Minggu Pagi, 29 Desember 1991

Musik Mantra dan Hizib (4): Orang Gila dan Tukang Sihir

Prinsip yang ingin saya kemukakan sesungguhnya ialah terdapatnya sejumlah metode untuk menguak kemungkinan di luar “kepastian umum”.

Mantra dan hizib, rapal dan izim misalnya, hanyalah salah satu jenis metode. Laku atau thariqat atau khususnya fi’il adalah sebagian dari metodologinya.

Metode dan metodologi itu sendiri dalam kenyataan kebudayaan, kita jumpai sebagai aliran dan perguruan, yang kalau Anda lacak keseluruhan jenisnya, wataknya, variasinya, kesalingterkaitannya, dan seterusnya, Anda memerlukan energi besar, ketelitian yang selembut-lembutnya, ketajaman yang sejernih-jernihnya, waktu yang selapang-lapangnya, serta biaya yang setinggi-tingginya.

Prinsip lainnya adalah suatu pandangan bahwa realitas semacam itu tidak bisa serta-merta saya sebut sebagai “urusan di luar dunia ilmiah”. Sebab apa? Karena kerangka keilmuannya pada akhirnya jelas bagi orang yang “mengembarainya”.

Anda barangkali pernah mendengar informasi bahwa syarat menjadi wali (dalam pemahaman kultur maupun kosmofilosofi agama) adalah kalau seseorang sudah gila dan menjadi penyihir.

“Gila” dalam hal ini — untuk tingkat tertentu — bisa Anda sederhanakan ke dalam pengertian tentang gejala dan kreativitas yang fenomenal maupun fenomenologis. “Gila” adalah sesuatu yang “tidak umum”. Inkonvensional. “Carangan”. “Ijtihad”. Itu terjadi di dunia pemikiran, kesenian, kreativisasi pemahaman nilai-nilai agama. Hanya saja, dalam dunia mantra, hizib, kasekten, mistik, magi, dan sejenisnya, “carangan”-nya menguak dimensi-dimensi yang khusus dan berbeda dengan inkonvensionalitas kehidupan umum.

“Tukang sihir” maksudnya adalah kesanggupan untuk “menyihir”. Itu yang saya sebut “atmosphering”. Yang disebut “sihir” tidak hanya berlaku pada realitas picisan seperti pelet. Ia juga muncul dalam kebudayaan, politik, kesenian, melalui kaum orator, para pemimpin masyarakat, seniman, dan aktor-aktor sejarah. Tetapi “sekadar” seorang Iwan Fals, Rhoma Irama, Gus Dur, Zaenuddin MZ, atau Madonna, tidak pula serta-merta bisa kita sebut “wali” mentang-mentang mereka “gila” (istimewa) dan pandai menyihir massa; sebab konsep kewalian atau walayah mempersyaratkan konteks nilai tertentu. Tidak cukup “gila dan penyihir”, tetapi gila dalam perspektif nilai apa dan menyihir untuk proses kekhalifahan yang bagaimana.

Itu semua bukan sesuatu yang non-ilmiah. Artinya, bisa cukup gamblang kita memperoleh penjelasannya. Bukankah disiplin yang paling ilmiah dan paling akademis pun tetap tertentang oleh “ketidakpastiannya kepastian”, oleh “kemungkinan yang membungkus ketetapan”, oleh cakrawala dan ketakterhinggaan?

Adalah juga cukup ilmiah kalau untuk dubbing suara Allahu Akbar dalam film Tjut Nya Dhien, Eros Djarot tidak bisa sekedar mengumpulkan seratus orang untuk meneriakkan kata-kata itu. Dia harus riset dari ujung Aceh hingga akhirnya bertemu “magi”-nya di Tasikmalaya. Sebab kalau saya mengucapkan Allahu Akbar mungkin Anda tidak tersentuh, sedangkan kalau Anda yang meneriakkan Allahu Akbar, bulu kuduk saya berdiri dan muncul gelombang hangat jauh di dalam jiwa saya. “Magi” Allahu Akbar ditentukan antara lain oleh atmosfer kehidupan pengucapnya.