Ndomblong di Hadapan Allah

Cak Nun melahirkan idiomatik Ndomblong di Hadapan Allah. Suatu kesadaran di hadapan-Nya karena merasa amat sangat kecil di hadapan Allah.

Kebahagiaan yang terpancar dari wajah-wajah masyarakat di dusun, desa, dan pelosok-pelosok itulah “lapangan” KiaiKanjeng. Itu pula  sebabnya, malam ini mengawali kehadirannya di Lapangan Sorasan Bimomartani Sleman, KiaiKanjeng mempersembahkan nomor lama pujian Jawa Asyhadu alla ilaha illallah yang ditembangkan oleh Imam Fatawi.

Memasuki jalan menuju lokasi acara sudah dipapar oleh pedagang-pedagang dadakan yang menawarkan beragam produk: peci, tasbih, jajanan, mainan dan lain-lainnya lagi. Orang-orang berduyun-duyun datang. Sebagian berjalan kaki. Sebagian lain telah memarkir motornya di tempat yang sudah disediakan. Dan sebelum Cak Nun datang, mereka sudah memenuhi lapangan desa ini.

Tadabburan bersama Cak Nun "Peresmian Gudang Lam Cocoa"
Tadabburan bersama Cak Nun “Peresmian Gudang Lam Cocoa”. Foto: Adin.

Sementara ketika Cak Nun tiba di lokasi langsung segera menuju gudang baru Lam Cocoa. Sekitar 150 anak yatim sudah menanti kedatangan Cak Nun di tempat yang sama. Oleh pemilik perusahaan Lam Cocoa mereka diundang untuk bersama-sama Cak Nun berdoa dalam rangka tasyakkuran dan peresmian gudang barunya.

Begitu Cak Nun turun dari mobil dan melangkah ke dalam gedung, anak-anak itu berhamburan menyalami dan mencucup tangan Cak Nun. Kemudian di barisan depan, seorang ustadz dari Mesir mengenakan busana dan peci putih merah hampir mirip peci Maiyah juga sudah di duduk di sana lebih awal. Saat Cak Nun datang, beliau langsung berjabat tangan dan memeluk Cak Nun seakan sudah familiar dan mengenal Cak Nun dengan baik.

Perusahaan Lam Cocoa ini memiliki perlebaran pasar sampai ke Mesir. Dan di sana ada beberapa pihak yang secara kontinu disuplai coklat dan kopi dari Lam Cocoa ini. Hubungan tersebut berjalan sangat baik. Sehingga mereka, beberapa orang Mesir ini, datang ke Indonesia dan mau ikut menikmati kebersamaan Tadabburan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng.

“Berdoa itu tak pernah berhenti. Sejak saya berangkat dan berniat ke sini, hati saya sudah mendoakan Anda, dan terus-menerus. Kalau hati saya berhenti do’a, gantian darah saya yang mendoakan. Jadi tak pernah ada jedanya,” ujar Cak Nun saat memulai mendoakan hajat Lam Cocoa. Doa Cak Nun adalah dengan cara mengajak semua anak yatim berdiri, meminta mereka melantunkan al-Fatihah, surat al-Ikhlas, al-Falaq, an-Naas dan disambung dengan sholatun minallah, dipuncaki ayat Innama amruhu idza aroda syaian an yaquula lahu kun fakaun. Kemudian Cak Nun membaca wirid kasih saya, rizki, dan petunjuk. Seluruh hadirin termasuk Ustadz dari Mesir tadi mengamini.

Lepas doa dari Cak Nun,  sejumlah perwakilan anak-anak yatim dan dhuafa berbaris di depan Cak Nun untuk menerima bingkisan dan tali kasih dari Lam Cocoa. Cak Nun dimohon menjadi semacam “wali” dari proses ini yang memberikan doa dan restu. Bahkan Cak Nun turut membantu menyerahkan bingkisan itu kepada mereka.

Ustadz dari Mesir
Ustadz dari Mesir. Foto: Adin.

