Ngaji Bareng Kerbau

Ngaji Bareng Kerbau, oase atas kekeringan kajian di tingkat desa, sekaligus simbol perlawanan atas tradisi tanpa saling menghilangkan budaya lain.

Penggiat Maiyah Dusun Ambengan, Mas Saif Munir, benar-benar membuat tradisi baru dalam acara resepsi pernikahan di desanya. Yakni, membuat acara “Ngaji Bareng”.

Jika sekadar pengajian atau ceramah agama, mungkin masyarakat di perdesaan sudah sangat familiar. Begitu juga jika menampilkan hiburan musik. Namun ini, perpaduan antara keduanya. Pengajian, hiburan, pentas musik, ceramah agama, dipadupadan mengiringi walimatul ursy.

Sebelum bergabung menggulowentah Maiyah Dusun Ambengan, mas Saif Munir memang telah aktif menjadi jamaah maiyah Mocopat Syafaat, ketika kuliah di UNSIQ Wonosobo, Jawa Tengah. Tak pelak, guna ngalap berkahnya Mbah Emha Ainun Nadjib, ia berniat mencari keberkahan pada pernikahannya. Maka mas Saif  berinisiatif, menggelar “Ngaji Bareng Kerbau”.

Seperti lazimnya acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng, Ngaji Bareng Kerbau itu juga merupakan pagelaran untuk mengais-ngais ilmu dan kebenaran lewat majelis maiyahan. Dilaksanakan di rumah Mas Saif pada Minggu, 8 Mei 2016 malam.

Acara itu, bukan saja mengejutkan warga sekitar rumahnya yang ikut rewang, namun JM Dusun Ambengan juga banyak yang kaget. Selain materi yang disampaikan, prosesi acara dan musik pengiring tamu undangan juga terlihat mengejutkan, terutama bagi beberapa tamu undangan yang belum pernah ikut maiyahan.

Termasuk, dua narasumber yang menemani simpul utama Maiyah Dusun Ambengan, Cak Sul, yakni Gus Nafis dan Gus Wahid Anshori kakak kandung Mas Saif. Keduanya juga mampu mengimbangi gaya Cak Sul yang membawa jamaah larut dalam kegembiraan dan berupaya mentadaburi ayat-ayat Allah serta memanifestasikan kecintaan pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Awak musik Jamus Kalimasada, membawakan lagu-lagu yang digubah Kiai Kanjeng, benar-benar mengantarkan pada pernikahan yang lain daripada yang lain. Pesta pernikahan yang ghuroba, terasing di desa itu.

Belum lagi, narasumber utama, Gus Wahid yang juga pengasuh Pesantren An Nur Lampung Utara itu dengan detail mblejeti makna dan ngudari kalimat pada beberapa kosa kata bahasa Arab.

Menurut Gus Wahid, ini pernikahan, tapi tema pengajiannya ngaji bareng dan ada gamelan yang namanya Jamus. Bukankah Jamus itu bahasa Arab yang artinya kerbau. Berarti kita malam ini hadir dalam pernikahan adik saya. Acaranya, ngaji bareng kerbau. Semua orang tertawa.

Tidak mau kalah, Cak Sul menyahut. Kerbau itu Kebo. Artinya, kebodohan, kebohongan, kebobrokan. Karena sadar diri masih bodo, suka bohong dan bermental bobrok itu kita belajar untuk tadabur, berpikir biar tidak bodo, biar jadi orang jujur dan baik akhlaknya. “Jamus itu singkatannya juga Jaminan Masuk Surga,” kata Cak Sul. Semua jamaah kembali tertawa.

Termasuk Gus Wahid dan Gus Nafis. Wes pokoke sak karep-karepe gotak gatuknya. Semua jamaah gembira, bahkan ketika dibawakan lagu Padhang Mbulan oleh Mas Dikin yang digubah Kiai Kanjeng, terlihat ada wajah-wajah sumringah. Beberapa warga yang ada di depan rumah-rumah dan duduk di pinggir jalan, mulai mendekat.

Tak sampai di situ saja, Gus Wahid bahkan mengulas ucapan selamat dan doa agar sakinah, mawadah dan warohmah. Ini ucapan dan doa yang lucu bagi mempelai. Sakinah itu berasal dari kata sakana, yaskunu sakinatan, masakin atau miskinan, itu sama. Artinya miskin, melarat. Jadi mari kita doakan kedua mempelai hidup miskin, hidup melarat. Sontak saja semua jamaah tertawa.

