Reportase Suluk Pesisiran Januari 2016

Nyanting Jiwa Mbatik Rasa

Kongres NU di Pekalongan seng mbayari juragan batik. Sing terakhir kongres Thoriqoh abah Luthfi juga atas shodaqohe batik.

Majelis Maiyah Suluk Pesisiran bulan Januari 2016 ini adalah ketiga kalinya dilaksanakan di kampus UNIKAL dengan tema yang sangat menjadi ikon kota Pekalongan sebagai kota Batik “Nyanting jiwa mbatik rasa”. Dimulai dengan tadarus dan dilanjut dengan simtudduror yang telah menjadi tradisi di Pekalongan.

Acara diskusi dibuka oleh moderator Pak Ribut, tema ini awalnya menjadi pembahasan di penggiat Suluk Pesisiran yang spontan muncul diawali dengan latar belakang budaya batik di Pekalongan, batik komoditas perdagangan. Sudah berapa besar pemahaman filosofi batik di Pekalongan. Batik yang bagaimana di Pekalongan itu? Jama’ah juga kebanyakan belum mengerti sejarah batik dari awal munculnya batik. Kemudian moderator mempersilahkan Pak Dirham memaparkan sejarah batik dari awal hingga sekarang.

“Saya melihat di sekitar Pekalongan ada komunitas yang sangat luar biasa, tingkatannya sudah Empu dalam persoalan batik”, Pak Dirham mulai memaparkan siapa yang pertama kali membatik. “Saya sampai sekarang belum melihat di bukti arkeologis batik di Pekalongan, kira-kira 6 bulan yang lalu saya ketemu sejarawan dari Batang, Pak Mulyono, bahwa di Balaikambang Gringsing ada sebuah pemandian ditemukan arca Sri Wisnu atau Dewi Padi, arca ini disimpan di Museum Ronggowarsito”, terang Pak Dirham. Beliau juga sempat ke prodi di sana menemukan tanaman indigo (warna biru).

Beliau kemudian menjelaskan sejarah batik dari masa pemerintahan Adipati Djayadiningrat 1775 hingga abad ke-19. Dimana pada tahun 1923 di Pekalongan ada event yang besar dan diikuti oleh 300-an industri-industri di bidang batik dan perak serta lainnya. Pada tahun 1924 ada percetakan Fortuna yang menerbitkan buku tentang teknik batik. Yang menarik, beberapa nama daerah bersesuaian dengan proses mbatik. Di Krapyak ada Kampung Pasunggingan, ada Kampung Ngabangan, ada Medelan (proses mewarnai nyelerek). Batik pada era Mataram Islam 1928/29, pasukan Sultan Agung perang melawan Belanda dan kalah, sebagian pasukan yang masih hidup tidak berani pulang ke Mataram. Juga saat Perang Diponegoro, ketika perang selesai, Pangeran Diponegoro tertangkap, sisa pasukan yang ada tidak mau pulang ke tempat asal, dan ada yang bermukim di Krapyak, di Wonopringgo dengan mengembangkan budaya batik. Kemudian muncul dari Rifa’iyah, ada konsep batik Rifa’iyah : batik tiga negeri, mengandung unsur Tauhid, Tasawuf, dan Ushul Fiqih.

