Daur (75)

ngiler.com

Masih belum yakin untuk membatalkan keinginan ketemu Kiai Sudrun? Atau malah semangat untuk menangkap fenomenanya? Mau menafsirkan jenis kemakhlukannya? Mau meneliti dan menginterpretasi fenomena kasyaf-nya? Kiai Sudrun hanyalah lelaki tua yang dari tepian bibirnya selalu mengalir air liur tanpa henti-hentinya.

Kiai Sudrun adalah ngiler.com.

Ia berjalan, di dalam pagar tepi jalan ada kebun. Di kebun ada pohon mangga sedang berbuah. Ia yang badannya kecil kurus pendek meloncat-loncat, tangannya coba meraih salah satu buah mangga yang menggelantung ke luar pagar.

Akhirnya Kiai Sudrun berhasil meraih mangga itu. Tapi segera tuan rumah pemilik kebun meneriakinya. Melarang ambil mangga dan menghardiknya. Kiai Sudrun gagal memakannya. Ia lemparkan ke dalam kebun, mengena ke pohon mangga yang ia ambil buahnya.

“Ya sudah”, kata Sudrun sambil ngeloyor pergi, “kalau memang Pengeran (sebutan lokal untuk Tuhan) yang punya tanah dan pohon ini melarang saya menikmatinya, saya cari buah yang lain. Kebun milik Pengeran tidak ada batas keluasannya”

Besok paginya pohon mangga itu rontok daun-daunnya, kering pohonnya, beberapa hari berikutnya mati.

Sudahlah.

***

Mau mendaftarkan diri agar Sudrun masuk, mengetuk pintu dan mengobrol dalam tidur kita? Mau melihat Sudrun main-main di beranda Masjid, buka sarung dan kencing ngathar diobat-abitkan di lantai tanpa ada bekas kencingnya?

Mau disiksa oleh Sudrun mematikan semua lampu listrik di rumahmu dengan satu tepukan tangan? Gatal ingin menonton Sudrun meletakkan puntung rokoknya di atas rel sehingga keretanya terguling?

Atau mau mendampingi dia tidur di pojokan guthekan Masjid, sarungnya tersingkap sehingga barangnya tampak?

Makin malas dan bosan melihat dunia, manusia, masyarakat dan negara, sehingga mending mendengarkan ratusan kisah-kisah Kiai Sudrun? Dengan tujuan khusus agar orang-orang di sekitar kasih stempel sesat, musyrik, kafir, teman Setan dan calon penghuni neraka?

Sementara lainnya mengklaim bahwa itu kisah-kisah khayal, tidak ilmiah, tidak realistis? Karena yang nyata adalah yang tampak oleh mata, terdengar oleh telinga dan tersentuh oleh perabaan?

Apakah ada yang menyangka bahwa Kiai Sudrun punya keinginan, apalagi keperluan, untuk membuktikan dirinya? Untuk membela kebenarannya? Untuk mempertahankan martabat hidupnya? Coba jelaskan kepada Kiai Sudrun apa itu diri, apa kebenaran dan martabat hidup?

Siapa pakar-pakar ilmu di muka bumi, ahli batin, jagoan kebijaksanaan, penguasa, sakti, mumpuni, orang besar, dukdeng, yang mewakili dunia untuk menguraikan hal itu? Berdoalah agar tidak membuka sarungnya, memancarkan kencingnya, atau mengambil dan menggenggam pisau panjangnya entah dari mana, kemudian ditusukkan ke dadamu, tanpa engkau terluka dan merasakan apa-apa.

***

75 tahun sebelum terjadi luapan lumpur hingga menjadi lautan kecil di suatu wilayah, Kiai Sudrun bertempat tinggal di situ. Pada suatu sore ia berkata, “Nanti kalau lumpur muncrat dari perut bumi dan menenggelamkan daerah ini, saya tidak butuh ikut meminta ganti rugi”

Di jengkal dan garis tanah tempat Kiai Sudrun berdiri itulah luapan lumpur berhenti. Kampungnya Kiai Sudrun tidak tenggelam oleh lumpur, namun daerah itu disebut Peta Terdampak. Karena penghidupan mereka terkena multi-efek dari perubahan geososial, geoekonomi, dan geokultural yang ditimbulkan oleh lumpur.

