Minggu Pagi, 8 Desember 1991

Musik Mantra dan Hizib (2): Menyingkirkan Badai…

Para pelaut tradisional suku Mandar, Sulawesi Selatan bagian utara, kalau tiba-tiba badai datang menyerbu dan membuat perahu mereka oleng serta badan terguncang-guncang, dan jika segala sesuatunya sudah tak mungkin mereka atasi lagi dengan akal, kecerdasan, dan teknologi (tradisional) — mereka merentangkan kedua tangannya ke langit sambil memekik: “Imam Lapeooooo!”

Sering kali, entah bagaimana kita menjelaskannya, badai lantas menyingkir, dan selamatlah mereka.

Anak-anak Mandar modern, dewasa ini, kalau — misalnya — mereka ikut berdemonstrasi mahasiswa di Ujungpandang dan terdesak sedemikian rupa oleh bahaya atau cengkeraman pihak keamanan — mereka pekikkan juga sebuah kata dan nama tertentu yang berasal dari referensi mistik modern mereka, sehingga selamatlah mereka dari bahaya.

Imam Lapeo, almarhum, adalah seorang kiai dusun yang amat sederhana. Dalam konstelasi walayah, dia terkategorikan sebagai Wali Qudrah yang berbeda dengan Wali Iradah yang memperoleh karamah kewaliannya melalui fi’il atau laku atau upaya atau rekayasa. Walayah Imam Lapeo secara sosiologis-empirik telah berinteraksi dan bersenyawa sedemikian rupa dengan kepercayaan dan rasa syukur umatnya atas manfaat hidup sang Imam.

Perihal “teriakan” ini bisa kita sebut juga contoh lain umpamanya Syaikh Habasy, seorang “pelaku” yang menghayati sumur sebagai sumber air, yakni salah satu lambang fundamen hidup.

Anak-anak kecil di kampungnya biasa dolanan di sumur itu. Mereka berteriak — “Syaikh Habaaasy!” — lantas terjun masuk ke dalam sumur, dan sesaat kemudian mereka mental dan kembali ke tanah di atas sumur, seolah-olah air di dalam sumur itu adalah karet busa lunak yang membuat gaya berat tubuh mereka mendal.

Pada suatu siang lewatlah seorang musafir, yang tampaknya tergolong orang pandai pula. Menyaksikan anak-anak itu bermain-main, dia gatal.

“Kenapa Syaikh Habasy? Kalau kita teriakkan Allahu Akbar pastilah lebih sakti!” Dia berbisik kepada dirinya sendiri.

Kemudian, dia mencobanya. Dia teriakkan kalimah thayyibah itu, dan ternyata badannya tak kembali ke atas, tetapi terjerembap, tenggelam, dan tak tertolong.

Mengapa? Apakah Allahu Akbar kalah ampuh dibanding kata Syaikh Habasy atau Imam Lapeo? Apakah kalimah thayyibah ciptaan Allah sendiri itu kalah sakti dibanding bikinan manusia?

Atau, kalau kita kembalikan ke pertanyaan fundamental: mengapa suatu komposisi rapal tertentu bisa menjelmakan yang seharusnya terluka menjadi tidak terluka, yang tak terambrolkan menjadi terambrolkan, atau yang secara rasional tak mungkin menjadi mungkin? Mengapa sebuah menu hizib mampu membuat sesuatu yang tak tertembus menjadi tertembus, membuat yang secara normal tak tersentuh menjadi tersentuh, atau yang biasanya tertutup menjadi terkuakkan?

Kita bisa kembali ke elemen-elemen magi atau penetrasi transkosmologis atau bisa juga digambarkan sebagai semacam spiritual atmosphering. Mengapa ribuan “pegoyang dangdut” bisa teler dalam pentas Rhoma Irama? Mengapa lautan massa musik rock bisa hanyut dan intrance? Hal yang sama juga berlaku pada para pelaku Jaran Kepang atau Jathilan, mengapa? Atau, dengan mateg aji tertentu seorang pesilat tiba-tiba menjadi kera atau ular?

Dua kunci jawabannya adalah komposisi dan repetisi.

Magi lukisan “Monalisa”-nya Leonardo da Vinci, pada level tertentu, berlangsung sampai hari ini. Lagu “The End of the World” pada masanya merangsang pemuda-pemudi Amerika Serikat untuk entah bagaimana merasa berbahagia sedemikian rupa, sehingga sebagian dari mereka rela memutuskan untuk “bunuh diri dengan bahagia”. Cobalah Anda ambil satu lukisan karya maestro internasional kita, Affandi: uraikan unsur-unsurnya. Anda akan menemukan bahan-bahan yang darinya terbuat kanvas. Kemudian cat, yang Anda temukan sesudah penguraian itu unsur-unsur kimia. Tetapi, apakah lukisan Affandi adalah cat dan kanvas? Sama persis dengan unsur-unsur pada lukisan siapa pun lainnya? Maka, kalau lukisan adalah unsur-unsur, menjadi samakah lukisan Affandi dengan pelukis lainnya?

Para kritikus seni rupa akan menjawab gampang: Lukisan Affandi adalah sentuhan kreatifnya, sedangkan kanvas hanya medium yang dipergunakan untuk merepresentasikan sentuhan itu.

Apakah gerangan “sentuhan kreatif” itu? Yang tidak ada pada lukisan karya pelukis selain Affandi adalah “komposisi Affandi” dan “repetisi Affandi”. Yang dikomposisikan dan direpetisikan betul-betul “hanya” cat dan warna, tetapi sentuhan kreatif komposisi yang dihasilkan Affandi itulah yang menentukan magi-nya.

Maka, kalau kita mengetahui bahwa penguraian suatu mantra menghasilkan deretan kata dan kata, substansi kemantraannya tak lagi terletak pada “kata” itu sendiri, tetapi pada komposisi dan repetisinya. Itulah sebabnya kredo mantra puisi Sutardji Calzoum Bachri ialah “membebaskan kata dari tanggung jawab makna”. Makna itu nggendoli kemungkinan terjadinya transformasi susunan kata-kata itu menjadi mantra.

Komposisi dan repetisi suatu mantra atau hizib merangsang penggumpalan energi atau quwwah yang kemudian digerakkan oleh iradah.