Minggu Pagi, 22 Desember 1991

Musik Mantra dan Hizib (3): Kaki Kambing yang Kelima

Ketika pada suatu momentum koran-koran banyak memberitakan tentang kambing berkaki lima, pohon kelapa bercabang, lahir anak lembu berkepala seperti manusia, dan seterusnya, seorang guru agama menjelaskan kepada murid-muridnya: “Itu keajaiban bagi kita. Tetapi, tidak bagi Tuhan.”

Itu batas kerangka antisipasi umum terhadap hukum perkecualian, yang merupakan salah satu sifat kreativitas Tuhan. “Kaki kambing yang kelima” itu terdapat juga pada dimensi-dimensi lain yang non-biologis. Misalnya, dimensi psikologis, spiritual, mikro dan makro kosmologis, atau yang secara lokal tampak seperti dimensi psikobiologis atau biopsikologis serta macam-macam pertalian transkontekstual lainnya. Bahkan, “kaki kambing yang kelima” merupakan ornamen penyifat realitas-realitas ilmu sosial biasa, atau malah juga pada teknik dan matematika.

Segala macam pemahaman manusia tentang yang disebut dunia mistik, magic, kasekten, dan sebagainya itu, merupakan guratan-guratan samar, situasional, dan sporadik dari keluasan dan ketakterhinggaan makrokosmologi “kaki kambing yang kelima”.

Itulah sebabnya dalam menanggapi Seminar Kasekten tempo hari, saya menekankan pendapat pada fungsi kerendahhatian. Pengenalan, pengalaman, dan pendalaman kasekten setidaknya berguru bagi siapa pun agar memperoleh kesadaran kembali tentang betapa luasnya ilmu kehidupan. Bahwa “rasionalisme” terlalu remeh untuk di-tuhan-kan sembari meremehkan dimensi-dimensi lainnya. Bahwa menjadi sarjana, doktor, dan profesor keilmuan modern tidak otomatis merupakan lisensi kenabian ilmu, yang membuat seseorang merasa absah untuk meremehkan Tuhan dengan segala kedahsyatan ilmu dan penciptaan-Nya.

Seseorang yang “telah tua” bahkan mengatakan: Realitas “kaki kambing yang kelima” bisa jadi lebih luas wilayahnya dibanding realitas “kambing berkaki empat” apabila kita bersedia melakukan perjalanan untuk membuktikan betapa remehnya akal manusia.

Dalam konteks ini, kalau kita mengacu pada nomor tulisan (1) dan (2) sebelum ini kita bisa sebutkan bahwa kanvas, cat, warna, garis, dan titik-titik dalam lukisan Affandi sama sekali bukan realitas estetik lukisan Affandi. Kedahsyatan kreativitas Affandi justru terletak pada yang di luar lukisan itu, meskipun coba direpresentasikan oleh lukisan itu; atau bisa kita metaforkan bahwa keindahannya terletak pada “kaki yang kelima” pada setiap kambing, meskipun orang hanya berjumpa dengan “empat kaki kambing” di lukisan Affandi.

Ucapan “Imam Lapeooooo!”, “Syaikh Habaaaaasy!”, dan “Allahu Akbar” adalah “empat kaki kambing”. Kalau sekarang Anda teriakkan “Imam Lapeooooo!” untuk menghentikan hujan, insya Allah hujan akan tetap menabur dari angkasa tanpa terpengaruh sedikit pun, karena “kaki kelima” Imam Lapeo, Syaikh Habasy, dan Allahu Akbar harus terlebih dahulu dibangun oleh komposisi, akumulasi, dan repetisi unsur-unsur tertentu yang berasal dari sumber kata itu, dari diri Anda, maupun dari keberlangsungan komunikasi, internalisasi, kesalingpercayaan, ujian-ujian intensitas, dan waktu.

Manusia Imam Lapeo, di samping seorang Wali Qudrah (wali sejak dari sono-nya), adalah juga seorang yang nglakoni. Sejak masa kanak-kanaknya, dia “terbimbing”, ma’shum (terpelihara) dan mulhim (terilhami), dan dia sendiri memiliki naluri dan akal sehat yang membimbing langkah-langkah hidupnya untuk mengakumulasikan dan merepetisikan pelbagai macam kesalehan, kemuliaan, totalitas cinta yang terekspresikan secara telanjang dalam komunikasi sosialnya maupun kepada Tuhan. Kemesraan dan keimanan siklis antara Tuhan, Imam Lapeo, dan komunitasnya, menciptakan suatu komposisi energi dan kekuatan yang ada pada bagian-bagian tertentu merupakan “kaki kambing yang kelima”.

Komunikasi Imam Lapeo dengan Allah pun sudah demikian “sehari-hari” sifat dan bahasanya. Ketika pemuda-pemuda kampung merestorasi musallanya—yang ternyata menggunakan biaya dan material utangan—dan pada suatu siang manakala sedang sendirian dia ditagih oleh pemilik-pemiliknya, dia sholat dan berdoa: “Ya Allah, bayar utangmu!” Dan datanglah sejenak kemudian seorang dermawan yang membereskan semuanya.

Pada masa mudanya, seorang haji membuat sayembara untuk menebak apa isi kotak. Tiga “imam” salah tebakannya. Ada yang bilang beras. Ada yang mengatakan pakaian. Yang lainnya lagi malah mengatakan Kitab Al-Quran. Satu “imam” tepat: ada segumpal intan di dalamnya. Maka, kalau Imam Lapeo melakukan tebakan yang sama, dia hanya akan dianggap meniru “imam” sebelumnya. Maka, dia berkata kepada Allah: “Ya Allah, jangan permalukan saya!”, kemudian menyatakan bahwa kotak itu tidak ada isinya apa-apa.

Maka tatkala, di hadapan segenap hadirin, kotak itu dibuka, sim salabim: ternyatalah memang kosong adanya.

Imam Lapeo sudah setingkat derajatnya dengan sebatang pohon: dia tak punya kehendak apapun, kecuali persis seperti yang Tuhan kehendaki. Bahkan Imam Lapeo, dalam “satu diri” dengan Tuhan, bisa melakukan negosiasi, tawar-menawar, bargaining, atau transaksi tentang suatu hal.