Daur (107)

Monggo Mas Iblis Ngimami

Perumpamaannya sederhana. Ada riuh rendah di sejumlah jalan dan gang di kampung. Seisi rumah beralih perhatiannya ke kegaduhan itu, sehingga kehilangan konsentrasi pada urusan rumahnya. Dan ketika itu masuklah permasalahan yang sebenarnya ke dalam rumah itu.

Permasalahan itu bisa maling yang mengambil sesuatu. Bisa sekadar pengintai untuk memastikan pemetaan segala sesuatu di dalam rumah itu. Bisa penjahat yang tidak mengambil sesuatu langsung, melainkan mengganti kunci dan gembok pintu-pintunya. Atau melubangi dinding-dinding yang diperlukan di bagian-bagian yang tak kentara.

Banyak sekali kemungkinannya. Bisa juga memasukkan cairan-cairan tertentu di bak-bak tempat mandi. Memasukkan serbuk-serbuk di saluran air minum. Menyemprotkan sesuatu di udara kamar anak-anak dan Ibu Bapak, dan yang disemprotkan disesuaikan dengan keperluannya. Generasi tua disemprot apa supaya mudah dimabukkan, dikaburkan matanya atau ditulikan sedikit pendengaran telinganya.

Sedangkan untuk anak-anak, yang muda, remaja maupun kanak-kanak, mungkin tidak hanya disemproti asap-asap yang menaburkan sihir tertentu sesuai dengan desain besar para penjahat yang masuk rumah itu. Atau bisa juga di kamar anak-anak dikasih mainan-mainan baru yang mengasyikkan. Di komputer mereka dikasih aplikasi-aplikasi baru, games, atau olah animasi, atau apapun, yang membuat mereka merasa nyaman di dunia maya, sehingga menyangka bahwa yang maya itu adalah nyata.

***

Di zaman dulu yang mengatur tipudaya kepada seisi rumah Bangsa itu datang dari Barat. Sekarang menyerbu dari Utara.

Apakah yang Barat tidak merasa disaingi dan didesak oleh yang Utara. Tentu. Tetapi yang Barat sedang rendah daya tawar-menawarnya. Dan yang Utara juga memakai ilmu yang sangat lembut. Tidak menunjukkan permusuhan yang mencolok kepada Barat. Bahkan memberi peluang kerjasama.

Maka Utara dan Barat secara bertahap menyepakati pembagian bilik-bilik rampokan mereka. Menyusun giliran kapan Utara dan Barat meniduri Ibu. Kalau Barat meniduri Ibu, Utara menghibur Bapak dengan dibelikan bahan bakar kendaraannya, atau diajak ke toko mainan kanak-kanak. Demikian juga sebaliknya.

Seisi rumah memang sengaja ditakut-takuti oleh Utara maupun Barat dengan seliweran Palu, Arit dan bendera-bendera Merah. Keduanya berbagi irama agar kelalaian, kealpaan dan keterlenaan semua penghuni rumah bisa dipelihara dengan stabil dan konstan.

Padahal kalau ada penghuni rumah itu yang sedikit saja berpikir, ia mestinya ingat bahwa tidak mungkin yang berseliweran itu akan menjadi fakta besar yang semembahayakan yang dikhawatirkan. Utara adalah Rajanya Palu dan Arit, tetapi sejak beberapa puluh tahun yang lalu yang digenggam di tangan mereka adalah Pisau Dapur yang sangat tajam.

Kalau diandaikan itu adalah ideologi, Utara adalah Mbah-nya Komunisme, Empu-nya Palu dan Arit. Tetapi Utara memakai Palu dan Arit hanya untuk manajemen ke dalam negerinya, untuk menata soliditas top-down atas rakyatnya. Tetapi keluar, mereka menjajah seluruh Dunia dengan pegang pisau tajam kapitalisme, industrialisme, liberalisme atau Pasar Bebas.

Padahal hakikatnya Pasar Bebas itu bertentangan dengan Palu dan Arit. Jadi para peserta Festival Merah Palu Arit itu mencoba-coba saja siapa tahu ada resonansinya, sambil menjalankan tugas dari Utara untuk menjadi pasukan yang menyamarkan keadaan, demi mempermudah petugas-petugas Utara meneguhkan penguasaannya atas rumah Bangsa itu.

