Reportase Maiyah Balitar Juni 2016

Ngeposne Roso

Sesuai muqodimah yang disampaikan oleh Mbak Hilwin, bahwa orang Jawa memaknai poso menjadi ngeposne roso, Menaruh berbagai macam rasa dalam satu pos.

Ramadhan kali ini merupakan edisi spesial bagi Majelis Maiyah Balitar. Di Bulan penuh berkah ini membawa spirit tersendiri khususnya bagi para penggiat. Sehari sebelum menggelar maiyahan rutin, teman-teman penggiat Majelis Maiyah Balitar berkesempatan hadir di Ta’dib — Waro’ Kaprawiran sekaligus menjemput Mas Harianto, koordinator simpul maiyah.

Sehari semalam wilayah Blitar diguyur hujan deras, namun hal tersebut bukan penghalang terselenggaranya Maiyahan. Selepas isya, Mas Hakim mengawali pembacaan ayat-ayat suci Al – Quran. Sementara tartil berlangsung, para jamaah terus berdatangan. Antusiasme masyarakat yang ingin menimba ilmu bersama di Majelis Maiyah Balitar tidak hanya datang dari masyarakat lokal, namun sudah mulai merambah masyarakat luar Blitar. Ada yang datang dari Tulungagung, Kediri, Surabaya dan juga Malang. Para jamaah dari luar kota tersebut hadir tidak seorang diri, melainkan membawa rombongan masing-masing.

Mas Hakim memandu pembacaan wirid yang dipuncaki dengan wirid Wabal. Dilanjutkan oleh Mbak Hilwin memberi pengantar diskusi malam itu lewat paparan Muqodimah Maiyahan.

Poso (Ngeposne Roso) = Menahan Diri

Sesuai muqodimah yang disampaikan oleh Mbak Hilwin, bahwa orang Jawa memaknai poso menjadi ngeposne roso, Menaruh berbagai macam rasa dalam satu pos. Rasa iri, dengki, sakit hati, nafsu yang kian menjadi, senang karena menyakiti, dan semua rasa yang terpatri dalam sanubari ditaruh dalam satu pos, lalu dikunci. Ada juga yang mengartikan bahwa ngeposne roso adalah tentang mengepaskan rasa. Pas. Tidak kurang dan tidak lebih. Menempatkan setiap rasa pada tempatnya. Pada intinya, baik mengeposkan maupun mengepaskan sama-sama bermaksud untuk menahan rasa. Menahan untuk mengendalikan, menjaga keseimbangan. Kurang lebih, begitulah kiranya makna puasa jika dilirik dari kaca mata falsafah Jawa. Beriringan dengan harapan untuk bisa turut serta menjaga keseimbangan segala apa yang memang awal dicipta dalam keadaan seimbang ini, niat untuk sinau bareng, belajar bersama mentadaburi hakikat dari puasa pun tak terelakkan lagi. Agar bisa dijadikan pijakan untuk melakoni puasa dengan sebenar-benarnya puasa. Bukan sekedar puasa yang latah tanpa tahu dasarnya. Juga bukan puasa yang sekedar niat untuk menggugurkan syarat rukunnya.

Ngeposne Roso
Ngeposne Roso

Pada kesempatan pertama, Mas Jeffi, sebagai moderator mempersilakan Mas Dian untuk mulai mewedar ilmunya. Mas Dian menyatakan bahwa sebenarnya semesta pun berpuasa. Bumi berputar pada porosnya, bulan mengelilingi matahari, itu adalah salah satu bentuk dari puasanya semesta. “Dan hewan pun juga berpuasa. Ayam itu, kalau dia mau bertelur pasti dia berpuasa dulu agar telurnya bisa bagus. Ulat pemakan daun, dia juga berpuasa menjadi kepompong, agar menjadi kupu-kupu yang cantik. Itu adalah salah satu wujud dari puasanya hewan. Jika berpuasa adalah sesuatu yang sudah diharuskan sejak awal, kenapa manusia tidak melakukannya?”