Cak Nun yang malam ini mengenakan celana hitam, baju putih, dan peci Maiyah putih merah naik ke Panggung saat KiaiKanjeng membawakan nomor Padhang Mbulan sebagai nomor kedua yang dipersembahkan malam ini. Dalam bahasa yang disesuaikan dengan situasi, latar belakang, budaya, sosiologi, dan rasa yang pas, Cak Nun lebih banyak berbicara dalam bahasa Jawa sekalipun bercampur dengan bahasa Indonesia. Semua tetap teramu dalam logika, nuansa, dan aksentuasi-aksentuansi yang khas.

Ibu-ibu, bapak-bapak, muda-mudi, seluruhnya yang hadir, mendapatkan pesan dari Cak Nun pada tahap awal untuk memastikan diri mereka tergolong orang yang bejo (beruntung) atau bukan, tetapi dengan kriteria yang kualitatif dan sejati. Apa tanda-tanda bahwa mereka bejo. Begitu juga dengan celaka. Out put dari semua itu adalah sikap hidup yang tepat. Kaya tetapi tidak mbagusi atau sombong. Kalau miskin, tidak minder. Sedih pun demikian. Perlu “dilawan” semua gejolak seperti itu. Akhirnya tiba sikap ikhlas. Yakni kesediaan menerima apa pun saja dari Allah, dan bukan sekadar menerima tetapi sekaligus memahami bahwa yang diberikan oleh-Nya adalah yang paling baik.

Sementara itu, Mas Saiful pemilik Lam Cocoa menggambarkan situasi bisnis di dunia international kaitannya dengan fakta monopoli oleh segelintir orang asing dalam hal komoditi kopi, coklat, dan cengkeh. Indonesia yang kaya akan kekayaan hasil tumbuhan tidak sedikit menjadi faktor yang menentukan harga produk-produk tersebut. Justru orang Singapura, Cina, dan beberapa negara lain. Salah satu penyebabnya adalah penyakit broker/makelar di mana broker ini bakal mendapat keuntungan besar kalau dilewati barang dari luar negeri.

Bila kita berkeliling di tengah Maiyahan berlangsung melihat ke pinggir-pinggir atau beberapa sudut didapati berbagai macam kenyataan orang-orang yang begitu istiqamah, sungguh-sungguh bertekad mendapatkan ilmu, setia kepada tahapan-tahapan yang berlangsung di dalam Maiyahan, dan semua detail-detail Maiyahan. Ada anak usia kelas 2 SMP nggak paham-paham amat dengan pembicaraan, tapi sorot matanya terfokus terus kepada Cak Nun, ada anak kecil lagi mengenakan peci Maiyah tapi tak dilipat sehingga menjadi tinggi, ada deretan bapak-bapak yang tak bergeser posturnya karena benar-benar menyimak apa-apa yang dibahas. Dan lain-lain fenomena kelekatan hadirin  atau jamaah kepada kebersamaan seperti malam ini.

Sementara itu, tak ingin menyeret lebih jauh hadirin ke tema-tema politik ekonomi dan penguasaan pada skala internasional, menanggapi kegelisahan dan curhat Mas Syaiful tadi, Cak Nun hanya memberikan tiga penjelasan. Salah satunya adalah pertanyaan konteksual “apakah pemerintah Anda mau menolong rakyatnya atau malah mau menghancurkan Anda” dalam konteks monopoli ekonomi internasional oleh orang-orang dari luar negeri seperti disebutkan Mas Syaiful.

Cak Nun berpesan kepada Mas Saiful untuk banyak-banyak membaca Surat al-Kahfi. Di dalamnya banyak ayat yang berbicara tentang kebun, di antaranya ada kebun orang yang beristiqamah. Sesuatu yang mungkin relevan dengan dinamika perjuangan dan naik-turunnya dalam berbisnis, dan dengan kenyataan bahwa yang dilakukan olehnya adalah membangun dan memproduktifkan kebun, yakni coklat dan kopi.

Kelekatan Jamaah Kepada Kebersamaan
Kelekatan Jamaah kepada Kebersamaan. Foto: Adin.

Biasanya membawakan lagu Maroon 5 One More Night, malam ini Doni membawakan nomor Cat Stevens Yusuf Islam Wild World yang diaransemen KiaiKanjeng dan sudah lama tak dibawakan sehingga memberikan warna berbeda yang bersifat me-refresh. Sementara itu Imam Fatawi tetap menghadirkan khasanah Bang Haji Rhoma Irama yaitu Gelandangan. Ada duet seorang Ibu dan salah satu tokoh yang turut naik di panggung dan membawakan campursari Sewu Kutho. Musik dan suasana sublim berlangsung saat sekitar sepuluh menit Cak Nun dan KiaiKanjeng mengajak jamaah melantunkan beberapa shalawat khusyuk dan mencicipi Maulid Simthut Duror.