Dalam perkembanganya, membatik pun pada akhirnya tidak melulu mengikuti pola-pola batik Keraton. Pada tahun 1936 yang dipelopori H. Ali dkk mereka membuat batik Bon, dengan bertujuan organisasi ini agar bisa membeli bahan baku langsung ke Belanda, dan melepaskan pengusaha batik dari sistem kredit kepada orang-orang Tionghoa dan Arab. Inilah Era juragan-juragan batik dan menjadi cikal bakal lahirnya koperasi batik yang ada di Pekalongan. Kemudian pada abad ke-19 ini muncul batik cap, yang menggoyangkan posisi batik tulis. Pada masa Jepang terjadi krisis bahan baku. Pabrik Tekstil di Tegal yang dulu menguasai pasar se-Asia Tenggara oleh Jepang ditutup dan ini menimbulkan gejolak dalam dunia perbatikan di Pekalongan. Kemudian masa Presiden Soekarno diminta agar rakyat bisa membuat kain batik (mori) sendiri untuk dimonopoli agar bisa masuk ke pembatik kecil. Sampai pada tahun 1970 harga Mori ditentukan di Pekalongan dan mulai muncul penginapan, hotel untuk pedagang yang bermalam dan biasanya diberikan cuma-cuma karena dalam transaksi mereka sudah dipotong untuk Koperasi. Sempat saat itu dibangun Planetarium oleh GKBI (koperasi batik besar saat itu) dengan biaya 1,67M yang menjadi prestise tersendiri di Pekalongan.

Pada masa orde baru perkembangan industri batik juga sempat menurun tapi tahun 1980 mulai menggeliat lagi hingga tahun 2005 ada festival batik dan tercatat di Guinnes Record yaitu Batik OTR (on the road) sepanjang 1.200 meter. Kemudian tahun 2014 batik diakui UNESCO. Di akhir pembahasan, Pak Dirham menyayangkan menyusutnya saat ini SDM batik terutama di kalangan anak muda, apalagi sebentar lagi era pasar bebas adalah tantangan baru ke depan.

Setelah panjang-lebar sejarah diceritakan Pak Dirham, moderator memberikan kesempatan kepada jama’ah untuk merespon, juga mempersilakan Pak Dudung untuk masuk dan mewarnai diskusi malam itu. Terkait MEA, Nur Qoidah menanyakan bagaimana menumbuhkan kesadaran terutama anak muda Pekalongan yang banyak tidak mengenal  batik tulis dan cara mengkreasikan batik agar menjadi komoditas yang bisa dikembangkan kaum muda Pekalongan. Sedangkan Muhammad Kholid menanyakan sejarah warna-warna batik yang sekarang sudah dipraktiskan dengan adanya pewarna kimia, dan juga apa penyebab kematian koperasi-koperasi batik saat ini.

“Kita bisa survive itu karena ada orang-orang seperti Pak Zahir, Pak Safuan untuk tetep eksis untuk membangun dan melestarikan batik di Pekalongan dengan membangun prodi batik di Unikal, Sistem pemerintahan juga berpengaruh, baik sekolah batik dll. Tentang Warna kimia digunakan sejak orang-orang Belanda menggunakan itu pada saat tahun 1930 di saat pabrik industri gula jatuh membuat banyak orang Belanda yang beralih ke batik. Pasar global itu memang selalu mengintai kita, sekarang banyak orang-orang asing melakukan penelitian di Pekalongan terkait batik, kita harus waspada,” jelas Pak Dirham yang kemudian mempersilakan Pak Dudung menjelaskan tentang warna-warna batik.

Pak Dudung menguraikan, “Mengenai warna, sebelum tahun 1950 kita sudah membuat batik warna dari alam yang paling tua warna biru. Ketika revolusi industri, ketika ditemukan warna kimia dibawa oleh orang-orang Eropa, ini kepentingan industri. Kenapa kita direcoki, karena kita unggul. Pengalaman saya dodol batik seng tuku orang dari Amerika tuku siji wae rewele ora karu-karuan. Sebetulnya pangsa pasar batik terbaik ya di Indonesia. Mereka rewel jare nanti kalau dipakai kulitnya iritasi, iritasi kulitmu, nang kene kulit badak, e… yo ora iritasi (disini kulit badak, e… ya tidak iritasi).” Disambut tawa jama’ah.

Batik adalah olah rasanya orang Jawa, medianya bisa batu, bisa kain batik dan apapun bisa dijadikan media. Pak Dudung menggunakan terminologi Sangkan Paraning Dumadi, agar bisa memetakan proses dan jati diri kita ini. Batik ini kan punya masa lalu, masa kini, masa depan, yang sudah lahir, yang masih berproses dan yang belum lahir. “Mohon maaf jangan dianggap semua yang saya sampaikan ini pasti benar”, begitulah awal penyampaian Pak Dudung karena di Maiyah kita sama-sama belajar.