Namun kemudian, Gus Wahid menalar, memang kebanyakan rumah tangga yang tenang, adem, sama-sama penuh harmoni dan cinta itu kalau hidupnya melarat. Punya sepeda motor satu, istrinya diantarkan ke pasar, mesrah, rukun, penuh cinta. Begitu punya sepeda motor banyak, punya mobil, istrinya tidak lagi dibonceng, tetapi ngacir sendirian.

Kebanyakan rumah tangga, kalau sudah kaya, panas, kemrungsung dan sering tidak tenang.

Apalagi kalau laki-laki kaya. Jelas Gus Wahid, kalau lelaki kaya itu kebanyakan nakal. Tapi kalau perempuan nakal, itu kebanyakan kaya.

Semua JM di acara Ngaji Bareng Kerbau di Desa NotoHarjo, Lampung Tengah itu seperti mendapat asupan segar, maiyahan kembali setelah lama menunggu rutinitas Ambengan yang jatuh pada Sabtu malam pada minggu kedua setiap bulan.

Kesadaran untuk membersamai, mentadaburi dan mencari jalan keberkahan hidup lewat maiyahan itu, terlihat dari banyaknya JM Ambengan yang datang meski jarak yang ditempuh sangat jauh. Beberapa di antaranya bahkan konvoi dengan mengendarai sepeda motor. Beberapa jamaah asal Bandarlampung, hanya berbekal peta di undangan medsos, dari Minimarket di Trimurjo, belok kiri, tanya rumah Mas Saif.

Sementara begitu sampai di Trimurjo, ada dua minimarket. Dan ternyata masuk ke kirinya, ada sekitar 9 kilometer, melewati jalanan becek yang di tengah-tengahnya banyak lubang seperti kubangan kerbau, itu pun, masih melintasi jembatan irigasi, arah Pasar Welit, masuk gang lagi sampai sejauh 2 kilometer. Jalanan selepas maghrib, sudah sunyi senyap.

Salah satu JM yang mengendari mobil dari Kota Bandarlampung, menyatakan tidak mungkin ketemu alamatnya jika tidak dipertemukan dengan teman yang seolah sudah direncanakan Allah. Teman yang sudah lama tidak bertemu, tiba-tiba berdiri di depan minimarket dan mengaku sudah bermukim di Desa NotoHarjo. Pertemuan dengan teman yang masih enggan ikut Ngaji Bareng Kerbau itu menambah kekuatan batin JM asal Bandarlampung, bahwa jalan menuju maiyahan itu sudah dituntun Allah meski tak tahu alamatnya.

Pertengahan acara, sekitar pukul 22.30 WIB, suasana perdesaan sangat terasa. Selain senyap juga tentram sekali. Berbaur dengan mulai turunnya kabut dan hawa dingin, awak musik Jamus Kalimasada membawakan kidung Lir-ilir. Dari tempo rendah dan mirip uyon-uyon, dilanjutkan shalawat badar yang nadanya dipopulerkan Kiai Kanjeng. Meski tampak khusyuk, namun beberapa JM mengaku bingung antara mengaji, mendengar lagu, salawatan atau menghadiri undangan pernikahan.

Meneguhkan diri untuk membersamai orang desa, Cak Sul dan musik Jamus Kalimasada membawakan tembang Pak Tani dari Koes Ploes. Sejumlah shalawat, serta beberapa lagu di antaranya Zapin miliknya Iyet Bustami, semua dibawakan dengan apik. Bahkan, pemain seruling Jamus Kalimasada, Mas Minto banyak menyita perhatian jamaah. Sebab, selain tiupan yang memukau dan lembut, Mas Minto adalah juga seorang pembuat suling di Lampung. Hampir semua pemain musik sudah mengenal beliau.

Begitu juga penabuh bonang, Mas Ihsan, ketika Jamus Kalimasada membawakan lagu Maroon 5 yang berjudul One More Night, seperti yang pernah diaransemen Kiai Kanjeng, ketukan-ketukan bonang membuat pesona tersendiri.

Ngaji Bareng Kerbau di pernikahan Mas Saif, semacam oase atas kekeringan kajian di tingkat desa, sekaligus simbol perlawanan atas tradisi undangan pernikahan tanpa membuat perlawanan atau ajang saling menghilangkan dan meniadakan budaya lain. Melainkan, menyempurnakan hajatan.

Tentu saja, bukan sekedar menambah kajian dan pemahaman tentang agama Islam bagi jamaah melalui pesan-pesan kepada pengantin, undangan dan warga sekitar juga terhibur dengan sistem akulturasi itu. (Redaksi Maiyah Dusun Ambengan/Endri kalianda)