Reportase Maiyah Wolulasan Purworejo edisi Juni 2016

Musibah dan Anugerah

Musibah berakar dari lafadz assaba-yushiibu, dalam lisan arab, Ibnu Mandzur memberikan arti al-Yayan Musthofadahr (menimpa, malapetaka, bencana)

Bertepatan dengan malam jum’at, 30 Juni 2016, Maiyah Wolulasan ke-67 terselenggara di tempat biasa: Jl. Sibak No. 18 Pangenjurutengah Purworejo. Beberapa pemuda sibuk menyiapkan kopi dan snack. Sementara di malam tanpa hujan tersebut, jamaah maiyah terus berdatangan. Sampai pukul 21.00 WIB, aula rumah hijau tua sesak dipenuhi tamu. Kemudian, bergemalah lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Imam Khoiri, koordinator Wolulasan, usai membuka dengan Surat Al Fatihah, menyampaikan tema kali ini yaitu peristiwa longsor dan banjir yang baru saja menimpa kota tercinta pada 18 Juni 2016 lalu. Ia meminta para jamaah maiyah yang kebetulan [dibetulkan] ikut menjadi relawan untuk urun rembug. “Jangan sampai ada peristiwa berlalu tanpa kita ambil ilmunya”, tutur sang perokok pemula.

Jumadi, Asnal Muthalib dan Mohamad Widi, secara bergantian bercerita kronologi kejadian longsor dan banjir yang menimpa desa Jelok, Donorati, Caok dan beberapa titik di Purworejo yang sempat menjadi pemberitaan nasional. Cukup detail.

Dalam pada itu, Jumadi menceritakan pengalaman anehnya melihat longsor yang ia nilai kurang wajar. “Ada rumah yang secara logika seharusnya terkena, tetapi tidak”, ujarnya, menjelaskan peristiwa yang memakan puluhan korban tersebut. “Juga, ada ibu-ibu yang selamat setelah 12 jam terkubur lumpur sambil memeluk bayinya. Setelah diinvestigasi, ternyata jari sang bayi menutupi hidung ibunya”, imbuhnya.

20160704-wolulasan

Asnal Muthalib justeru berkeluh kesah. “Disana itu malah suasananya seperti festival bencana. Lha wong banyak banget spanduk dan bendera dari berbagai ormas, instansi, komunitas dan entah apa lagi namanya. Sampai-sampai, ada yang datang berbaris, satu di antara mereka khusus membawa dan menegakkan bendera secara tegap.” Ungkap santri salaf tersebut. “Malahan, wartawan ada yang main pesawat-pesawatan”, imbuhnya. “Hoy, itu bukan pesawat-pesawatan, tapi drone, pesawat tanpa awak untuk merekam video!”, celetuk seseorang yang membuat suasana: gggggrrrrr!!

Al-Ashfahany, wakil koordinator Maiyah Wolulasan ikut ambil bagian. PNS muda ini mengatakan, bahwa longsor dan banjir yang terjadi beberapa waktu lalu merupakan faktor manusia juga berperan. “Kemarin saya turun ke lokasi, dan ternyata memang di sana minim sekali pohon-pohon yang menyangga tanah. Bahkan, ketika evakuasi longsor, masih ada truk-truk yang mengangkut kayu. Ini sungguh memprihatinkan,” ungkapnya.

Muh. Arifin, mantan ketum PC PMII Purworejo berpandangan, banyak sekarang orang gunung yang tidak tahu lagi bagaimana cara hidup sebagai orang gunung, dan orang pantai tidak tahu lagi cara bagaimana hidup sebagai orang pantai. “Sebenarnya, mereka lebih paham atas daerahnya dibanding para peneliti dari kampus-kampus. Adanya sedekah laut, sedekah bumi itu adalah bentuk harmoni relasi manusia-alam. Dulu Syekh Subakir ada ‘perjanjian’ dengan penghuni Tanah Jawa ini, yang jika dilanggar akan ada malapetaka. Jawa belum dan tidak bisa terlepas dari hal-hal seperti ini” katanya.

Musibah, Bala’ dan Adzab

Mbah Mufid memberi banyak wejangan terkait definisi ‘kabur’ tentang bencana, musibah dan anugerah. Dengan gayanya yang gokil, nyleneh, mengundang tawa serta tak lepas dari rokok, ia menjelaskan definisi bersumber dari khazanah kitab kuning, katanya, ada beberapa terminologi yaitu bala’, waba’, dan sebagainya itu dipaparkan secara gamblang.