Mas Dian juga menjelaskan puasa dari sudut pandang konsep Jawa. Tokoh-tokoh dalam pewayangan menjadi sakti mandraguna setelah menjalani laku puasa. Seperti Bisma yang berpuasa dengan hanya memakan satu butir nasi setiap hari, hingga setiap perkataannya seolah menjadi do’a yang selalu diamini oleh semesta. Juga Dewi Anjani yang puasa ngrowot, bertahan di bawah pohon sukun dan hanya makan buah sukun yang jatuh. Atas puasa yang dilakoni oleh Dewi Anjani dikaruniai anak-anak yang hebat. Meskipun demikian, Mas Dian mengingatkan, bahwa tujuan puasa bukan untuk menjadi sakti atau mendapatkan apa pun. Puasa ya puasa, kebutuhan kita untuk semakin mendekatkan pada Sang Pencipta. Terkait menjadi sakti atau apa pun, itu hanyalah bonus saja dari Sang Maha.

Mas Komed menambahkan bahwa ‘Pasa’ sendiri berasal dari bahasa sanskerta, yaitu ‘Upa’ dan ‘Wasa’. Upa yang berarti menahan, dan Wasa artinya rasa yang ada didalam diri, Di Hindu, upa wasa berarti menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang oleh agama. Merujuk pada QS. Al- Baqarah ayat 183, Mas Komed menjelaskan bahwa tujuan berpuasa adalah agar menjadi orang yang bertakwa.

“Ujungnya berpuasa itu adalah agar menjadi orang yang bertakwa. Takwa sendiri itu adalah menyadari bahwa apa yang ada di sekitar dia, apa yang dirasakan dia, selalu ada Allah. Mampu menghadirkan Allah di segala tindak tanduknya itulah takwa. Untuk mencapai takwa harus didasari iman.”

Para jamaah mulai terlihat aktif memberikan pernyataan maupun pertanyaan. Ada yang menanyakan tentang amalan-amalan yang biasanya dilakukan di luar bulan Ramadhan, tapi kok justru selama bulan  Ramadhan ditiadakan. Ada juga yang mempertanyakan tentang perbedaan tafsir la’allakum tattaqun, ada yang mengartikan bahwa bukan puasa agar menjadi orang yang bertakwa akan tetapi justru orang tidak akan sanggup berpuasa kalau tidak bertakwa. Selain itu, ada juga yang memberikan gambaran tentang manfaat puasa jika dilihat dari segi kesehatan jasmani maupun rohani. Menurutnya, proses seseorang untuk mencapai tingkat percaya yang sebenar-benarnya percaya itu berbeda-beda. Ada yang langsung percaya, tapi tak jarang yang masih membutuhkan bukti-bukti untuk memantapkan hatinya. Sehingga, bukti ilmiah manfaat puasa masih perlu disampaikan, meskipun itu bukanlah menjadi tujuan utama dari berpuasa.

Selanjutnya, Mas Komed menyatakan bahwa menurut ilmu Nahwu, la’alla itu mempunyai arti faedah taroji, mengharapkan sesuatu yang mungkin terjadi. Adapun menurut sumber yang lainnya, dikatakan juga bahwa la’alla dapat diartikan memperbaharui yang sudah ada. Jadi, kalau misalkan ada yang menyatakan bahwa makna la’allakum tattaquun dalam QS. Al –Baqarah ayat 183 tersebut sudah bertakwa ya masuk akal. Bahwa puasa untuk memperbarui ketakwaan orang-orang yang sudah bertakwa. Mengingat tingkat ketakwaan seseorang itu juga fluktuatif, naik turun.

Menanggapi pertanyaan para jamaah, Mas Dian pun menyatakan bahwa tidak akan berhasil puasa seseorang, jika dia tidak menemukan 5 hal dalam dirinya setelah berpuasa. Lima hal tersebut di antaranya adalah, wisma yang berarti rumah. Maksudnya, bisa meneduhkan orang lain. Yang ke dua adalah kukila, artinya piaraan, atau biasanya lebih dikenal dengan burung perkutut. Maksudnya, omongannya merdu. Tidak mengganggu orang lain. Selanjutnya adalah wanita, yang menggambarkan kelembutan hati. Turangga yang menggambarkan pengendalian, dan yang terakhir adalah curiga, yang menggambarkan kewaspadaan.

