Daur (278)

Musim Gugur Nusantara

Tahqiq : “...Sampai yang sekarang-sekarang, Pakde. Kesadaran manusia dijadikan serpihan-serpihan. Kumpulan-kumpulan manusia dibungkus dalam institusionalisasi aliran-aliran....”

Seger tidak mempersoalkan apakah suatu ummat dipersatukan oleh imannya kepada Tuhan, cintanya kepada Nabi, serta penghormatannya kepada Kitab Suci. Ataukah dipersatukan oleh kebencian bersama kepada musuh bersama. Ia hanya menuturkan pendapat sebagian temannya.

Karena cukup lama bergaul dengan Mbah Markesot beserta Pakde Paklik di sekitarnya, anak-anak muda itu cukup mengerti watak kehidupan dan otoritas takdir di tangan Tuhan. Kalau ummat di zaman sekarang menjadi bertambah imannya karena mengingat peristiwa banjir Nuh serta bencana-bencana yang dialami oleh ummat para Nabi lainnya, tidak lantas mereka memastikan bahwa kekufuran ummat-ummat itu memang diperlukan sebagai jasa agar ummat di zaman berikutnya belajar mempertahankan iman.

Kekufuran bukan jasa, meskipun dalam dialektika sejarah ia bisa berposisi berguna dan berjasa. Sebagaimana kegelapanlah yang menjadikan cahaya dirasakan terang benderang. Itu tidak lantas melahirkan suatu kebijakan hidup di mana suatu masyarakat perlu berbagi dengan sebagian memilih gelap dan lainnya memilih cahaya. Dialektika itu terletak di tangan otoritas Tuhan, dan bagian manusia adalah tugas untuk terus-menerus mencari cahaya.

Tegasnya, manusia tidak perlu berpedoman “kegelapan harus dipertahankan, demi menegakkan cahaya”. Kegelapan, keburukan, kelaliman, penjajahan, penganiayaan, perampokan, dan segala macam kemudlaratan lain tidak perlu diideologisasikan oleh ummat manusia. Tuhan sudah menata dialektika itu sejak awal dan berlaku sampai kehidupan di dunia yang ini dipadamkan. Tuhan yang mengelola on-off yang menyangkut kejahatan dan keburukan. Kewajiban manusia adalah bersetia dalam perjuangan mencari cahaya.

“Pakde”, kata Seger, “menurut kami, akar kesadaran yang terpenting dari peristiwa berhimpunnya ummat se-Nusantara di ibukota itu bukan pada oleh apa mereka dipersatukan. Tentu saja lebih indah apabila Ummat bersatu benar-benar karena kebersamaan merasakan dan menikmati iman kepada Tuhan, cinta kepada Nabi dan penghormatan kepada Kitab Suci. Tetapi kalau sebab-musabab persatuannya tidak seperti itu, kami tetap mensyukuri persatuannya”

“Jadi apa akar kesadaran yang kamu maksudkan?”, Brakodin mengejar.

“Bahwa pihak yang sedang dijadikan sasaran itu bukanlah yang utama. Ia hanya produk dari suatu mesin besar internasional. Ummat yang berkumpul itu maupun yang tetap tinggal di tempatnya masing-masing melakukan perjuangan rutin dan jangka panjang, adalah sasaran untuk dipecah-belah, dirapuhkan karakternya, diuapkan kepercayaan dirinya, disesatkan pikirannya, diadudomba, dikerdilkan kebudayaannya, dan berbagai macam cara maupun strategi penghancuran lainnya. Semua itu adalah cara yang sangat efektif untuk mencapai tujuan yang sebenarnya….”

“Apa itu?”

“Kekayaan tanah air dan Negara Nusantara ini adalah sasaran untuk dirampok, dikuasai, diperbudak….”

“Serius itu?”

“Sangat serius, Pakde. Uni Soviet yang adidaya saja diperdaya sehingga terpecah-belah. Kemudian yang disebut Balkanisasi dan Arab Spring. Konsentrasi penjajahan global di era ini adalah menciptakan Musim Gugur di Nusantara Raya….”

Tarmihim bertepuk tangan.

“Saya semakin percaya diri dan bangga pada kalian anak-anak muda…”, katanya.

“Pakde Paklik yang mengantarkan kami semua ke wilayah kesadaran seperti ini”, jawab Seger.

“Kalian sudah pelajari sejak abad berapa?”

“Sejauh mungkin sebab akibat sejarah panjangnya, Pakde. Sejak ekspansi dari Eropa ke Asia Afrika. Masa Penggelapan yang disebut Abad Pencerahan. Kemudian subversi-subversi Illuminati, Freemasonry, yang menyempurnakan manipulasi sejak dahulu kala tatkala ummat Nabi Musa merasa tokohnya tersaingi sehingga tokoh pesaingnya direkayasa untuk diTuhankan….”

“Berkurang keputusasaan saya”, celetuk Sundusin.

“Sampai yang sekarang-sekarang, Pakde. Kesadaran manusia dijadikan serpihan-serpihan. Kumpulan-kumpulan manusia dibungkus dalam institusionalisasi aliran-aliran, baik yang madzhabiyah dalam Islam sampai sub dan sub-subnya, maupun label-label seperti Liberalisme, Radikalisme, Fundamentalisme, Pluralisme, dan macam-macam lagi. Keutuhan manusia diredusir, dipersempit, dikurangi, diiris-iris, dipangkas, dibonsai, dijadikan suatu jenis makhluk yang tidak memiliki keutuhan. Manusia bukan khalifah ideologi, melainkan disandera di dalam kotak-kotak ideologi, aliran, kelompok….”.