26 September 2007

Paguyuban Ahli Sorga

Tokoh-tokoh suatu organisasi mahasiswa Islam se-Indonesia berkumpul, saya disuruh bicara tentang tema yang sama sekali tidak saya kuasai: “Ancaman Neo-Liberalisme atas Nasionalisme Indonesia”. Proposal mereka penuh kengerian, trauma, rasa terancam, tapi juga sikap keras untuk mempertahankan diri. Kata-kata besar bertaburan: globalisasi, privatisasi, The Empire Conspiracy, Illuminati, Pencaplokan Total 2030, pengikisan cara berpikir, penguasaan tata kelola, penghapusan patriotisme, pensirnaan nilai-nilai keluarga, pelenyapan Agama dan mengubah konsep penyembahan Tuhan dengan penyembahan ratio, pasar bebas, Yahudi Internasional, demokrasi sebagai Agama final.

Mengurung melindas mengaduk-aduk mengendalikan secara total rakyat di segala lapisan kehidupan melalui sekolah, sikap keterbukaan dan penuh empati, pertunjukan, ketenaran, serta toleransi kepada setiap prasangka. Menyampaikan pandangan melalui fashion pada setiap bentuk kesenian dan slogan-slogan kemanusiaan. Mengarahkan kebijakan pendidikan, manajemen keagamaan. Kembangkan pengaruh sebesar-besarnya di akademi militer, universitas, percetakan, penerbit buku, toko, dan kantor yang mempunyai efek terhadap pembentukan pola pikir setiap orang.

Sungguh-sungguh saya tidak mengerti per-kata maupun keterkaitan atara sekian ratus kata yang bertaburan. Lebih sulit lagi otak saya menggambar ketika dalam termin tanya jawab disebut-sebut Utan Kayu, Freedom Institute, Islam Liberal. Semua digambarkan bagai setan dajjal iblis demit druhun dimemonon lengeng…. Ini benar-benar forum tidak fair: saya bukan akademikus, bukan ilmuwan, bukan politisi, bukan birokrat, tidak beralamat di gedung-gedung modal besar, bukan peneliti, bukan aktivis NGO, bukan pakar, bukan ahli apapun, bukan satu di antara sejumlah pelaku utama sejarah suatu bangsa, Negara atau masyarakat dunia.

Saya juga tidak kenal sama dajjal, iblis atau Jin Ifrith. Dengan Malaikat pun jauh. Nabi dan Rasul nun jauh tak terjangkau oleh mata pandang saya. Para Ulama dari lima benua tak satu pun melirik seperempat mata kepada saya. Ustadz, Kiai, Syekh, Maulana, tak menemukan saya di kampungnya. Para Wali, Auliya, apalagi. Tak ada sekolah, madrasah atau universitas yang saya masuki yang kemudian tidak melemparkan saya keluar darinya. Lantas saya disuruh bicara soal neo-liberalisme? Pasti iseng, mengejek, atau salah alamat: saya mungkin disangka Cak Nur, Prof.Dr. Nurkholis Madjid. Bangsa Indonesia tak punya waktu membedakan ‘n’ dengan ‘r’. Di airport Makassar saya disapa orang: “Cak Nur ya?”, sambil kami sama-sama memasuki pesawat. Setelah ia meletakkan barang di kabin, menoleh lagi ke arah saya dan mengulang pertanyaan: “Cak Nur kan? Cak Emha Nurkhalis Madjid kan?”

Banyak sekali orang yang mengecewakan saya di muka bumi ini, terkadang membuat saya geram atau marah, karena ngawurnya, prasangkanya, atau fitnahnya. Tetapi itu semua selama hampir 60 tahun usia saya tidak pernah melahirkan kebencian dan permusuhan di dalam diri saya. Maka forum neoliberalisme yang sejak awal sangat diatmosfiri oleh kebencian dan permusuhan itu mendorong saya untuk tertawa-tawa sebanyak mungkin, mengungkapkan hal-hal yang membuat mereka semua tertawa, tersenyum, mengkeringatkan kesegaran dari dalam diri mereka, kemudian nanti ketika acara berakhir dan kami berpisah — ada yang terendapkan dalam diri, yakni semacam kenikmatan rasa cinta sebagaimana yang kita rasakan ketika kanak-kanak, meskipun sedemikian kecilnya dan tersembunyi.

Kenikmatan cinta kecil-kecilan itulah yang selalu dibawa oleh siapapun yang hadir di forum bulanan saya di Jombang, Surabaya, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Malang, yang tentatif di Bandung dan Sulsel-Sulbar, Hongkong dan Malaysia, atau yang tergantung perjanjian di berbagai tempat di belahan-belahan dunia. Orang dari Agama apapun, suku apapun, parpol apapun, golongan dan aliran apapun, strata dan segmen apapun, forum kami seratus persen terbuka. Bahkan saya mengutamakan teman-teman yang tak seagama, tak sebangsa, tak segolongan, untuk saya mohon naik ke panggung. Cinta kanak-kanak itulah yang membuat forum kami berlangsung tanpa lelah, benar-benar tanpa lelah, antara 7-8 jam: pukul 8 malam hingga 3-4 pagi. Mungkin karena Malaikat dan Iblis juga hadir, berbagai jenis hantu, juga pencopet, pun nimbrung bersama-sama.

Kebanyakan orang kurang menyadari kekuatannya dan lebih asyik dengan kelemahannya. Kalau masuk kandang kambing, terpengaruh jadi kambing. Ketemu lembu, jadi bau lembu. Ada teman berkokok, dituduh ayam, padahal cuma sedang latihan vocal. Kebanyakan orang gampang masuk angin, sehingga tidak berani bergaul plural, tidak siap berbeda, bahkan kehilangan cinta dan rasionalitas ketika menemukan perbedaan. Mudah sekali mengidentifikasi sesuatu sebagi musuhnya. Kalau musuh lemah, ia sombong. Kalau musuh kuat, mengeluh dan ketakutan. Padahal musuh-musuh utama kemanusiaan tidak perlu dimusuhi untuk hancur: mereka akan hancur oleh dirinya sendiri. Persoalanmu cuma satu: jangan menjadi bagian dari yang kau sadari sebagai musuhmu itu, dengan segala system dan tentakelnya. Jadilah bagian dari indenpendensimu sendiri, dalam kepribadian, dalam budaya, politik, keuangan, mentalitas dan apapun.

Ya. Engkau hidup di tengah pusaran global neo-liberalisme, pun neo-konservatisme, Islam Liberal, Islam Sensual, atau segala macam nomenklatuur dan terminologi, yang berputar melingkar, zigzag-spiral-siklikal, dan membuat semua itu sesungguhnya tak bermakna apa-apa di hadapan kemerdekaan dirimu. Hanya ada satu syarat dan ‘sahabat’ yang kau perlukan, namun tak bisa kusebut di tulisan ini.

Apakah engkau anggota Paguyuban Ahli Sorga yang kaget terus menerus oleh kenyataan dunia? Padahal esok hari akan jauh lebih mengagetkan lagi. Apakah kau pikir hidup adalah terhampar alam semesta, kemudian ada Tuhan bermusuhan dengan Iblis dan Dajjal? Tidak begitu. Iblis dan Dajjal juga ciptaan Tuhan.