***

Sekarang ini perambahan Pasar Bebas sudah sampai taraf pemusatan kapital. Penanaman dan penguasaan modal mayoritas di berbagai mesin ekonomi sudah bisa dipastikan fix dan mapan. Ibarat keluarga, mawaddah wa rahmah-nya sudah merata, sehingga tinggal menata sakinah-nya.

Sorga tidak harus ditunggu melewati kematian-kematian dan Hari Kiamat. Seluruh pantai utara Pulau Jawa sudah bisa dipastikan segera direklamasi, untuk menyusun kursi-kursi berderet, untuk duduk memandang pantai lepas hingga ke cakrawala. Penghuni-penghuni kaum fakir miskin yang tidak move on hidupnya dari abad ke abad lebih riil kembali saja dilemparkan ke hutan atau ke tong-tong sampah di tepi jalanan kota-kota.

Yang dulu ditakuti sebagai Super Power atau kekuatan raksasa, sekarang sudah ompong. Saingan untuk reklamasi dunia itu tinggal satu, yakni sebuah wilayah imamah yang kalau dipandang dari Pulau Jawa, agak sedikit ke utara-timur dari Ka’bah. Itu tempat dihuni oleh masyarakat yang sebutannya Si-A, sementara di wilayah-wilayah lain di muka bumi ada ya Si-B, Si-C, Si-L, Si-M, hingga Si-Z.

Seluruh penduduk dunia terutama yang menghuni lingkaran Nusantara Khatulistiwa harus dibikin benci kepada Si-A. Tapi sasarannya adalah kekuatan Negara yang dihuni oleh kumpulan Si-A ini. Lumayan berhasil. Si-A terus menerus dimusuhi oleh Si-S, si-W, Si-N dan banyak lagi. Permusuhan yang tak kunjung henti itu juga menguntungkan para pasukan Utara, karena semakin mereka bertengkar, semakin tidak memperhatikan keutuhan dan keselamatan rumah mereka sendiri.

***

Walhasil, Bangsa yang saat ini Markesot ada di dalamnya benar-benar hampir tiba pada kesempurnaan percintaan mereka, sadar tak sadar, dengan Dajjal dari Barat, Ya’juj Ma’juj dari Utara, maupun Iblis yang muncul dari dalam diri mereka sendiri.

Tidak ada masalah dengan beliau bertiga, asalkan jadi makmur. Bisa makan dan laba uang lebih banyak, bisa gemah ripah loh jinawi.

Ini Bangsa yang sangat rajin mendekatkan dirinya kepada Tuhan, supaya rejekinya makin banyak. Sangat mencintai Nabi, rutin melakukan puja-puji kepada kekasih Allah itu, agar memperoleh syafaat, artinya bisa makin kaya harta.

Jelasnya, kalau keadaan makin miskin, dengan rajin beribadah, berdzikir dan bershalawat, mudah-mudahan berubah menjadi kaya. Kalau sudah kaya, juga rajin beribadah, berdzikir dan bershalawat, supaya semakin bertumpuk kekayaannya.

Mereka sangat menjunjung Agama, terutama simbol-simbolnya. Kalau Iblis mengirimkan utusannya ke tengah mereka, asalkan menjanjikan kekayaan dan harapan harta benda, maka utusan Iblis itu mereka kasih baju taqwa, peci, sarung dan surban, kemudian mereka ajak masuk rumah ibadah, dijunjung untuk berdiri di podium, agar memberikan tausiyah.

Tidak penting isi tausiyahnya apa. Bahkan mereka juga tidak peduli arti kata tausiyah itu sebenarnya apa. Yang utama adalah penghormatan mereka kepada utusan Iblis itu merupakan investasi yang akan memantul kepada mereka efek-efek kapital dan akses kekuasaannya.

Lebih dari itu, duta Iblis mereka persilakan untuk maju sendirian ke ruang Imaman. Dimohon untuk menjadi Imam. Tidak penting apakah si duta itu sama kepercayaan dan prosedur peribadatannya dengan mereka atau tidak, tapi pokoknya silakan mengimami. Kalau tidak bisa mengucapkan bacaan-bacaan atau kalimat-kalimatnya, tidak masalah, dicarikan jenis dan waktu ibadah yang tidak memerlukan ucapan yang dibunyikan.