Pabrik Gula Di Negara Tak Kunjung Amin

Pada rentang April - Mei, pabrik gula telah selesai masa tanam tebu sekaligus berarti datangnya masa produksi, masa buka giling.

Bulan April-Mei adalah bulan penting bagi pabrik-pabrik gula, karena pada rentang kedua bulan itu telah selesai masa tanam tebu sekaligus berarti datangnya masa produksi, masa buka giling. Pabrik-pabrik itu mulai berproduksi. Mesinnya bekerja kembali.

Biasanya menandai buka giling ditandai dengan berbagai kegiatan, ritual, dan berbagai macam hiburan yang hampir semuanya bersifat tradisional dan atau populer. Berbeda secara nilai dan muatan dengan kebiasaan itu, pagi ini dalam rangka buka gilingnya, Pabrik Gula Gempolkrep Mojokerto mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng.

20160511-gempolkrep-01

Dua puluh menit bergerak dari Menturo Jombang selepas nyambangi Akhirus Sanah SMK Global, Cak Nun sudah tiba di depan gedung PG yang berada di lingkungan PTPN X. Di atas gedung itu tertera angka 1912, menandakan tahun dan telah tuanya gedung ini dibangun di masa kolonial Belanda. Sementara itu KiaiKanjeng sudah sampai lebih dulu di lokasi untuk keperluan persiapan. Acara yang bersifat internal dan diperuntukkan bagi para karyawan dan sejumlah lapisan undangan, dari para petani tebu hingga muspida Mojokerto.

Di dalam lokasi acara yang sudah dimulai, para hadirin tampak mengenakan busana batik-batik mengenakan sepatu, para ibu-ibu juga memakai pakaian semi formil sebagaimana mereka menghadiri acara-acara kantor, juga beberapa perwakilan petani tebu. Sebelum acara, sudah digelar prosesi pasangan manten tebu. Cak Nun masuk ke ruangan pada saat General Manager Ir. HB. Koes Darmawanto, MM, sedang menyampaikan paparan, yang hampir keseluruhannya mengingatkan segenap karyawan dan jajaran direksi akan tantangan yang dihadapi PG di era kekinian atau di era online. Sejumlah gagasan pembaharuan dan praktik baru manajemen hulu hilir tebu berbasis online diuraikannya. Kebaruan dan perubahan adalah keniscayaan, sehingga siapa yang tak siap akan tertinggal di belakang.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

KiaiKanjeng membuka persembahan kali ini dengan nomor Pambuko yang disusul dengan shalawat An-Nabi Shollu ‘alaih. Saat bilahan-bilahan besi gamelan itu berbunyi nyaring pada nomorPambuko itu, seseorang di tengah hadirin berkata memberi tahu kepada teman sebelahnya, “Itu andalannya.” Orang ini yang mungkin sudah sering menyimak KiaiKanjeng boleh jadi hendak mengatakan inilah nomor di mana sangat terasa kekuatan magis gamelan KiaiKanjeng dan biasanya dihentakkan di awal ketika KiaiKanjeng memulai persembahannya.

Di panggung sisi kanan, sudah disiapkan mimbar buat Cak Nun menyampaikan uraian atau pemaparan. Lepas nomor An-Nabi Shollu ‘Alaih, yang bermuatan mendoakan agar Allah berkenan menurunkan berkah-Nya, Cak Nun segera naik ke mimbar. Pelan-pelan Beliau merespons apa-apa yang disimak sebelumnya. Cak Nun menyentil dengan penuh canda yel-yel yang sangat keras diteriakkan tadi, “Ibarat membangunkan orang tidur, makin seru dan keras teriakan, berarti orangnya sangat pulas tidurnya. Nah ini tadi yel-yel semangat atau mencerminkan masih tidur? Saya tidak pernah seperti itu. Dalam kondisi apapun saya selalu semangat, sebab kebutuhan saya bagaimana supaya Allah tidak memarahi saya. Kalau saya malas dan tidak semangat, Allah akan marah.”

Para audiens mulai berbeda ekspresi. Mulai nyambung dengan apa-apa yang ada di depan atau di panggung. Dengan cara melingkar, dengan santai tapi serius, poin-poin disampaikan oleh Cak Nun. Disisipkan bahwa yang terjadi dengan demokrasi saat ini adalah “Anda dipilihkan, bukan benar-benar punya hak memilih, kalau memilih ya harus benar-benar dari hati.” Dalam konteks itu pula, Cak Nun berharap agar PG Gempolkrep ini tidak terkena masalah apa-apa dari policy atas atau pemerintah pusat.

