Daur (94)

Mr Jongos Lilo Legowo

Apakah Markesot sudah memasuki dan tenggelam setenggelam-tenggelamnya di alam khayal, karena — misalnya — hidupnya sudah pasti tidak kompatibel dengan dunia yang ia geluti sejauh ini?

Kanker melumat akhlaq.

Racun membakar hati.

Narkoba membolak-balik susunan saraf otak.

Rasul diperankan oleh perompak.

Nabi diganti pedagang dan Tuhan meninggalkan Negara karena konstitusinya gugon-tuhon absolut.

Pemerintah sudah mabuk berzina sambil menawarkan bangsanya untuk dizinahi oleh Buto, Rasekso, Denowo, juga Dajjal yang kini berkoalisi dengan Ya’juj danMa’juj yang menguasai dunia.

Dan para pendukung proyek perzinahan ini membela Pemimpin Zina seratus kali lipat dibanding sejarah pembelaan ummat manusia kepada Agama, Nabi, Rasul bahkan Tuhan.

Dan Markesot lari terbirit-birit.

Markesot lari? Terbirit-birit?

Berjalan jauh menelusuri rel, kemudian belok ke sungai, berhenti di tepi hutan, mendramatisasi dirinya sendiri, ngawang filsafat-filsafat yang hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri, mengkhayalkan berbagai keindahan masa silam, karena hanya melihat gelap gulita di arah depan?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul kepada Markesot dari Markesot sendiri, yang tinggal di bagian belakang otaknya, yang kakinya berpijak di tengkuknya, wilayah outlet dari kegerahan jiwanya berpuluh-puluh tahun lamanya.

***

Markesot menjawab, “Bagaimana kalau perjalananku ini untuk meminta izin sebagaimana 18 tahun yang lalu untuk sesuatu hal yang berkaitan dengan berbagai jenis frustrasi yang penuh kehinaan itu?”

“Bangsa saya melakukan kesembronoan luar biasa sehingga melahirkan beribu-ribu pertanyaan masa depan, yang sepersepuluh saja tak mampu mereka jawab”

“Bangsa saya menjalani hidup dengan penuh kelalaian dan keterlenaan sehingga menghasilkan permasalahan-permasalahan yang terlalu sedikit yang bisa mereka atasi. Dan tatkala mereka mencoba mengatasi yang hanya sedikit itu, ternyata malah menghasilkan jauh lebih banyak tumpukan permasalahan lagi”

“Bangsa saya dengan tertawa-tawa dan canda-alpa menyaksikan dan mengalami perampokan besar-besaran atas harta kekayaannya. Sampai akhirnya tak mereka sadari yang lebih dikikis dan hampir dimusnahkan adalah martabat kemanusiaan serta harga diri kebangsaan mereka”

“Bahkan hari-hari para Raseksa penzina sedang mengulurkan tangan sangat panjangnya untuk melatih dua golongan masyarakat di wilayah yang berbeda untuk berperang. Tanpa disadari dua golongan itu dilatih untuk siap beradu kekuatan, keberanian, kebrutalan, dan kekejaman. Nanti tatkala perang di lapisan bawah itu selesai, ribuan atau jutaan manusia bergeletakan – perampokan dan penjarahan akan tiba di garis mutlak”

“Bapak-bapak mereka dirayu dengan rasa aman ekonomi, Ibu-Ibu mereka dipompa hatinya dengan kemewahan, anak-anak mereka diadu-domba. Sehingga para Raseksa penzina tidak perlu bekerja keras dan mengeluarkan biaya banyak: cukup keluarga bangsa saya sendiri yang menjadi mesin penghancur atas diri mereka sendiri”

“Buta, tuli, dan kebodohan menguasai mereka. Tatkala bangun pagi, mereka temukan bahwa mereka adalah jongos-jongos”

***

Selamatlah barangsiapa yang pada suatu posisi menyadari dirinya: “Lho, aku jongos to…aku budak to….

