Minggu Pagi, 8 Desember 1991

Musik Mantra dan Hizib (1)

Hari-hari ini, kabarnya, sejumlah pemusik dan pekerja seni lain di Yogyakarta sedang mengolah suatu eksperimentasi kreativitas, untuk menghasilkan apa yang mereka sebut musik mantra dan musik hizib. Masyarakat Yogya barangkali akan bisa menyaksikan pagelarannya dalam waktu dekat, di samping dapat berpartisipasi dalam diskusi atau seminar yang mendampinginya.

Entahlah. Namanya juga eksperimen. Para eksperimentator di bidang apapun harus menyiapkan diri memasuki saling-silang kontroversi, pro dan kontra, kesedian untuk diterima atau ditolak. Kata “eksperimen” — atau Anda bisa sebut ijtihad atau carangan untuk wilayah penggarapan yang berbeda — itu sendiri sudah mengundang kegelisahan. Apalagi yang dieksperimentasikan adalah persenyawaan antara dunia musik dengan mantra dan hizib: dua dunia yang sesungguhnya sangat berdekatan atau bahkan rekat, tetapi dalam pemahaman kebudayaan kita keduanya dikenal sebagai “kutub” yang berbeda.

Bahkan, rerasanan di antara mereka menyebutkan bahwa salah satu elemen musikal yang dieksplorasi dalam eksperimen itu adalah suara arwah, suara siksa kubur, atau juga ruh-ruh ngelambrang gentayangan. Bisakah Anda bayangkan? Metode dan teknologi macam apa yang akan merekam suara-suara itu? Ilmu dan pakar apa yang dianggap absah untuk melegitimasikan bahwa yang terdengar nanti benar-benar suara ruh? Akankah diterima oleh masyarakat dan dunia ilmu pengetahuan? Akan dicatat sebagai karya spektakulerkah ekseprimen ini nanti, atau justru diklaim sebagai manipulasi, atau setidaknya lawakan?

Instrumental atau Fokus

Untunglah kita hidup di alam keterbukaan Demokrasi Pancasila. Kita boleh melakukan apa saja, asal sesuai dengan kehendak dan kepentingan para pengurus resmi Demokrasi Pancasila. Silakan mengeksperimentasikan apapun. Tidak semua dan tidak setiap pertanyaan harus terjawab. Bahkan, siapa tahu memang ada sejumlah pertanyaan kehidupan yang memang kita perlukan justru untuk tidak dijawab. Saya pribadi akan penasaran dan menikmati pertemuan atau mungkin korsleting antara kualitas fenemonologis eksperimen musikal itu dan masyarakat penonton atau pendengarnya. Baik yang hadir membawa sikap terbuka ataupun sikap apriori, kewaspadaan ilmiah dan batiniah ataupun kepercayaan buta dan penuh takhayul, juga empati ataupun sinisme.

Yang kita ingin tahu ialah apa sasaran eksperimen itu. Dimensi mantra atau hizib akan diposisikan sebagai fungsi instrumental ataukah merupakan bagian inheren dari pencapaian estetika musikal yang merupakan fokus penggarapan. Apakah mantra dan hizib akan diefektivisasi secara konkret sebagaimana yang kita kenal dalam realitas budaya masyarakat, ataukah ditangkap esensi, watak, dan nuansanya belaka untuk dijadikan titik berangkat dan target akhir penciptaan musik.

Juga suara-suara ruh dan siksa kubur itu — lepas dari mungkin tidaknya dimensi itu ditransformasikan menjadi ekspresi bahasa budaya — apakah akan diabadikan untuk sofistikasi estetik ataukah sebagai fenomen yang lebih luas dan multidimensional dari olahan estetisme semacam itu.

Kemudian seandainya itu semua ternyata manipulasi, pertanyaan saya apakah seberapa berat takaran dosa penipuan itu dibanding tradisi manipulasi peradaban kita di bidang-bidang ekonomi, politik, kebudayaan, keagamaan, atau khususnya di bidang sejumlah ketidakjujuran cipta musikal masyarakat modern kita selama ini. Serta seandainya itu semua nanti sekadar merupakan dagelan, pertanyaan saya cukup mahalkah biayanya dibanding biaya-biaya spektakuler yang selama ini memasok rekayasa dagelan-dagelan sejarah yang berlangsung besar-besaran?

Sesudah aproksimasi itu, baru kita memasuki kosmos mantra dan hizib.