“Mohon dipisahkan dan dipahamkan di otak kita bahwa orang Jawa ini tidak hanya olah pikir, tapi juga olah rasa. Selama ini kita diapusi rakroso (ditipu tak terasa), makanya ini lahir Maiyah itu untuk kembali kepada jati diri, atau sejatine diri. Batik adalah bagian dari ke-Indonesiaan dan ke-Jawaan kita.” Beliau juga menekankan agar kita ini tetep PD dengan adanya MEA nanti. Karena orang barat saja bingung melihat bagaimana kita bisa duduk 8 jam tidak bergerak hanya tanganya dengan Canting menari diatas kanvas itu cuma kita yang bisa, mereka orang barat tidak sanggup.“ Boleh kita tahu buku yang mereka tulis tapi jangan dijadikan rujukan. Buatlah batik yang belum dibuat orang lain atau jangan membuat batik yang sudah dibuat orang lain. Sejarah Indonesia koperasi pertama kali berdiri kapan 1947 kongres koperasi di Tasik Malaya. Padahal di tahun 1937 di Pekalongan sudah ada koperasi di Pekajangan. Leluhurmu selalu menjadi pionir dalam perekonomian. Kenalilah sejarah kita. Membatik itu dari rasa yang kita rasakan bukan dari yang mereka rasakan”, pesan Pak Dudung.

“Beberapa ahli mengatakan bahwa garis pantai di Pekalongan itu di daerah Kedungwuni. Prasasati ditemukan di Sojomerto Batang di zaman Syailendra. Beberapa kali orang Pekajangan menggali sumur menemukan kerang, jangkar kapal ini salah satu bukti. Orang melihat batik Pekalongan warnanya sangat luar biasa, ini karena airnya mengandung garam,” begitu tambahan dari pak Dirham. “Jerman pertama kali ke sini membawa warna ke sini ini bingung. Jadinya warna tidak sesuai ekspektasi mereka. Walisanga dulu ngarani (menyebut) Pekalongan negeri Hastinapura. Nangopo ko ngunu takono dewe karo Walisanga. Kenapa Pekalongan menjadi Hastinapura (Tanya sendiri sama Walisanga kenapa disebut Hastinapura)?”, pesan Pak Dudung disambut tawa jama’ah.

Di tengah sesi, Nasrul Rokhim dan Ndiron membawakan lagu Andra And The BackBone dengan judul Seperti Hidup Kembali menambah hangatnya suasana malam itu.

“Kongres NU di Pekalongan seng mbayari juragan batik. Sing terakhir kongres Thoriqoh abah Luthfi juga atas shodaqohe batik. Maka hari ini dibuka ditempat Maiyah seperti ini untuk membangun rasa. Pekalongan ini memang dianggepe alirane (dianggap alirannya) Aryo Penangsang. Memang musuhan karo Keraton. Orang Solo membuat peta batik dan Pekalongan dihapus dari peta batik. Pasar Klewer itu 70% batik dari Pekalongan. Tanah Abang itu juga dari Pekalongan. Luar biasa Pekalongan, diencot soyo mulet, digejog soyo maju”, Pak Dudung melanjutkan sesi.

“Berdiri pabrik Primatek, kerjasama GKBI dengan Jepang. CSR, GKBI nangdi? Di gawe seko batik malah ora ngurusi batik. Tolonglah orang yang sudah sukses di Jakarta, tolong dipikirkan sekolah batik”, begitulah harapan Pak Dudung.

