Daur (143)

Narapidana Bahagia

Ta’qid : “...tidak benar-benar takut kepada neraka, jika dilihat dari begitu mudahnya mereka melakukan keburukan, kejahatan, pelanggaran dan kehinaan...”

Kalau tidak salah sekarang ini pas bulan Ramadlan. Untung saja Markesot ingat. Jadi Markesot memutuskan untuk sangat menahan diri untuk tidak menjawab, apalagi dengan amarah, tuduhan-tuduhan Saimon. Apalagi dia sendiri yang meminta Saimon untuk membisu. Kalau dia ladeni, pasti akan lebih berkepanjangan lagi.

Orang-orang yang bergerombol di sekitarnya, yang sama-sama hadir mendengarkan Nguntal Buah Simalakama, bukanlah orang-orang yang tahu siapa Markesot. Kalau di antara mereka kebetulan melihat Markesot omong-omong sendiri, karena mereka tidak bisa melihat ada Saimon di situ, tentu akan menambah masalah. Kalau sekadar dianggap orang sinting tak masalah, tapi Markesot khawatir ada kata-katanya yang terlanjur masuk ke otak mereka, kemudian menjadi virus atau tumor, bagaimana.

Mana mungkin mereka kenal Markesot. Sebab era keaktifan Markesot sekitar tiga generasi sebelum mereka. Anak-anak muda di sekitarnya ini rata-rata belum lahir ketika Markesot merajalela mengganggu-ganggu pikiran orang di sana sini. Apalagi memang yang dilakukan oleh Markesot adalah melangkahkan kakinya di Jalan Sunyi.

Markesot selalu sangat akrab dengan siapa saja yang bersamanya. Mereka seperti adik kakak atau anak bapak. Bersenda gurau, berkelakar, saling mensimulasikan imajinasi, mencerdasi kenyataan-kenyataan sosial sampai seakan-akan menjadi dongeng. Suasana pergaulan mereka selalu sangat riuh rendah, penuh tawa dan seakan-akan sedang mempermainkan utara selatan barat dan timur. Padahal sesungguhnya mereka berdiskusi sangat serius, mendasar, bahkan mendalam.

Yang disebut Jalan Sunyi bukan wajah dan tekstur budaya silaturahmi mereka, melainkan Markesot selalu membukakan pintu-pintu baru di dalam memandang kehidupan. Kesunyiannya tidak terletak pada permukaan pergaulan mereka, melainkan pada wilayah perhatian mereka yang aneh, cara pandang, pola pikir dan rumusan-rumusan baru yang tidak pernah terdengar atau dipakai oleh kebanyakan masyarakat. Itu yang menyebabkan semua itu terasa sebagai Jalan Sunyi.

Masyarakat pada umumnya sudah diculik oleh agen-agen kekuasaan sejarah. Menjadi narapidana dari sales-sales cara hidup, pola pikir, bahkan sampai tingkat ideologi dan teologi, yang bernama Globalisasi. Mereka bukan hanya tidak mau mengerti bahwa mereka adalah narapidana, malahan Globalisasi adalah kata yang sangat dibangga-banggakan di dalam perbincangan sehari-hari, diskusi ilmiah maupun pidato-pidato para Pejabat Negara.

Tidak hanya per-individu, tetapi juga sistem sosial mereka, pengikisan budaya komunalitas mereka. Bahkan disandera juga oleh siluman-siluman kekuasaan global tatkala mereka mendirikan Negara, menyusun program kemajuan dan pembangunan.

Masyarakat menjadi pemeluk teguh dari ‘Agama’ yang mereka tidak benar-benar kenali dan pahami. Bahkan mereka tidak mengerti bahwa mereka sedang memeluk ‘Agama’ itu, karena mereka meyakini sedang menjalani secara khusyu Agama yang mereka pikir mereka peluk. Mereka rajin beribadah, mendekat ke Tuhan, merindukan sorga dan ngeri kepada neraka, lengkap dengan simbol-simbol dan budaya ekspresinya, tetapi cara mereka menjalani Agama itu sesungguhnya digiring oleh ‘Agama’ yang mereka tidak menyadarinya.

Bahkan kemungkinan besar mereka tidak benar-benar takut kepada neraka, jika dilihat dari begitu mudahnya mereka melakukan keburukan, kejahatan, pelanggaran dan kehinaan, yang bukan hanya semua itu akan lambat atau cepat menghancurkan mereka beserta anak cucu mereka — tetapi juga mengecewakan hati Tuhan.

Mereka rajin beribadat kepada Tuhan terutama karena didorong oleh janji akan memperoleh pahala. Yang mereka maksud dengan pahala bukan utamanya ketinggian derajat di hadapan Tuhan, atau kemuliaan tatkala nanti menjalani kehidupan yang sejati, dengan jatah waktu yang tak bisa dihitung, yakni – kalau menurut Tuhan sendiri: dua kali keabadian.

Kholidina fiha, demikian janji Tuhan, mereka hidup kekal di dalamnya. Ditambah abada: abadi.

Mereka tidak tertarik oleh kekekalan maupun keabadian. Pahala yang mereka pahami adalah laba sebagaimana di dunia. Laba kekayaan, lebih banyak harta, menumpuk-numpuk kemewahan. Sangat bernafsu ingin masuk sorga supaya tercapai kepuasaan dunia setuntas-tuntasnya, bisa punya rumah-rumah, mobil-mobil dan apa saja kenikmatan dunia semewah-mewahnya.

Tuhan cukup banyak memberikan tanda-tanda tentang sorga, tetapi mereka tidak mempelajarinya. Tidak mencari ilmu dari informasi Tuhan. Sebab terlalu sibuk dengan anggapan-anggapan duniawi mereka sendiri tentang sorga dan akhirat.