Daur (259)

Muda dan Pengayom

Tahqiq : “...Aslinya yang saya harapkan dari anak-anak ini adalah jiwa pendobrak, semacam gairah revolusioner untuk menyalakan api perubahan dengan kaliber besar...diam-diam saya menunggu sikap dan ekspresi yang lahir dari energi besar pelaku sejarah yang siap merobohkan dinding, menjebol bangunan-bangunan yang memenjarakan kemanusiaan dan kebenaran....”

Ya ampun anak-anak muda ini. Tarmihim, Sundusin, Brakodin, dan semua geleng-geleng kepala. Seger membacakan daftar usulan judul dan tema yang dihimpun dari teman-temannya sekomunitas dan sejaringan.

“Rekonstruksi Pemahaman Pancasila”. “Budaya Informasi: Yang Buruk itu Baik, Maka Yang Baik itu Buruk”. “Kerajaan Rasa Republik”. Ada judul lain yang senada: “Raja-Raja Republik”. “Siapa Bilang Manusia Membutuhkan Kebenaran”. “Demokrasi Bangsa Sudra”. “Demokrasi Gugon Tuhon”. “Satriyo Profesional”. “Selamat Tinggal Pandita”. “Sinisihan Arto”. “Membaduti Punakawan, Mempunakawani Badut”. “Sparepart Kelaliman, Onderdil Penggelapan”. “Jangan Tahu, Supaya Selamat”. “Manusia Jenis Setan, Setan Jenis Manusia”.

Ya ampun, apa saja itu. Gawat isi pikiran para keponakan ini. Sepertinya mereka ini agak keracunan Markesot Mbah mereka.

“Jawa itu Primordial, Barat itu Universal”. “Madura Sunda Jawa itu Etnik, Arab itu Islam”. “Yang Punya Jurus Tidak Berani Berkelahi, Yang Berani Berkelahi Tak Punya Jurus”. “Bangga Oleh Kehinaan, Malu Oleh Kemuliaan”. “Tuhan Kok Dibodohi”. “Mu`min Bersaudara, Muslim Belum Tentu”. “Kalau Ingin Goal, Pindahkan Letak Gawang”. “Geger Wong Ngrasani Macan”. “Geger Wong Mangan Bathang”. “Siapa Bilang Gajah Lebih Besar Dari Tikus”. “Kebesaran Orang Kecil, Kekerdilan Orang Besar”. “Benci Itu Bodoh”. “Berlindung Kepada Anak Yatim”. “Nabi Ayub Tak Punya Kulkas”. “Regulasi Hijriyah”. “Hak Asasi Tuhan, Wajib Asasi Manusia”. “Salahmu Sendiri Kok Muslim”. “Membolos Dari Keabadian”. “Wahyu Berpendar di Ubun-ubun”….

Waduh apa lagi itu. Jangan-jangan ini potensi Nabi Palsu. Sekurang-kurangnya sangat licin untuk mudah dituduh seperti itu.

“Semua tema itu rata-rata wilayahnya adalah kesadaran introspeksi”, komentar Tarmihim, “kewaspadaan terhadap diri sendiri. Bercermin mencari kesalahan-kesalahan diri. Diri macam-macam. Diri individu. Diri manusia. Diri kemusliman. Diri keIndonesiaan. Berbagai macam maqamat atau positioning beragam setiap orang”

“Secara pengetahuan dan ilmu anak-anak muda ini sangat murni”, Sundusin juga mengemukakan kesannya, “secara sosial mereka tidak terjerembab di dalam kubangan rasa permusuhan atau kebencian. Mereka ini benar-benar meneliti diagnosis keadaan zaman, sebagai langkah awal sebelum mencari solusi”

Brakodin agak berbeda refleksinya. “Potensi mereka ini ilmuwan dan manajer, jiwa anak-anak muda ini pengayom. Judul-judul yang mereka usulkan sebenarnya berlandaskan rasa kasih sayang yang mendalam kepada para pelaku zaman. Saya sangat gembira dengan kenyataan itu, tapi juga sedikit kecewa….”

“Maksudnya kecewa gimana, Cak Din?”, Ndusin bertanya.

Brakodin agak terdiam beberapa saat.

“Aslinya yang saya harapkan dari anak-anak ini adalah jiwa pendobrak, semacam gairah revolusioner untuk menyalakan api perubahan dengan kaliber besar. Pemikiran mereka saya akui sangat mendasar, luas, komprehensif, dan menyentuh inti-inti masalah manusia yang sedang dikurung oleh zamannya. Tetapi diam-diam saya menunggu sikap dan ekspresi yang lahir dari energi besar pelaku sejarah yang siap merobohkan dinding, menjebol bangunan-bangunan yang memenjarakan kemanusiaan dan kebenaran….”

Belum selesai Brakodin bicara, mendadak datang tamu. Tiba-tiba nongol dan sudah memasuki pintu ruang pertemuan mereka. Konsentrasi pembicaraan menjadi beralih. Semua terkesima dan bertanya-tanya.

Seorang yang mungkin sudah sangat tua, kalau melihat bentuk sosoknya dan cara berdirinya. Badannya tidak besar, tidak tinggi, bahkan cenderung kurus. Celananya kuno, lebar, dan tidak dengan potongan atau jahitan sebagaimana orang modern bercelana. Mirip seperti celana para petani di desa. Hitam agak keabu-abuan.

Bajunya juga berpotongan sangat dusun. Kancing-kancingnya semacam tali yang diikatkan di beberapa titik. Wajahnya tidak begitu kelihatan, meskipun nuansanya jelas itu orang yang sudah berumur. Kepalanya ditutupi kain, semacam kerudung tapi tidak dilingkarkan di lehernya. Secara keseluruhan warna pakaiannya tidak cerah. Cenderung kumuh dan mengekspresikan keremang-remangan.

Orang tua itu berhenti beberapa saat, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun ia melangkah menuju Tarmihim. Mengeluarkan semacam sobekan kertas, yang kumuh juga, disodorkan kepada Tarmihim. Tarmihim juga tidak menemukan kata apapun untuk diucapkan. Ia spontan menerima kertas lipatan itu. Dan semua yang lainnya terdiam tidak mengerti harus berlaku bagaimana.

Ketika Tarmihim terpaku melihat dan pelan-pelan membuka lipatan kertas di tangannya, si orang tua  menepuk lengannya, kemudian tangannya bergerak-gerak seperti sedang mengkomunikasikan sesuatu. Kemudian langsung melangkah lagi ke arah belakang ruangan, dan masuk kamar mandi. Oo rupanya gerak-gerak tangannya tadi menggambarkan orang sedang mandi dengan menyiram-nyiram tubuhnya.

Segera terdengar air kulah dikuras dengan semena-mena dengan gayung yang bertubi-tubi. Begitulah memang cara mandi Pakde Paklik semua itu dulu di desanya. Itulah peradaban pra-shower. Dan masyaallah kejamnya tamu tua itu menguras air di bak kamar mandi. Badan sekecil itu dilayani dengan jumlah air seolah-olah ia seorang raksasa.

Sampai akhirnya Brakodin bersijingkat dari duduknya. Ia tiba-tiba kaget setengah mati. Bukankah kulah kamar mandi itu kosong sejak kemarin karena belum diisi air, karena pompanya macet?