Daur (137)

Nguntal Buah Simalakama

Ta’qid : “...semata-mata ingin tahu kenapa manusia yang sepanjang hidupnya disiksa oleh buah Simalakama, kok di arena ini malah mencarinya, bahkan kemudian menelannya...”

Sebenarnya Markesot diam-diam merasa sedang memaksakan diri dengan othak athik gathuk-nya. Dan di beberapa saat tatkala ia merasa ragu, ia di-semprit oleh Saimon. Free kick. Mungkin dianggap offside.

“Kenapa kamu ikut campur?”, Markesot memprotes Saimon.

“Maaf ini bukan peluit saya”, jawab Saimon.

“Peluit Kiai Sudrun?”

“Ya. Tetapi saya diberi hak untuk meniupnya”

“Tapi belum tentu Kiai Sudrun sependapat denganmu tentang alasan kenapa kamu meniupnya”

“Mungkin. Tapi saya sudah meniupnya”

“Saya naik banding ke Kiai Sudrun”

“Silakan. Tapi tidak sekarang. Karena peluit sudah saya tiup, sebagai wasit saya berhak mengambil tindakan sekarang. Begitulah syariat. Wajib dijalani”

“Apa tindakanmu?”

“Kamu ikut saya”

“Sebagaimana panduan teknis dan pelaksanaan dari Kiai Sudrun, syarat yang harus kamu penuhi adalah jangan bertanya apapun. Kepastian yang menimpamu hanya satu, yaitu mengikuti saya”

“Tengik kamu”, Markesot jengkel, “berlagak seperti Nabi Khidlir. Tapi harap ingat saya bukan Nabi Musa”

“Ikut saya”

Markesot terpaksa mematuhi Saimon.

“Jin druhun”, Markesot menggerutu, “Jin sontoloyo”

“Jangan memaki-maki”

“Larangannya hanya bertanya. Memaki tidak dilarang”

“Tetap tidak boleh. Sebab memaki bisa jadi asal-usulnya dari keinginan yang terbuntu, atau dari pertanyaan yang tidak terjawab”

“Orang yang dihukum berhak tahu kenapa dia dihukum. Orang yang menyemprit berkewajiban untuk memberitahu kenapa ia menyemprit”

“Saya bukan orang”

Point-nya bukan pada orang atau Jin atau siapapun yang menyemprit, melainkan pada sebab-musabab kenapa ia menyemprit…”

Saimon tidak menjawab.

Dan tiba-tiba mereka sudah berada di sebuah arena yang penuh sesak oleh manusia. Di arena itu tampaknya ada serombongan tamu yang khusus datang malam ini, untuk membacakan semacam paparan fragmen yang mereka beri judul “Nguntal Buah Simalakama”.

“Kurang ajar kamu, Mon”, Markesot protes.

Entah kenapa Markesot bilang kurang ajar kepada Saimon.

Saimon tidak menjawab.

“Kamu ini mengejek”, kata Markesot lagi, “atau sebenarnya kamu yang diam-diam punya minat untuk datang ke sini, dengan mengeksploitasi Kiai Sudrun, seolah-olah dia yang menyuruh”

Saimon tetap tidak menjawab.

“Kalau kamu tadi bilang terus terang saja, saya tidak keberatan mengajak kamu ke sini…”

Saimon tetap membisu.

Jumlah Jin yang hadir di arena itu lebih banyak lagi, di samping sejumlah sosok makhluk yang lain. Ada yang sedikit lebih kecil dari lumrahnya manusia. Ada yang sangat besar seperti raksasa. Ada yang lembut. Ada yang padatan. Ada yang aliran. Ada yang sapuan. Ada yang seperti asap. Ada yang remang-remang.

“Bilang saja bahwa kamu kangen kepada orang-orang tua yang bertamu di sini malam ini”, Markesot terus mengomel.

Saimon tidak bergeming.

“Atau kamu terus terang saja bahwa di kebudayaan masyarakat Jin tidak ada teater, maka kamu nafsu datang ke sini…”

“Siapa bilang”, akhirnya Saimon menjawab.

“Buktinya jumlah Jin yang nonton di arena ini lebih banyak dibanding manusia”

“Itu tidak ada hubungannya dengan budaya teater…”

“Ngaku saja. Kalau kamu berminat, saya bisa luangkan waktu untuk workshop dengan peminat-peminat teater di kalangan Jin”

“Jangan merendahkan kebudayaan Jin. Teater itu masa silam di peradaban kami. Kalaupun ada minat pribadi saya kenapa mengajak kamu datang ke sini, semata-mata ingin tahu kenapa manusia yang sepanjang hidupnya disiksa oleh buah Simalakama, kok di arena ini malah mencarinya, bahkan kemudian menelannya….”.