Tetapi mungkin tidak demikian kebanyakan orang yang dijumpai oleh Markesot. Tatkala ada di antara mereka yang mengatakan bahwa mereka ini jongos, maka kebanyakan di antara mereka menjadi tersinggung, terhina dan marah. Mungkin yang bilang jongos itu dipukul, bisa jadi dibunuh, atau sekurang-kurangnya dibenci seumur hidupnya.

Baginda Adam pasti tidak semudah itu diperdaya atau dibodohi oleh Iblis di sorga, andaikan si Iblis tidak menyamarkan wajahnya dengan wajah Malaikat dan berpakaian sebagaimana pakaian para Malaikat pada umumnya. Adam penghuni baru di sorga. Pengalamannya masih sangat minimal. Belum mengenal konstelasi para penghuni sorga dan belum hapal kecenderungan budaya mereka.

Iblis sesudah lolos dari dubur Naga, ternyata masih menjumpai berjuta-juta Burung Merak yang merupakan Polisi sorga, berjaga di berbagai wilayah dan titik-titik. Memperdaya satu Naga tidak terlalu sukar, tetapi jutaan Burung Merak dengan tingkat kejelian mata dan kepekaan rasa sorgawi, bukanlah makhluk-makhluk Allah yang mudah dikelabui.

Akan tetapi aslinya Iblis adalah Malaikat Kanzul Jannah, Sang Azazil, yang gelar-gelarnya sangat banyak di berbagai lapisan langit, Al-Khosyi’, Ar-Roki’, As-Sajid dan lain sebagainya. Bahkan ia sangat senior, yang Baginda Jibril pun dulu sering minta tolong kepadanya jika memiliki usulan atau keperluan kepada Allah. Azazil yang paling berani dan berderajat untuk menyampaikannya kepada Tuhan.

Kemudian Allah memberinya tugas untuk memimpin densitas negatif, menjadi kegelapan untuk mengukur dan menguji kadar kualitas cahaya, termasuk bekerjasama memperjodohkan segala yang negatif dengan yang positif, dengan pengalaman triliunan tahun untuk ukuran manusia Bumi – maka bagi Azazil: Adam adalah “anak kemarin sore”.

***

Akan tetapi Baginda Adam adalah akar peradaban ummat manusia. Tidak mungkin Allah membiarkannya bodoh dan tidak tahu diri seperti banyak dari anak-anak keturunannya.

Sesudah Iblis memperdayainya, Baginda Adam langsung dicerahkan oleh kekhilafannya, menyadari ia telah sempat diperbudak oleh nafsunya, diperjongos oleh Azazil si laknat, yang dikontrak oleh Tuhan menjadi musuh ummat manusia hingga hari Kiamat.

Baginda Adam memperoleh pelajaran mendasar tentang nilai dan perilaku kemakhlukan. Ia menyangka didatangi oleh Malaikat, karena sedemikian rupa penampilan dan kostum Iblis di depannya. Terlebih lagi amat sopan santun perilaku dan tutur katanya. Ekspresi Iblis penuh welas asih. Bahkan sempat beberapa kali menangis kepada Adam.

Muncul semacam kengerian di hati Baginda Adam, anak turunnya kelak jangan sampai mengalami keterperdayaan seperti yang ia alami. Manusia diproses untuk menjadi jongos tidak melalui kekuasaan dan kekuatan, tidak karena dicambuki atau takut ditebas dengan pedang. Anak turun Adam dididik menjadi budak melalui perlambang-perlambang yang ditampakkan.

Manusia diperbudak karena terlalu mudah kagum kepada pertunjukan kepandaian dan kecanggihan. Terlalu gampang takjub kepada pangkat, kesarjanaan, profesi tinggi, jabatan, iming-iming harta benda dan kemasyhuran. Manusia bahkan rela menjadi budak yang patuh kepada orang yang sekadar menjanjikannya makan lebih banyak, uang lebih bertumpuk, harta lebih melimpah, investasi yang sebesar-besarnya.

Bahkan sangat banyak di antara mereka sanggup lilo legowo merelakan harga diri kemanusiaannya dan menyerahkan lehernya untuk dijadikan jongos, hanya karena takut tidak makan, takut tidak mampu membiayai sekolah anaknya, takut tidak bisa membeli motor dan gadget yang baru.