Musibah berakar dari lafadz assaba-yushiibu, dalam lisan arab, Ibnu Mandzur memberikan arti al-Yayan Musthofadahr (menimpa, malapetaka, bencana). Prof. Quraish Shihab lebih menggarisbawahi makna ‘sesuatu yang menimpa’, bisa baik atau buruk walaupun konotasinya selalu buruk. Misalnya hujan turun yang menimpa manusia, tidak selalu buruk, karena apa yang dianggap buruk adakalanya adalah terbaik bagi mereka dan sebaliknya.

Sedangkan bala’ juga berarti bencana, malapetaka, atau penampakan. Imam al-Raziy dalam kitab mukhtar al-shihab memberikan penjelasan bahwasanya bala’ digunakan untuk menggambarkan ujian, baik atau buruk. Perbedaannya, ketika Al-Qur’an berbicara tentang musibah maka ada sangkut pautnya dengan tingkah laku atau ulah manusia itu sendiri dan ketika berbicara tentang bala’ maka musibah ini datangnya mutlak dari Allah SWT.

Itu sebabnya Allah SWT, menyatakan: “Allah yang menciptakan hidup dan mati untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”. (QS. Al-Mulk: 2). Kita lihat ujian (bala’) datangnya dari Allah. “Kami pasti akan menguji kamu sampai Kami tahu siapa orang yang berjihad di jalan Allah dan bersabar.” (QS. Muhammad 31) Allah menurunkan bala tanpa campur tangan manusia. “Kami pasti menurunkan sedikit rasa takut, sedikit rasa lapar…berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al- Baqarah:255).

Ibnu Mandzur memaknai Al-adzab dalam lisan al-arab dengan al-nakaal wa al-‘uquubah  peringatan dan siksaan. Dalam konteks al-qur’an kebanyakan menerangkan hari akhir, maksudnya siksaan dihari kelak. “Allah telah mengunci mati hati, pendengaran dan penglihatan mereka. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”. (al-Baqarah:7), atau dalam surat al-Israa’:10 “Sesungguhnya, orang-orang yang tidak beriman kehidupan akherat, Kami sediakan bagi mereka adzab yang pedih”, dan seterusnya.

Akan tetapi sebagian ayat yang memakai lafadz adzab untuk menerangkan siksaan di dunia seabagai peringatan bagi yang lainnya. “Tak ada suatu negeripun yang durhaka penduduknya, melainkan Kami membinaskannya sebelum hari kiamat, atau kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab Lauh al-Mahfuudz”. (al-Israa’:58). Kalau bisa ditafsiri sebagai hukum kausal (sebab akibat) maka adanya adzab adalah durhaka misal (seperti kepada umat Nabi Luth as), yang kedua, ayat ini menerangkan ancaman Allah SWT.

“Alhasil, musibah adalah yang mengenai manusia baik itu seuatu yang baik ataupun yang buruk, diturunkannya masih ada hubungan dengan perbuatan manusia itu sendiri, sedangkan bala mutlak diturunkan Allah SWT sebagai ujian untuk manusia baik berupa kebaikan atau keburukan, bukan reaksi dari aksi manusia. Dan adzab adalah hukuman yang diturunkan untuk dijadikan pelajaran, konteksnya kebanyakan berhubungan dengan pembalasan hari akhir kelak. Untuk anugerahnya, kita bahas di kesempatan lain. Allahu A’lam Bissowab.” Terang Mbah Mufid yang juga ustadz senior ini panjang lebar.

“Nah, terkait longsor kemarin, kita tidak tahu. Hukumnya kepada masng-masing orang yang meninggal. Apabila meninggalnya dalam keadaan baik, insya Allah khusnul khatimah. Apabila buruk, bisa jadi su’ul khatimah. Tidak bisa di hukumi secara global, karena masing-masing orang khas, ada yang dermawan, pelit, rajin ibadah dan sebagainya. Apabila sudah tahu rumah akan ambruk tapi kok malah diam saja, itu status hukumnya sama saja bunuh diri. Sebisa mungkin harus menghindari” imbuhnya.

Masuk memberi kontribusi, Ketua Presidium ormas Suluh Purworejo, Allan Fatchan Ghani Wardhana. Menurutnya, pemerintah belum maksimal dalam melakukan upaya preventif potensi longsor di Purworejo. “Setiap tahun di daerah kita hampir selalu ada yang longsor. Meski demikian, upaya sosialisasi dan penanggulangan potensi longsor tidak ditindaklanjuti secara serius oleh pemerintah. Padahal ini adalah tugas mereka. Ini kedepan perlu terus di dorong”, ungkapnya.

