Daur (87)

Naga di Pintu Depan Sorga

“Perintahkan kepadaku, wahai Baginda Nabi, apa saja, apapun saja, saya akan lakukan dengan sepenuh hati”

Markesot terus bergeremang sendiri.

“Segala perintahmu, yang sukar, yang mudah, yang berat, yang ringan, hingga yang mustahil pun, saya berbahagia melaksanakannya”

“Apa saja, wahai Rasul, karena perintahmu adalah perintah-Nya”

“Asalkan jangan suruh saya menggenggam matahari di tangan kanan dan rembulan di tangan kiri, sebagaimana sumpah Baginda di depan Pamanda Abu Thalib”

“Saya sudah tua, badan saya semakin lemah, tidak mungkin kuat lagi memanggul batu lebih dari satu kwintal di pundak bersangga punggung. Tetapi kalau Baginda suruh saya menjadi Don Kisot menyeret sekwintal demi sekwintal batu naik ke puncak gunung, akan saya lakukan meskipun sampai lumpuh, sehingga batu-batu itu yang bergantian menyeret badanku ke puncak gunung”

Markesot yang lain yang berada di dalam diri Markesot tertawa terkekeh-kekeh mendengar suara batin Markesot.

Sebenarnya, ada berapa Markesot di dalam Markesot?

Semua Markesot sudah sejak awal dahulu kala menyepakati untuk tidak akan pernah menjawab pertanyaan semacam itu. Karena setiap Markesot yang terkandung di dalam Markesot punya jawaban yang berbeda-beda, meskipun sebagian seakan-akan sama.

“Tetapi kalau Baginda mememerintahkan kepada saya untuk pergi mencluringi Istana dan memegang leher Baginda-Bagindaan yang duduk mengkudeta Singgasana, maka segera kulaksanakan dengan penuh riang gembira”

“Saya tiup batu akik di jari-jariku dengan basmalah, kemudian kumasuki pantulan sinarnya, kemudian tinggal saya pilih mengendarai pantulan sinar yang mana di antara pancaran-pancaran cahaya berlian tajallillah yang jumlahnya tak terhingga”

Terdengar suara tertawa mengejek dari salah satu Markesot yang sepanjang hidup Markesot tidak pernah menampakkan wajahnya. Yakni Markesot yang melihat dan mengawasi Markesot dari atas yang jauh.

“Atau sekurang-kurangnya Baginda suruh aku berperang tanding, atau menyerbu batalyon demi batalyon tentara Negara, baik di markas-markas mereka atau di medan perang — percayalah wahai Baginda, bahwa itu akan saya patuhi dengan penuh gairah”

“Ataukah saya harus memanggul karung satu ton pasir, berkeliling, kutaburkan,  kulemparkan segenggam demi segenggam, sehingga setiap butiran pasir itu menyentuh tembok gedung-gedung itu berubah menjadi kobaran api. Ayo, saya mohon, instruksikan kepada saya wahai Baginda”

“Atau saya hembuskan hawa, hawa, hawa, sampai mengepung dan memenuhi seantero Negeri. Hembusan hawa itu menjadi kendaraan bagi tebaran kekuatan sejati, sulthan hadiah dari langit, serta yang menyeruak dari lingkaran cakrawala sebulatan bumi”

Sulthan yang membangunkan bangsa ini dari tidurnya, menegakkan kembali akal mereka, mensemestakan kembali jiwa mereka, memacu dan meneguhkan kembali keberanian tauhid mereka”

“Wahai Baginda Rasul, makhluk-makhluk di sekitar hidup saya ini, yang di hutan atau sawah, yang di gunung atau kampung, yang di desa atau kota, yang di gedung atau jalanan, yang di pasar atau gardu, yang sedang bekerja atau terbaring, semuanya, semuanya, wahai Baginda, memerlukan ukuran-ukuran itu. Ukuran pada mata, telinga dan semua perangkat jasadnya. Ukuran bagi nilai-nilai yang sedang dijalaninya. Ukuran di ruangnya, maupun sepanjang waktunya….”