Untuk lebih menghangatkan suasana, Mas Jeffi meminta Mas Rizal dan Mbak Endang untuk memainkan dua nomor musik. Setelah itu, diskusi dilanjutkan kembali. Kali ini, Mas Harianto turut menyampaikan beberapa hal untuk membuka wawasan jamaah. Mas Harianto mengaku bersyukur bisa berada di tengah-tengah jamaah Maiyah Balitar, meskipun sempat pesimis dengan Maiyah Balitar pada awal berdiri dulu. “Tapi Alhamdulillah ternyata luar biasa. Semakin hari semakin banyak temannya, meskipun itu buan tujuan utama. Kita tidak mencari jamaah. Tapi dengan forum ini, kita buktikan bahwa hidup berjamaah itu enak. Kita buktikan indahnya hidup berjamaah.”

Mas Harianto menyampaikan kabar gembira dari Rasulullah. “Rasulullah terkagum-kagum melihat sekelompok pemuda yang bercahaya. Lalu Rasulullah bertanya kepada malaikat Jibril tentang sekelompok pemuda tersebut. Ternyata mereka adalah mutahaabbina fillah. Orang-orang yang bersama-sama yang tidak memiliki alasan lain selain karena cinta kepada Allah. Orang yang bersaudara, meskipun tidak sedarah. Orang-orang yang saling menyayangi karena cinta-Nya kepada Allah, itu adalah orang-orang yang mutahabbina fillah. Dan kita semua yang duduk melingkar malam ini semoga adalah orang-orang itu.”

Instalasi Kebaikan

“Apa yang kita diskusikan malam ini sebatas pengetahuan. Dan ujungnya pengetahuan itu hendaknya menjadi kebijaksanaan atau kearifan hidup. Maka, mari kita niati dengan adanya forum ini, kita bersungguh untuk menjadi orang yang lebih baik, bukan hanya lebih pintar dari kemarin.” Lebih lanjut, Mas Harianto mengibaratkan bahwa pengetahuan yang kita miliki itu ibaratnya file. Berapapun banyaknya file yang tersimpan kalau kita tidak punya program aplikasi untuk membaca file tersebut, ya sama saja. Tetap tidak bisa dibaca. Maka kita perlu menginstal program aplikasi agar pengetahuan itu menjadi ilmu. Menjadi ilmu artinya pengetahuan yang dimiliki menjadi solusi bagi hidup.

Ilmu kelakone kanti laku. Lekase kelawan khas. Tegese khas nyantosani. Ilmu hanya didapatkan kalau orang itu terus memproses kebaikan-kebaikan dalam hidupnya. Doktor, profesor, sarjana itu baru sebatas kolektor pengetahuan. Belum ilmu. Dan itu akan menjadi ilmu jika sudah terinstal di dalam dirinya kebaikan-kebaikan.” Ditambahkan bahwa ilmu itu milik Allah – al ‘alim, Allah yang maha berilmu. Maka barang siapa dekat dengan Allah, dia diberi ilmu. Caranya dengan terus berbuat baik. Dengan kata lain karena sudah banyak kebaikan-kebaikan yang terinstal di dalam dirinya, sehingga apapun pengetahuan yang masuk akan menjadi ilmu.

Tentang puasa pun tak luput dari sorotan. Menurut beliau, sederhananya puasa itu latihan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan hidup daripada mengumbar keinginan, sesungguhnya puasa itu perlawanan terhadap materialisme, hedonisme, kapitalisme. Sebab isme-isme itu kendaraan utamanya tidak lain adalah keinginan.

Malam itu, Mas Harianto mengajak para jamaah untuk berpikir, tidak sekonyong-konyong mengamini apa yang telah disampaikan oleh beliau. Mulai dari menganalogikan puasa dengan permainan sepak bola, sampai menanyakan para jamaah tentang pengendali atas kebermanfaatan sesuatu. Bahwa yang menentukan sesuatu bermanfaat itu terletak di bendanya ataukah pada orangnya. Perlahan jamaah mulai menemukan sebuah titik temu tentang puasa dan manfaat dari puasa itu sendiri. Beruntunglah jamaah yang hadir malam itu, karena telah mendapatkan sesuatu yang baru, dan belum tentu dapat ditemukan di luar forum.