Lukman Khakim, wartawan Purworejo Ekspres masuk menambahi. “Secara jujur, kemarin saya ke lokasi itu untuk urusan dapur: memotret para pejabat dan tokoh parpol”, ungkapnya, disambut gelak tawa jamaah. “Wah, panen iklan”, celetuk salah satu jamaah.

Namun, lanjut Lukman, ia juga memiliki beberapa catatan. Iklan iya, meski dalam hal normatif seperti data korban juga benar-benar ia perhatikan. “Data korban antara BPBD, Bupati, Relawan, semua berbeda. Inilah yang perlu dibenahi. Kasihan masyarakat, terjadi simpang siur. Jumlah korban hari ini itu bukan data riil lapangan, namun kesepakatan pihak-pihak tersebut”, imbuhnya.

Lukman juga menyayangkan, logistik bantuan serta media hanya terpusat pada satu desa. Selain itu, ia melihat gelagat aneh masyarakat yang terkena dampak karena banyak dan besarnya bantuan. “Di lokasi itu bantuan turah-turah. Sampai-sampai, ada yang sudah aman mereka tidak mau pulang, malah tetap nyaman di pengungsian karena semua disediakan di sana. Apa-apa ada. Ini membuat mental bangkit mereka jadi rendah, yang harusnya bangkit, namun masih ogah-ogahan karena membludaknya bantuan.

Menurut pengamatan Lukman, salah satu hal yang penting adalah rekoveri atau rehabilitasi korban pasca longsor. “Saya kira, rehabilitasi tidak cukup dengan adanya trauma healing, meski itu sudah baik. Karena trauma mereka berkepanjangan. Misalnya, kemarin saya melihat kakek-kakek yang setiap sore datang dari pengungsian ke lokasi longsor, di atas rumahnya yang rata dengan tanah. Diajak pulang tidak mau, katanya: di situlah rumahnya, asalnya dan tempat tinggalnya meski sudah tidak ada apa-apanya”, imbuh lukman.

Alfin Zidni, salah satu tokoh pemuda Ansor menambahi. Longsor dan banjir itu sunnatullah dan merupakan keseimbangan alam. “Sudah menjadi sunnatullah air itu mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Pun juga tanah, makanya kalau menebang pohon, perusahaan-perusahaan itu, sebagai tanggungawab moral, perlu memikirkan adanya penghijauan kembali,” ungkapnya.

“Sepengalaman dan sepengetahuan saya, ramadhan memang bulan yang ‘panas’ dan penuh adrenalin. Peristiwa-peristiwa besar terjadi di bulan ini: perang badar, turunnya AlQuran sampai kemerdekaan Indonesia. Ada sebuah pola gesekan menuju keseimbangan.” Imbuhnya.

Refleksi Ramadhan

Memasuki malam, para musisi yang biasanya digawangi oleh IPNU Band belum jua muncul. Kabarnya, mereka tengah latihan untuk Konser Ramadhan esok sore di desa Donorati, salah satu desa yang terdampak longsor. Konser ini diinisiasi oleh Karang Taruna desa setempat bekerjasama dengan IPNU, IPPNU dan PMII. Wajar, jika Maiyahan kali ini sepi dari music. Puluhan peserta maiyahan yang hadir, tak ada yang memiliki bakat seni menggenjreng gitar. Akhirnya diskusi dilanjutkan, dengan berganti tema ramadhan.

Mbah Mufid kembali tampil. Ia menjelaskan perang Badar, yaitu perang fenomenal 300 kaum muslimin melawan 1000 kamu musyrikin, yang juga terjadi di bulan ramadhan. “Yang memprovokasi pertama kali perang ini sebenarnya Iblis, ia menyamar sebagai komandan perang. Akhirnya bertemulah pasukan yang tak seimbang itu di lembah Badar. Ketika berhadap-hadapan, malaikat tiba-tiba datang. Iblis tahu dan memperingatkan kepada kaum musyrikin, namun diacuhkan. Iblis kemudian lari sendiri. Perang itu dibantu malaikat. Kalahlah mereka”, kata Mbah Mufid menjelaskan.

Kemudian Lukman memuncaki Maiyah edisi ramadhan ini dengan chasbunnallah wanni’mal wakil ni’mal mawla wanni’man nashir dua kali, dilanjutkan Duh Gusti tiga kali. Terakhir, doa dilangitkan dengan khusyuk, meminta kepada Allah diberi akses kemudahan, rizki yang halal, solusi atas masalah pribadi dan bangsa. Usai doa, para jamaah maiyah sahur bersama dilanjut tadarrus bola, menyaksikan dramatisnya adu penalti Portugal menumbangkan Polandia.