***

Markesot ternyata akhirnya tidak kuat menampung dan memanggul kalimat-kalimatnya sendiri, hingga tertidur di bawah pohon itu. Tertidur tidak tergeletak di tanah, melainkan tersandar punggungnya di pohon.

Andaikan ada yang menguntit perjalanan Markesot, ia akan baru tahu sejumlah hal padanya. Misalnya, rambut Markesot.

Yang tatkala dikeluarkan dari persembunyian bungkus kepalanya, menggerai dan memanjang mencapai hampir pertengahan kakinya.

Wajahnya yang kerut-merut, tidak sepadan dengan hitam legam rambut panjangnya. Seakan wajahnya menjalani kehidupan dan waktu sendiri, yang berbeda dengan yang dijalani oleh rambutnya.

Terlebih lagi badannya. Dari leher hingga pergelangan kakinya. Keriput wajahnya yang mencerminkan ratusan tahun waktu, sangat tidak bersesuaian dengan badannya yang padat bening pegas seakan berusia dua atau tiga puluh tahun.

Tiba-tiba Markesot terbangun dari tidurnya.

Dari posisi terbaring ia langsung melesat berdiri dan pasang kuda-kuda. Baru kemudian kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, ke depan berkeliling hingga ke belakang.

Ia baru menyadari bahwa kuda-kudanya bukan kuda-kuda tangan kosong, melainkan tangan kirinya menggenggam sesuatu, sebatang tongkat.

Tongkat yang panjang hampir setinggi badannya. Tongkat kayu yang berkepala Naga.

Naga? Apakah ini ada kaitannya dengan pasukan Naga yang sedang menyerbu Negerinya hari-hari ini dengan sangat gencarnya? Sedemikian gencarnya sehingga kebanyakan penduduk tidak menyadari bahwa mereka sedang diserbu. Bahkan serbuan Naga yang kasat mata dan cetho welo-welo pun tak disadarinya, karena di otak para penduduk itu telah disiapkan oleh Raja Naga suatu cara pandang yang menyimpulkan bahwa itu bukanlah serbuan Naga.

***

Memang yang membangunkan Markesot dari tidurnya adalah tongkat yang meluncur menyerang kepalanya.

Itu yang menyebabkan ia langsung melesat berdiri, dan merasa sedang menangkap lemparan tongkat itu, memegangnya dan mencari ke berbagai arah siapa gerangan yang menyerangnya.

Tetapi ternyata bukan itu persis masalahnya. Bukan soal serbuan Naga dari Utara. Naga itu adalah Naga raksasa yang tinggal di pintu depan Sorga. Kepalanya di luar, badannya memanjang di bagian dalam sorga.

Pada suatu sore ketika Naga Raksasa itu menguap, Iblis meloncat masuk ke dalam mulutnya. Kemudian berjalan menelusuri bagian dalam badan Naga. Menjelang tengah malam Iblis tiba di dubur Naga, dan melangkah keluarlah Iblis dari dalam tubuh Naga ke pelataran sorga.

Semoga Markesot tidak bergeremang mengisahkan apa siapa dan dinamika eksistensi makhluk dahsyat yang ummat manusia mengenalnya sebagai Iblis. Manusia merasa tahu Iblis, dan pengetahuannya tentang Iblis sangat sedikit dan kecil dibanding kebencian mereka kepada Iblis.

Bahkan berabad-abad manusia melakukan kesalahan dan dosa-dosa, sambil menyalahkan Iblis sebagai pihak yang menyebabkan mereka melakukan dosa-dosa itu. Setiap manusia bersalah, Iblis tertuduhnya. Kalau manusia melakukan kebaikan, Iblis dikutuknya:  “Syukur Alhamdulillah kita dibebaskan Allah dari godaan Iblis”

Mohon Markesot jangan persoalkan ini dulu. Cukup fragmen saja, bahwa sekeluarnya dari dubur Naga Raksasa itulah Iblis berjalan menuju tempat Adam. Tujuannya jelas: “Kan Allah menciptakan Khalifah di bumi, kenapa Adam kok malah di sorga?”