Mencoba menjawab pertanyaan awal yang belum sempat terjawab, Mas Firsa menyatakan bahwa soal rutinan kita di luar bulan Ramadhan yang tidak dilakukan di bulan Ramadhan itu sebenarnya masalah budaya saja. Budaya masyarakat kita yang lebih memilih mempuasai rutinan-rutinan tersebut di bulan puasa ini. Bayangkan saja, jika rutinan yasinan yang biasanya dilakukan sehabis magrib tetap dilakukan, apa kita tidak akan kelabakan mengatur waktunya?

Shalawat ‘Indal Qiyam
Ngeposne Roso

Untuk pertama kalinya, malam itu ada salah satu jamaah yang mencoba mengetuk pintu kesadaran para jamaah lewat bait-bait puisi. Bahwa di maiyah, kita memang diajarkan untuk mendengarkan apa pun dan siapa pun. Belajar mengambil kebaikan, hikmah dari semua itu. Tak terkecuali juga pada bait-bait puisi yang dilantunkan syahdu malam itu. Dengarlah apa saja dan biarkan hatimu yang menyaring, mana yang baik bagimu. Karena di situlah letaknya hidayah.

Setelah itu, diskusi dilanjutkan kembali. Jamaah terlihat antusias mengungkapkan unek-uneknya. Dari beberapa pertanyaan Mas Harianto menanggapi dengan satu statement. “Ketika ada bulan suci, maka bulan yang lainnya menjadi tidak suci. Ketika ada yang disebut hari besar, berarti ada hari kecil. Ketika ada yang istimewa maka yang lain menjadi biasa. Begitu, logika kita selama ini.”

Kesucian dan Keistimewaan

Kembali mengajak jamaah untuk bersama-sama menemukan titik temunya, Mas Harianto menggambarkan mata, hidung, telinga kita yang istimewa jika berada pada tempatnya. Tapi, apa semua itu masih tetap istimewa jika ditaruh di atas meja? Kurang lebih seperti itulah pemaknaan bulan Ramadhan yang dikatakan sebagai bulan istimewa itu. “Letak keistimewaan bulan Ramadhan itu karena terletak di antara sebelas bulan lainnya yang istimewa.”

Tidak berhenti sampai di situ, untuk lebih jelasnya, Mas Harianto mengibaratkan Messi yang pintar main sepak bola itu karena berada dalam satu tim kesebelasan. Sehebat apapun Messi kalau dia bermain sendiri, jangankan lawan PSSI lawan sepakbola RT saja pasti kalah. “Pemimpin yang istimewa itu karena berada di dalam lingkaran istimewa-istimewa itu. Maka, mari kita ciptakan keahlian-keahlian di bidang masing-masing. Ciptakan lingkungan yang istimewa untuk melahirkan pemimpin yang istimewa. Karena pada dasarnya setiap kita adalah pemimpin.”

Setelah diselingi dengan dua nomor Shalawat yang dibawakan oleh Mbak Zulfa dan Mbak Endang, Para jamaah bergantian menyampaikan pemikirannya terkait makna puasa itu sendiri. Di antaranya ada Mas Makhroji yang menyatakan bahwa puasa adalah tentang takaran. Mampu mengepaskan, menakar segala sesuatu sesuai dengan tempatnya. Adapun menurut Mas Hakim, puasa adalah mengekang dari segala sesuatu yang membuat kita lalai dengan Tuhan.

Di penghujung diskusi malam itu, Mas Harianto menyampaikan bahwa tidak ada rasa syukur yang lebih tinggi selain persaudaraan. Karena dengan persaudaraan, apa pun akan menjadi baik.

Pukul 01.30 WIB, acara malam itu dipungkasi dengan bersama-sama melantunkan Shohibu Baity dan dilanjutkan dengan do’a penutup. Setelah itu, para jamaah berdiri menyenandungkan Shalawat ‘Indal Qiyam. Lalu mereka pun melingkar bersalaman satu sama lain dan semakin menambah hangat rasa persaudaraan yang dibangun antar jamaah malam itu. Tim Redaksi Majelis Maiyah Balitar