Kiai Sudrun tidak termasuk di antara 13.200-an keluarga yang punya rumah baru berkat lumpur yang menenggelamkan rumah-rumah mereka, dengan harga lima kali lipat dibanding harga semula tanah dan rumahnya. Kiai Sudrun tidak terlibat dalam rezeki melimpah rumah baru, juga tidak terlibat dalam sikap kurang bersyukur dari ribuan orang yang dilimpahi rezeki itu.

Alkisah terdapatlah satu makhluk Allah yang berasal dari suatu Planet luar bumi, diperintah oleh Ibunya untuk membangun rumah bagi 13.200-an keluarga itu, atau sekurang-kurangnya memberikan biaya agar mereka bisa mendirikan rumah-rumah yang lebih bagus dari sebelumnya.

Makhluk itu ditimpa fitnah besar-besaran, ditindih kutukan besar-besaran dan dipenjara oleh kebencian besar-besaran. Hukum negara menyatakan ia tidak bersalah atas luapan lumpur itu, dan atas kepatuhan kepada Ibunya ia mengeluarkan uang triliunan untuk membangun rumah-rumah sebanyak itu. Dan yang diperoleh dari sedekah agungnya itu bukan rasa syukur dan ucapan terima kasih, melainkan kutukan, fitnah dan kebencian.

***

Untunglah jika dilihat dari langit, ada Kiai Sudrun di wilayah itu. Meskipun tetap saja secara khusus para pengkufur nikmat yang kadar pengkhianatannya tinggi, sudah didaftar untuk memperoleh wabal dari hukum Tuhan.

Ada yang pecah berantakan keluarganya, ada yang pabriknya diluluh-lantakkan oleh api, ada yang masuk penjara karena terbuka kedok kedhalimannya, ada pengusaha yang berubah menjadi karyawan pom bensin, ada yang sakit parah, dan bermacam-macam lagi.

Khusus di wilayah itu dengan urusan lumpurnya, seorang makhluk Planet lainnya sejak awal menancapkan tonggak hukum Tuhan, bukan hukum negara, kepada semua yang terlibat: “Kalau kalian bersyukur, Kutambahi limpahan rahmat dari-Ku. Kalau kalian khianat, sesungguhnya siksa-Ku sangatlah dahsyat”

Pancangan hukum Tuhan itu juga lambat atau cepat akan menimpa pelaku-pelaku negara, yang dalam persoalan lumpur bersikap tidak adil, lalim, mengambil keuntungan, dan tidak memperhatikan akhlaq kehidupan ciptaan Tuhan. Si makhluk kedua dari Planet itu juga menyatakan bahwa lulus tidaknya para penduduk lumpur di hadapan Tuhan di dalam meng-akhlaq-i masalah lumpur, akan menentukan bangkit atau hancurnya negara dengan sebagian rakyatnya.

Ketika itu Kiai Sudrun yang mendorong dan memastikan pertemuan antara Presiden dengan perwakilan masyarakat yang kampung dan rumah-rumahnya ditenggelamkan oleh lumpur.

Di waktu sekitar maghrib, di sebuah gardu pojok kampung tepian lumpur, Kiai Sudrun mendatangi salah satu anggota rombongan yang akan berangkat berunding dengan Presiden.

“Jangan tidak berangkat. Sudah benar jalannya. Presiden menunggu tanpa terkait dengan protokol kepresidenan. Nanti Presiden hanya ikut runding, tapi bukan dia yang memimpin”

***

Ada yang bertanya, kalau memang ada orang yang seaneh dan sesakti Kiai Sudrun, kenapa dia tidak bereskan kekacauan keadaan negara dan bangsa ini? Kenapa dibiarkan runyam berkepanjangan seperti ini.

Kiai Sudrun aneh? Apanya yang aneh. Kiai Sudrun ya begitu itu. Kalau tidak begitu, malah aneh.

Kiai Sudrun sakti? Mana ada yang sakti selain Tuhan? Apapun kekuatan, kehebatan dan kesaktian yang tampak ada pada manusia, Tuhanlah yang memilikinya.

Kenapa tidak membereskan keadaan?

Kiai Sudrun tidak pernah menciptakan dirinya sendiri. Tidak pernah mentakdirkan, merancang, dan menugasi dirinya sendiri. Untuk membereskan kekacauan ataukah untuk membangun keindahan, bukanlah Kiai Sudrun direktur utamanya. Bahkan Sudrun menjadi Sudrun bukan pula ia yang mengarsiteki dan mengaransirnya.

Kalau ada yang menabrak Kiai Sudrun dengan tuntutan seperti itu, yang pasti ia dapatkan adalah ngiler.com.