Catatan Sinau Bareng Jogja Gumregah, Yogyakarta 4 Oktober 2016

Nandur Indonesia Yang Lebih Baik

Bagi Cak Nun dimensi yang perlu dipegang terus adalah acara seperti malam ini, nandur (menanam) yang kelak pasti akan tiba pada masa wohe atau panennya.

Walaupun nomor puisi “Ke mana Indonesiaku” yang diadaptasi dari puisi “Ke mana Anak-anak Itu” dalam album Kado Muhammad belum jadi dibawakan lantaran waktu yang ternyata sudah lewat dari pukul 01.00, sesungguhnya muatan-muatan inti dari semangat Jogja Gumregah sudah diungkapkan dan diresapi bersama. Harapannya, Jogja dapat menjadi sebagaimana yang dipesankan oleh HB I yaitu Nyawiji, Greget, Sengguh, dan Ora Mingkur. Menyatu, penuh semangat, percaya diri, dan tidak lari dari keharusan. Itulah nilai-nilai yang saat ini sesungguhnya dibutuhkan oleh Indonesia, dan Jogja mengawali gumregah akan kesadaran itu.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Pukul 01.25 acara telah dipuncaki dengan menyanyikan lagu Syukur, doa bersama, jabat tangan, dan iringan lagu KiaiKanjeng berjudul Walau Mentari. Masyarakat Warungboto telah bersama-sama cancut taliwondo bekerja sama demi terlaksananya acara ini. Cak Nun mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih kerjasama dan kebersamaan tersebut. Bagi Cak Nun dimensi yang perlu dipegang terus adalah acara seperti malam ini adalah nandur (menanam) yang kelak pasti akan tiba pada masa wohe atau panennya, yaitu Indonesia yang lebih baik, yang lebih sejati kepemimpinannya, dan lahirnya generasi yang baru, dimulai dari Warungboto ini. (hm/adn)