Daur (191)

Novia, Connecting People

Ta’qid : Sungguh aneh pemahaman manusia modern terhadap “ada”, “nyata” dan “maya”. Manusia terjebak, ketelingsut dan terselip di antara yang mereka pikir nyata dan mereka sangka maya.

Markesot berpikir, banyak sekali orang di sekitarnya yang bertahun-tahun tak kunjung bisa membedakan antara “di pasar” dengan “dijual”. Gagal menentukan kapan “di” disambung, kapan dipisah. Dan kegagalan itu terjadi tidak hanya pada penjual makanan atau pekerja bengkel motor, tetapi juga para pekerja teks, misalnya wartawan dan redaktur media massa.

Markesot sendiri berulangkali mengalami betapa malasnya manusia mengurus sekadar satu huruf. Banyak orang memanggilnya “Cak So”, hilang huruf “t” dari “Cak Sot”. Karena organisasi ingatan di otak mereka terus-menerus kebingungan oleh kerancuan antara Markeso troubadour seni rakyat dengan Markesot.

Salah seorang teman Markesot punya istri yang sangat terkenal di zamannya, tapi kemudian muncul zaman baru yang memunculkan kata yang mirip nama istri temannya itu, dengan hanya beda satu huruf: “v” menjadi “k”. Lebih lima puluh persen orang di zaman baru itu memanggilnya “Nokia”, karena disorganized tata ingatannya: yang orang itu “Nokia” ataukah yang merk gadget itu “Novia”. Kerancuan dan keterbalikan itu dibawa sampai akhir hayat mereka.

Maka jangankan soal-soal yang kualitatif: nilai-nilai, wacana intelektual, dunia batin, arasy spiritual, kualitas, software. Sedangkan materi satu huruf saja tidak berhasil ditata pada tempatnya.

Dengan semua itu, sama sekali tidak mengherankan kalau dewasa ini — revolusi dunia internet agak khilaf memberikan nama atas dirinya sendiri, yang mengakibatkan terjadi sejumlah bumerang. Teknologi Informasi dan lalulintas budaya komunikasi antar manusia modern yang menggunakan kecanggihan interconnecting networking atau internet, menyebut dirinya, atau disebut oleh para penggiatnya sebagai Dunia Maya.

Maya adalah sesuatu yang bukan benar-benar sesuatu. Sesuatu yang seakan-akan ada, padahal tidak benar-benar ada. Disebut maya karena ia bukan seperti baju yang bisa diambil dari almari kemudian dipakai. Atau seperti gatal di kulit kemudian digaruk. Atau bukan seperti wajah yang pemiliknya bisa melihat pantulannya di cermin.

Itu semua disebut maya karena letak atau munculannya hanya di layar teve, layar gadget, layar computer, dan gambar atau teks atau apapun di dalam atau di balik layar itu terasa tidak benar-benar ada. Maka manusia menyebutnya maya.

Sungguh aneh pemahaman manusia modern terhadap “ada”, “nyata” dan “maya”. Manusia terjebak, ketelingsut dan terselip di antara yang mereka pikir nyata dan mereka sangka maya. Itu semua semacam kecelakaan karena manusia terlalu lama membiasakan diri hidup dalam sistem nilai materialisme.

Untuk waktu yang sangat lama manusia menyangka yang nyata hanyalah yang bisa dijangkau oleh pancaindra. Sesudah itu, karena tradisi materialisme, sesuatu yang jelas bisa dilihat dengan mata, yang bisa didengarkan oleh telinga, bahkan yang mereka distribusikan dengan sentuhan jari-jari tangan mereka, pun dianggap sesuatu yang maya.

Siang malam mereka bergaul dan berinteraksi lahir batin dengan informasi-informasi yang akhirnya sangat menjadi kenyataan batin mereka, menjadi fakta pikiran mereka, menjadi kasunyatan budaya mereka, menjadi praksis perilaku mereka, bahkan menjadi Nabi dan Tuhan mereka — tapi pada saat yang sama mereka meyakini itu semua sebagai sesuatu yang maya. Ummat manusia yang terlibat di dalam dunia yang mereka sebut maya itu mengalami split yang sangat serius, paradoks dan penjungkirbalikan pengetahuan serta kekaburan ilmu yang tidak bisa diremehkan oleh keperluan masa depan peradaban kemanusiaan.

Kalau di atas atau di bawah sadar manusia berpendapat dan meyakini bahwa fakta batin mereka, kenyataan intelektual mereka, pola budaya sehari-hari mereka, urat saraf peradaban mereka, sebagai dunia maya — maka iman keTuhanan mereka, idealisme dan ideologi mereka, gagasan dan keyakinan mereka, pengetahuan dan ilmu mereka, juga sukar dihindarkan untuk terserap ke dalam kemayaan dan menjadi benar-benar maya.

Bahasa jelasnya: tampaknya, atau sekurang-kurangnya, Tuhan itu sendiri diam-diam disimpulkan di bawah sadar sebagai Dzat yang Maya. Bahkan karena “meteri budaya” atau “materi etika”: Tuhan itu Maha Maya. Ia bisa menjadi tidak maya asalkan hadir sebagai materi. Atau, Tuhan dikonsep sebagai “ada” secara materi. Demikian juga Malaikat, para Rasul dan Nabi, hakiki ruh Firman Kitab Suci. Dan jangan lupa: jiwa manusia itu sendiri oleh manusia diam-diam dipahami sebagai Dunia Maya. Yang nyata adalah jasadnya, fisiknya, gedung-gedung dan mobilnya, lembaran uang dan buku depositonya.

Dengan imaji pikiran dan energi ruhiyahnya Markesot memasuki wilayah itu dan merasakannya sebagai “perjalanan penderitaan” yang sangat menekan dan menikam-nikam kemanusiaannya. Dulu masyarakat dunia mengutuk seorang filosof yang mengatakan bahwa “Tuhan itu mitos”. Tuhan itu produk khayalan manusia. Bikin-bikinan dan akal-akalan manusia untuk membius semua manusia lain demi efektivitas kekuasaannya.

Ternyata sekarang bagi hampir semua manusia, memang demikian. Yang nyata adalah Dunia. Sedangkan Akhirat itu fiksi. Sorga itu karangan. Dan Tuhan itu Maha Maya.