Daur (134)

Nabi Sok Manusia

Ta’qid : Dan bodohlah manusia yang berada di tengah perjalanan menuju keabadian, tapi terlalu mengandalkan panca indra

“Salahmu sendiri kenapa megat-ruh, akibatnya dipegat oleh ruh”, Saimon menyindir.

“Apa maksudmu?”, Markesot bertanya.

“Kamu diusir oleh Kiaimu, kan?”

“Kiai siapa? Diusir dari mana? Megat dipegat ruh, ruh apa?”

Saimon tertawa.

“Kamu ternyata sangat terpengaruh oleh kebudayaan manusia Jawa. Padahal semestinya kamu yang mempengaruhi mereka”

Markesot gentian tertawa.

“Megat-ruh itu maksudmu. Saya tidak mengerti tembang Jawa. Saya tidak pernah belajar kebatinan. Kamu malahan yang terpengaruh oleh Jawa. Saya cuma tidur, kamu bilang megat-ruh. Saya hanya melamun, kamu otak-atik seolah-olah ada hubungannya dengan olah ruh dan jasad. Lantas kamu bilang jasad saya megat ruh. Ah, ngarang kamu”

“Kan buktinya ruh-mu tadi pergi dari jasadmu”

“Benar. Itu tidur namanya”

“Latihan mukswa. Megat ruh…”, Simon terus mengejek.

“Ruh kok dipegat”, sahut Markesot, “Subjeknya siapa? Aktor utamanya yang mana? Jasad kan cuma amat. Hanya wadah sementara. Materialisme kan cuma hiasan rendahan, halusinasi, mempesona panca indra. Dan bodohlah manusia yang berada di tengah perjalanan menuju keabadian, tapi terlalu mengandalkan panca indra”

Sekarang Saimon yang tertawa terpingkal-pingkal.

“Kenapa kamu ini?”, Markesot agak tersinggung.

“Saya sangat bisa merasakan kesedihan di dalam jiwamu, Sot. Saya berteman dengan kamu sudah sangat lama. Saya hapal gejala-gejala perilakumu. Dan terus terang saya heran kamu kok sampai segitu-gitunya mikirkan manusia. Mbentoyong, kata orang Jawa. Ngongso, ngoyo, sok Nabi”

Markesot menarik napas sangat panjang.

“Mon, malah kamu yang hobi memakai bahasa komunitas manusia di sekitar saya”

“Maksudmu?”, Saimon tidak paham.

“Kamu kan bilang saya sok Nabi”

“Ya memang”

“Ratusan tahun saya menemani mereka, sedikit pun saya tidak terpengaruh oleh bahasa mereka — meskipun saya juga sama sekali tidak mampu memberi pengaruh apapun kepada mereka”, Markesot menjelaskan, “tetapi malah kamu yang suka terpengaruh bahasa dan psikologi manusia, gara-gara kamu sering dolan menemuiku”

“Saya belum paham”

“Ya sok Nabi itu”

“Hubungannya apa?”

“Itu cerminan salah satu sisi sakit jiwa komunitas manusia di sekitar saya. Dan kamu terpengaruh oleh mereka. Aslinya sangatlah tidak terhormat bagi Jin untuk berposisi terpengaruh oleh manusia. Kecuali manusia kaliber Nabi Sulaiman, atau pertapa seperti Asif Barkhiyah, Raden Sahid”

“Sungguh-sungguh maaf saya belum mengerti…”

“Kalau Nabi sebutlah Nabi. Kalau bukan Nabi, sebut saja bukan Nabi. Tidak perlu kata ‘bukan’ diganti ‘sok’. Kita berdua sama-sama makhluk biasa di alam masing-masing. Tidak punya keistimewaan, bukan pemuka, dedengkot atau pemimpin, apalagi Nabi. Tapi ya ndak usah dihardik sebagai Sok Nabi”

“Oalah itu maksudmu”, Saimon tertawa kecut, “Itu kan bahasa komunikasi di antara kita berdua. Bukan idiom sosial. Dan tidak ada audiensnya kecuali kita berdua. Kok kamu mendadak melankolik dan sewot. Seolah-olah kita ini baru kenalan terus berdiskusi”

“Tapi ya tidak perlu menuduh saya adalah manusia sok Nabi. Bagaimana kalau besok-besok yang kamu tuduh itu ternyata bukan manusia sok Nabi, tapi Nabi sok manusia?”, Markesot tertawa keras.

Dan Saimon tidak kalah keras tertawanya. “Kamu jelas bukan Nabi, bahkan belum tentu manusia. Tapi pasti kamu ini sok”