Minggu Pagi, 5 Januari 1992

Musik Mantra dan Hizib (5): Musik Mantra atau Musik Dimantrai

Akan sangat menggiurkan apabila kita memiliki waktu panjang dan ruang yang luas untuk menguak sebanyak-banyaknya rahasia mantra.

Bagaimana proses eksperimentasi atau ijtihad yang pada akhirnya menghasilkan komposisi sebuah kata, yang apabila dikawinkan dengan teknik napas dan metode pembatinan tertentu bisa menggumpalkan energi, daya magnetik, dan penetrasi terhadap “tembok konvensi”. Selama ini kita hanya berkenalan dengan efek-efeknya, baik yang bersifat biologis, psikologis, spiritual, maupun sosial.

Di mana saja medan eksperimentasi itu: penghayatan pribadi yang universal? Khazanah budaya? Berita nenek moyang? Anasir-anasir dari agama dan kitab suci? Atau, campuran antara semua itu?

Bagaimana menjelaskan secara mendekati logika konvensional mengapa seseorang mampu “menghilang” (membebaskan diri dari daya penglihatan mata, yang memang sangat wadak dan amat terbatas)? Mengapa seseorang bisa melintasi hukum ruang dan waktu, sebagaimana transformasi materi-energi-cahaya pada peristiwa Isra` Mi’raj Nabi Muhammad Saw., sehingga mata pandang sehari-hari menyebutnya sebagai “berada di beberapa tempat sekaligus pada waktu yang sama”?

Mengapa dengan sebuah sentuhan fisik atau dengan sesorot tatapan mata, kondisi psikologis seseorang bisa diubah, atau sejumlah ilmu bisa dialihkan. Mengapa seseorang mempelajari sebuah buku dengan membacanya dari huruf ke huruf, sementara seseorang lainnya hanya memerlukan seserpih waktu untuk menatap dan menyentuh, lantas telah menyerap ilmu itu?

Mengapa santet dan tenung dan jengges menjadi kenyataan universal di setiap jengkal dari bulatan bumi ini tanpa pernah benar-benar bisa disangkal atau diabaikan? Mengapa modus-modus operandi kriminalitas banyak diwarnai oleh dimensi-dimensi semacam itu?

Mengapa bacaan sejumlah Ayat Suci menimbulkan efek yang hampir mirip dengan ramuan antara jenis tanah dan dedaunan tertentu dengan laku fisik, rumus silang ruang-waktu—misalnya untuk menembus alam lembut — meskipun kita mengerti bahwa semua makhluk (manusia, alam, dan ayat-ayat literer) pada hakikat dan pada syariatnya adalah memang firman Allah?

Mitos belakakah Aji Lebur Waja yang sanggup meluluhkan batu-batu cadas, atau Gumbala Geni yang membakar atmosfer, atau Aji Welut Putih yang menjadikan manusia selicin belut sehingga sukar ditangkap, tatkala kita mengetahui bahwa yang bernama kekuatan (daya, power, quwwah) bukanlah tulang daging ini sendiri, melainkan suatu “produk dari rahasia batin” yang tangan dan kaki hanya memediumi dan menyalurkannya?

Benda apakah cahaya itu? Benda padat? Cair? Gas? Materikah ia, atau permukaan yang terkasar dari ruhani?

Bilamana ilmu fisika ultramodern telah menjawabnya dengan mendasar dan hakiki, maka pengetahuan kita tentang benda-benda, darah, daging, daun-daun, warna, suara hati, letak akal, dan lain-lain, akan mengalami revolusi; dan itu berarti kebudayaan dan peradaban umat manusia pun akan menjelmakan wajah baru.

Ada ratusan atau bahkan ribuan pertanyaan lain yang apabila kita deretkan di sini akan sangat mengasyikkan. Apalagi jika kita mendetail dan membedah setiap mantra, aji-aji, rapalan, ayat, dan izim.

Akan tetapi, yang menjadi tema kita di sini adalah seberapa jauh kosmos yang kita raba akan diaktualisasikan melalui musik mantra dan hizib oleh teman-teman yang merancang pementasan itu?

Apakah dunia mantra akan sekedar dijadikan acuan untuk memperkaya pencapaian estetika musikal, ataukah aransemen musiknya akan bersenyawa dengan kosmos mantra itu sendiri untuk menghasilkan efek-efek konkret?

Musik mantrakah, atau musik yang memantrai? Kita tunggu jawabannya pada pementasan tersebut.