Para petinggi PG Gempolkrep, jajaran PTPN X, Wakil Bupati Mojokerto, dan jajaran Muspida yang duduk di kursi paling depan sangat serius menyimak wawasan dari Cak Nun terkait bagaimana memahami PG atau BUMN dalam konstelasi politik policy nasional dan internasional. Sesuatu yang justru belum muncul dalam sambutan-sambutan sebelumnya. Alhasil, apa yang disampaikan Cak Nun memberikan bingkai, frame, atau sudut pandang lebih makro agar mereka memiliki kewaspadaan yang lebih berlipat.

20160511-gempolkrep-03

Sementara itu, dari barisan tengah dan belakang, sangat sering terdengar sahutan “nggih, nggih, nggih” manakala mereka menemukan hal-hal yang dirasa benar pada pemetaan dan penjelasan Cak Nun. Misalnya, saat Cak Nun dengan menggunakan logika filsafat Pancasila sebagaimana pada beberapa Maiyahan dikemukakannya, menggambarkan tentang tebu sebagai lambang kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ketidaktercapaian tebu untuk masyarakat dan untuk semua berarti ada yang belum tepat pada pelaksanaan sila-sila atau tahap-tahap sebelumnya. Karenanya, Cak Nun meminta seluruh elemen di Gempolkrep untuk solid dan kompak.

Penjelasan-penjelasan Cak Nun berangkat dari ayat-ayat surat at-Tiin. Di situ Allah bersumpah atas nama tiga hal: pohon tiin dan zaitun, bukit turisina, dan baladil amin. Cak Nun mengingatkan bahwa ini tidak sembarangan, melainkan mengandung ilmu dan terapan yang dibutuhkan manusia, misalnya pada kesehatan, di mana ada rahasia kesehatan pada buah tin dan zaitun yang oleh al-Quran begitu jelas dan detail diuraikan. Dari ketiganya, poin baladil amininilah yang Cak Nun letakkan sebagai dasar pemahaman.

Selama ini baladil amin diartikan sebagai negeri yang aman. Padahal yang pas dan sebenarnya sangat gamblang, baladil amin adalah negeri di mana orang-orangnya bisa saling dipercaya, saling bisa mengamankan. Jadi aman adalah outputnya. “Jadi, selama ini yang berlangsung adalah Indonesia yang tak kunjung amin amin,” kata Cak Nun. Oleh karena itu, Cak Nun berharap dan mengajak agar PG Gempolkrep ini solid sebagai baladil amin. Sebab banyak ancaman-ancaman mengitari. Apalagi saat ini belum ada pemerintahan yang mampu mempersatukan para petani, malahan mereka dijadikan alat kapitalisasi.

20160511-gempolkrep-04

Untuk supaya solid itulah, para pimpinan PG harus memperhatikan dan memberikan kemudahan bagi para petani. Pun sebaliknya, para petani harus mau percaya kepada sinder dalam hal peningkatan dan penjagaan kualitas tebu sejak masa tanam hingga panen. Kedua belah pihak harus saling toleran, saling belajar, dan saling percaya.

Dalam konteks yang lebih luas tetapi paralel, Cak Nun mengisahkan sedikit bagaimana nasib maskapai penerbangan rintisan nasional yaitu Merpati yang bertahun-tahun dianaktirikan dan terbengkalai nasibnya justru oleh ketidakberdaulatan dan ketidaktepatan sikap dan policy pemerintah, kini dengan perlahan-lahan mulai bisa dibenahi dan akan hidup kembali. Selain itu, Cak Nun juga menuturkan bagaimana beliau dimintai tolong untuk mendamaikan kembali antara petani plasma udang dengan perusahaan eksportir udang terbesar di dunia di Tulangbawang Lampung. Dengan proses dan metodologi yang diterapkannya di sana, kini hubungan keduanya sudah membaik dan bisa produksi kembali. Berkaca dari pengalaman itu, PG Gempolkrep tidak punya pilihan lain kecuali kekompakan dan satu hati antara pabrik dengan petani.

20160511-gempolkrep-05

Memasuki pukul 11.30, Cak Nun segera mengakhiri, tetapi hadirin masih bilang terusss terusss. Beliau kemudian mengajak para Bapak-bapak pimpinan untuk naik ke panggung untuk meneguhkan kekompakan di antara mereka dengan menyanyikan bersama nomor Kemesraan Ini. Poin terakhir yang dipesankan Cak Nun adalah soliditas, satu hati, dan kekompakan di antara mereka bisa mengurangi kendala di tengah negara justru memaparkan atau menyerahkan perusahaan atau BUMN kepada pasar bebas, padahal justru negara dan pemerintah yang seharusnya pertama-tama melindunginya dari pasar bebas.