Mahmud Mansyur salah satu jama’ah dari Wiradesa ikut menambahakan, “Terkait batik Rifa’iyah yang mengandung unsur Tauhid, Tasawuf dan Ushul Fiqih saya sepakat sekali. Di luar Pekalongan ada batik klenik, batik pusaka dan sebagainya. Batik itu berawal dari sebuah pujian dari pujangga yang waktu itu datang bersama Delingsing seorang arsitek bangunan, batik berawal dari sebuah kanvas, mori putih, kemudian oleh Sung Ing yang dikenal dengan Kyai Pesunggingan, beliau melukiskan Bi-Ati dengan lukisan, gunungan dan sebagainya. Kenapa disebut Walisanga menyebut Pekalongan Hastinapura, karena Pekalongan kuwi udele (pusat/pusarnya) pulau Jawa, udel kuwi nek mendhuwur penak, nek mengisor yo tambah penak”, disambut lagi tawa jama’ah.

“Nyanting Jiwa, Nyanting artinya Nyancang Tingkah. Mbatik adalah persembahan (Present) ngibadah muguh pujangga Jawa ada 4 perkara yaitu Sembah Raga, Sembah jiwa (Manunggaling kawula Gusti), Sembah Cipta (kreasi-kreasi baru), Sembah Rasa (bisa merasakan). Moga-moga bisa membangkitkan himmah. Ini hanya mencoba menyampaikan uneg-uneg saya sekian dan terima kasih”, mas Mansyur mengakhiri.

“Awalnya batik digunakan sebagai persembahan kepada Tuhan, kemudian menjadi persembahan Raja, kemudian untuk orang yang dicintai, dan sekarang Batik dijadikan penggerak ekonomi dalam perdagangan, padahal Batik adalah olah rasa bentuk jati diri. Di sinilah estetika tanpa etika melunturkan nilai filosofis batik sendiri. Jati diri tujuan batik sekarang kesasar, gunakanlah batik untuk memuliakan diri batik itu sendiri,” Pak Dudung menambahkan.

Di puncak sesi Gus Asep di persilakan moderator untuk menyampaikan sisi religi batik. “Batik itu aktifitas kesenian maka outputnya adalah keindahan. Masa ada orang mbatik pakai mori kotor. Sebelum memperindah jiwanya maka harus membersihkan penyakit hati. Saya pikir jangan-jangan ajaran Tasawuf itu dari batik”, penyampaian Gus Asep disambut senyum dan tawa jama’ah.

“Batik itu masalah pemaknaan, orang sekarang digiring pada ampas kelapa bukan pada minyaknya atau saripatinya. Mereka melihat sesuatu sudah tidak bisa dimaknai apapun. Misalnya orang hajatan lebih suka dengan roti Purimas, kenapa tidak menggunakan Ambeng, Lepet (itu berasal dari kata lepat)”. Kemudian Gus Asep memedar ketinggian budaya Jawa dari perbendaharaan kata, yang sarat makna. Tetapi dalam perkembangan Sumpah Pemuda membebalkan masyarakat Jawa, dari segi bahasa.

“Jawa itu sarat dengan pemaknaan dan kita digiring kepada yang tidak bermakna.” Lanjut Gus Asep.

“Rasa itu bisa dibilang inti dari ajaran agama yang paling inti. Dulu nabi pernah interaksi perasaan antara tongkat dan pohon korma. Ketika Nabi khutbah ada rintihan tangisan, semua orang jadi terharu dan menangis. Ternyata pohon kurma itu menangis, gara-gara khutbahnya Nabi bergeser sekitar 17 meter saja menangis. Jabal Uhud adalah mencintai kamu dan kita pun mencintainya. Nabi berbagi perasaan dengan alam. Makanya mbah Marijan tidak mau turun gunung. Ketika Mbah Marijan meninggal dalam sujudnya.”

“Saya pernah berkunjung ke produksi madu ‘Pramuka’, banyak terdapat tumpukan madu, dan anehnya cuma satu karyawannya. Setelah saya tanya ternyata yang lainnya suasana hatinya sedang tidak tenang tidak baik, dan itu bisa membuat hasil panennya tidak baik.”

