam perjalanan ke Jazirah Mandar kali ini, sungguh beruntung kami mendengar lagi tambahan kosa kata plesetan baru. Kali ini yang ketiban pulung namanya diplesetkan adalah Ki Demang Beringharjo, sang peniup seruling.

Di dalam pesawat, setelah pramugari mengumumkan akan segera mendarat, sejurus kemudian lampu kabin dipadamkan dan suasana menjadi gelap. Terasa roda pesawat dikeluarkan dan perlahan gerakan pesawat semakin turun hingga akhirnya roda menyentuh landasan pacu Sultan Hasanuddin International Airport di Makassar. Perlahan pesawat bergerak memperlambat jalannya menyusuri runway menuju apron, tempat pesawat akan parkir. Akhirnya pesawat berhenti dan lampu dihidupkan kembali.

Bulan ini adalah bulan Ibu Kita Kartini lahir. Dan baru beberapa hari lalu kita memperingati hari lahirnya. Sebagai seorang guru SMP, Kanjeng Kiai kita tentu masih terngiang suasana peringatan itu di sekolahnya. Kartini menginspirasi kita melalui surat-surat korespondensinya yang dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Maka seketika saat lampu menyala, wangsit itu muncul dan meluncurlah sebuah plesetan dari mulut pak guru, “Pak Is Gelap Terbitlah Terang.”