Mari kita bayangkan dan switch imajinasi budaya kita bahwa musik KiaiKanjeng yang malam ini berada di desa bersama masyarakat “kecil”, pada tahun 2003 misalnya membuat heboh Mesir. “Saya bertemu Cak Nun di Mesir. Pada pertemuan pertama biasa saja, tapi selepas pertemuan itu, saya selalu kangen beliau. Saat ke Mesir itu Cak Nun dan KiaiKanjeng bikin heboh Mesir karena membawakan lagu-lagu legenda Mesir dan dunia yaitu Ummi Kultsum dengan perangkat musik yang tak pernah mereka bayangkan dan lihat. Presiden-presiden pulang ke Mesir lalu lengser, tapi Cak Nun tidak. Cak Nun adalah orang yang bisa apa saja,” ujar Pak Nur Fadhilah dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Mesir yang malam ini turut hadir Maiyahan di sini.

Pak Nur Fadhilah mengetengahkan bahwa umat Islam adalah orang yang punya kecenderungan untuk tenteram dan berkecenderungan untuk mudah merasa cukup. Kendatipun dua hal ini bisa disalahpahami dan sikapi. Kemudian beliau bercerita tentang kehidupan orang Mesir yang rata-rata dermawan. Mesir bukan negara maju, tetapi negeri berilmu. Masih mudah ditemui mahasiswa-mahasiwa dan dosen-dosen berada di satu bis umum. Hal yang mungkin tidak ditemui di Indonesia.

Cak Nun selalu memberikan keseimbangan. Suatu hari Rasulullah kedatangan tamu orang Yahudi yang memberinya buah-buahan yang sangat banyak. Rasulullah tidak membagikannya untuk orang lain atau para sahabatnya. Sehingga hal ini bisa memunculkan prasangka buruk “Nabi kok pelit dan serakah”. Apakah Rasulullah tidak dermawan? Rasul tidak membagi-bagikan buah itu karena ternyata rasanya pahit. Rasulullah tak ingin menyiksa sahabat-sahabatnya dengan rasa pahit itu.

Menolong atau menghancurkan rakyat?
Menolong atau menghancurkan rakyat? Foto: Adin.

Lebih jauh Cak Nun menegaskan bahwa pandai sangat dibutuhkan jika ia membawa manfaat. Bodoh (ketidaktahuan) dalam batas tertentu juga dibutuhkan jika dengan ketidaktahuan banyak manfaatnya. Dalam konteks komparasi dengan orang-orang Mesir tadi, Cak Nun menggambarkan dengan logika bertekuk-tekuk, “Anda semua pandai sebagai rakyat, meskipun belum tentu pandai sebagai pejabat. Kalau pejabat itu belum tentu pandai menjadi rakyat, walaupun tidak pandai juga sebagai pejabat.”

Salah satu usaha Lam Cocoa adalah sebuah Kedai Kopi bernama Ndomblong. Sepatah kata yang sulit dicari padanannya di dalam bahasa Indonesia. Diartikan bengong atau melamun juga tidak pas. Tapi Cak Nun punya sensiblitas tersendiri. Dengan kata itu, Cak Nun melahirkan idiomatik “Ndomblong di Hadapan Allah”. Suatu kesadaran “semacam bengong” di hadapan-Nya karena merasa amat sangat kecil di hadapan Allah. Dan itulah salah satu sikap Maiyah.

Tak terasa jam menunjukkan pukul 00.25, acara memasuki doa penutup. Seperti biasa Cak Nun mendoakan kebaikan bersama. Seorang anak kecil “ndableg” yang peci Maiyahnya ditinggikan ikut mengamini. Saat Cak Nun mendoakan, “Semoga anak-anak kita dilindungi Allah, lancar pendidikannya, masa depannya baik…,” spontan ia merespon dengan suara lebih semangat dari sebelumnya, “Wa iki wajib amin iki…amin amin amin.”