Kemudian Gus Asep juga menceritakan bagaimana brandal Lokajaya yang tersentuh rasanya melihat Sunan Bonang menangis bukan karena tongkatnya direbut melainkan tercabutnya rumput saat terjatuh, membuatnya ingin berguru kepada Sunan Bonang. Juga dengan cerita Abdullah Ibnu Mubarok yang melakukan perjalanan ke Damaskus menemui Mundlofar, yang tersentuh rasanya melihat tetangganya yang hanya masak bangkai setelah terhirup aroma masakan-nya oleh istrinya yang sedang ngidam. Padahal 3 hari keluarga itu belum makan. Menurut Gus Asep ada 3 tingkat rasa yaitu, (1) dia yang hanya bisa merasa tapi tidak merasakan derita sesama, (2) dia yang mampu merasakan derita sesama manusia, kemudian (3) dia yang mampu merasakan derita orang lain tapi tidak merasakan lagi derita dirinya sendiri.

Suasana jama’ah menjadi ramai saat disampaikan hal-hal yang berkaitan dengan keseharian masyarakat khususnya pembatik, adanya idiom “Sak Pore”, kemudian Pak Ribut merespon dengan peristiwa tahun 1995-1997 adanya pertikaian antar umat seagama yang seharusnya belajar dari batik sebagai olah rasa dan batik adalah semangat cinta.

Juga disambut respon dari AlMasBiel, “Terkait reformasi teknologi di Batik. Mungkin bayi yang lahir di Buaran itu masih mending daripada di Kedungwuni bayi lahir temune (bertemu) mesin jahit, dan dampak lingkungan dari Batik itu seperti apa dan bagaimana memperlakukannya? Terkait MEA, jika di Thailand sudah melatih generasi mudanya untuk berlatih bahasa Indonesia dan Jawa dan juga batik.”

Pak Ribut mengambil wacana Dana 1 Milyar untuk Desa yang mungkin malah jadi mitos bisa memperdayakan masyarakat. Dan kita dengan reformasi teknologi kita tak selalu harus meng-iyakanya. Kemudian Pak Dudung memberikan tanggapan tentang SDM terutama Jawa yang diibaratkan nyawiji tanahnya dengan penduduknya, dan berharap pemerintah dan kita semua sadar akan hal itu. Di Indonesia komponen 90% import, yang tidak import cuma tenaga kerjanya.

“Widodari turunnya di tempat keindahan. Artinya Pekalongan itu harus diindahkan karena Allah itu indah. Batik itu harus bisa menginspirasi ekonomi kreatif. Sekarang dunia ini sedang berada pada ekonomi kreatif, tidak menutup kemungkinan Jeans juga dibatik. Saya berharap bisa membuka wacana kesadaran kita, dan sudut pandang kita jangan dijajah oleh peradaban Yunani, Arab, Cina. Kita gunakan sudut pandang bangsa kita sendiri peradaban Nusantara”, begitu Madong ikut merespon.

Menurut Gus Asep, “gantar”” saja adalah sebuah teknologi karena definisi teknologi adalah  cara memudahkan manusia. Juga mencontohkan jika sekarang teknologi itu tergantung alat tapi zaman dulu teknologi tak perlu alat misalnya telepati, santet, dll. Disambung Mas Mahmud yang sepakat dengan mencontohkan teknologi dari Bandung Bondowoso, dan tak perlu dengan ‘Western-minded’, caranya dengan membangkitkan teknologi jati diri.

Suasana semakin menurun dan semangat dibangkitkan lagi dengan penampilan Nasrul dengan iringan Gitar dan Kajon judul lagu yang dibawa Kuldesak. Dan diawali dengan pesan Cak Nun tentang Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat.

Akhir acara ditutup dengan wirid dan do’a bersama. Semua jama’ah serempakberdiri dan khusyu’ membaca wirid bersama dengan lampu yang di matikan. Sesi ini dipimpin oleh Rizky.