Daur (306)

Obor-Obor Cahaya

Tahqiq : “...Di tengah pancaran obor-obor cahaya itu terdapat semacam telaga yang sangat luas, yang permukaan airnya tak terkirakan indahnya. Telaga yang datar, tetapi tampak jelas bahwa kedalaman airnya tak terukur oleh matematika, fisika, dan biologi....”

Junit dan lainnya, juga Pakde Paklik, membiarkan Seger selapang-lapangnya memaparkan kegelisahannya.

“Pakde Paklik dan teman-teman semua”, kata Seger, “kalau Mbah Markesot kabarnya pernah menyatakan bahwa makhluk manusia memiliki kecenderungan untuk konsisten terhadap kehancuran, bahkan istiqomah untuk senantiasa berlaku menghancurkan — saya berpikir bahwa tampaknya kita adalah golongan yang paling hancur di antara semua yang hancur”.

Seger berhenti beberapa saat. Tak ada reaksi dari lainnya di ruangan itu. Kemudian ia meneruskan.

“Kehancuran kita mungkin ganda. Bahkan mungkin berlipat-lipat. Pertama karena Pakde Paklik mengajak kami untuk menyelami kehancuran manusia sampai ke relung-relungnya yang terdalam. Sampai sangat detail, sampai ke sel-sel terdalam dari kehancuran itu yang kebanyakan orang tak pernah memasukinya. Kedua karena tampaknya hanya kita yang terlalu mendalam merasakan kehancuran itu. Setahu saya semua orang di luar sana tenang-tenang saja. Mungkin bingung, tapi tidak merasakan kehancuran sebagaimana yang kita rasakan. Saya jadi sering menyimpulkan bahwa kita ini berlebihan, lebai, terlalu melankolik. Dan jenis penyikapan kita itu membuat kita menjadi bagian yang paling inti dari kehancuran….”

“Tidak….”

Tiba-tiba terdengar suara dengan nada khusus. Ternyata suara Tarmihim. Ia berdiri di depan pintu ruang dalam. Ia tersenyum.

“Mari anak-anak semua, Junit, Jitul, Toling, Seger”, katanya, “ayo masuk ke ruang dalam. Mbah kalian Markesot merasa sangat rindu dan menantikan kalian untuk bertatap muka….”

Tarmihim kemudian juga mengajak Brakodin dan Sundusin.

Dengan agak kaget dan belum paham, mereka berdiri. Pelan-pelan bergerak ke ruang dalam, yang Tarmihim tampaknya barusan membuka pintunya dari dalam, tanpa semua yang lain menyadarinya.

Ruangan itu agak gelap. Mereka hanya melihat sosok-sosok dalam keremangan. Tarmihim membimbing anak-anak muda itu mendekat ke tempat tidur di pojok. Mbah mereka Markesot sedang terbaring. Di pinggirnya duduk seorang yang sangat tua, seperti sedang menjaga seorang yang sedang sakit.

“Sampaikan salam kalian kepada Mbah Markesot”, kata Tarmihim.

Junit Jitul Toling dan Seger mendekat. Dengan perasaan penuh teka-teki satu per satu mereka mengulurkan tangan. Mencium tangan Markesot. Mereka coba melirik wajah Mbah Markesot, tetapi sangat remang-remang dan tidak jelas. Kejutan yang amat memukul perasaan bahwa tiba-tiba mereka bertemu dengan orang tua yang merupakan penghuni jiwa mereka selama ini.

Satu per satu juga berikutnya mereka membungkuk menyalami orang tua yang duduk di sisi Markesot.

Dan ternyata kemudian mereka menjumpai ada orang-orang lain di berbagai sisi ruangan itu. Juga remang-remang saja sosok-sosok itu. Ada beberapa yang berdiri di satu sisi tembok. Ada yang duduk dan jongkok di pojok. Ada yang seperti tampak hanya wajahnya di permukaan dinding. Ada yang seperti bayang-bayang belaka. Ada yang besarnya sebagaimana manusia biasanya. Ada yang sangat besar kepalanya tanpa kelihatan badannya. Ada yang seperti kerumunan makhluk-makhluk kecil. Bahkan ada yang duduk setengah melingkar, dengan sebagian dari mereka seperti sedang merebahkan badan.

Junit tergetar perasaannya. Jitul bergidik bulu tengkuknya. Toling panas dingin suhu badannya. Dan Seger berulang-ulang menarik nafas panjang.

Mereka tidak seperti berada di dalam sebuah ruangan. Rasanya sedang melayang-layang di angkasa yang remang-remang. Ini adalah jagat raya dengan makhluk-makhluk yang betapa beragam-ragamnya. Besar dan kecil menggelombang. Tinggi dan rendah berayun-ayun, jauh dan dekat mencembung mencekung seperti jantung yang memompa napas kehidupan. Ada jubah-jubah raksasa. Ada lintasan cahaya-cahaya. Ada miliaran mungkin triliunan tangan yang bergandengan mengelilingi langit. Ada misteri kegelapan yang luar biasa di belakang lingkaran makhluk-makhluk yang berjajar bersambung bagaikan rantai maha raksasa.

Ada ribuan obor-obor sangat besar di berbagai penjuru, yang bergerak-gerak di ujungnya bukan nyala api, melainkan pancaran cahaya. Di tengah pancaran obor-obor cahaya itu terdapat semacam telaga yang sangat luas, yang permukaan airnya tak terkirakan indahnya. Telaga yang datar, tetapi kedalaman airnya tak terukur oleh matematika, fisika, dan biologi, sebagaimana yang anak-anak muda itu pernah mengenalnya di kelas-kelas dunia.