Yogya Post, 3 Mei 1991

Modal-Mokal Seni Islam

Di tengah kesibukan yang menguras energi batin, tenaga, dan waktu, minggu kemarin saya menyempatkan diri ke Madiun menemani saat-saat terakhir sebelum drama-puisi “Lautan Jilbab” dipentaskan di Stadion Wilis kota itu.

Sejak tahun 1976, puluhan atau mungkin ratusan kali saya melakukan hal semacam ini. Pernah saya jadi kuli belakang panggung pementasan Bengkel Teater, Teater Sanggarbambu, Teater Dinasti, Sanggar Shalahuddin, Teater Tikar, Teater Jiwa, Teater Aisiyah, Teater Flamboyan, juga belum lagi kalau dihitung tradisi keguyuban grup-grup teater Yogya yang biasanya melibatkan sangat banyak kolega — termasuk saya — untuk ikut bekerja.

Agung Waskito
Agung Waskito. Doc Progress.

Di Madiun itu hadir sekitar lima belas aktor Teater Jiwa pimpinan Agung Waskito dari Yogya, di samping melibatkan 176 orang pemain setempat yang datang dari Maospati, Ngawi, Ponorogo, Magetan, dan Madiun sendiri. Mereka harus kerja amat keras untuk pementasan kolosal yang ditonton 30.000 Muslimin-Muslimah.

Siapakah yang lebih besar dari Agung Waskito, yang mampu, sabar, dan amat telaten dalam waktu amat singkat mengorganisasikan sebegitu banyak manusia? Untuk pementasan yang dituntut tidak saja prestasi estetika dan komunikatifnya, tetapi juga dari sisi Islami-Nya?

Mungkin ada tenaga dari Majelis Kebudayaan Muhammadiyah, lembaga-lembaga Islam lainnya, atau dari masjid-masjid, yang sesekali boleh menggantikan peran Agung Waskito.

Bahkan kemampuan saya, kesabaran saya, ketelatenan saya, serta kepemimpinan saya, hanya seujung jari dibanding yang dimiliki oleh Agung Waskito, anak yang tidak tamat SMA dan tidak pernah dianggap seseorang oleh umat dan pemimpin-pemimpinnya yang dia beri jasa sedemikian besar.

Normalnya teater profesional saja harus berlatih tiga bulan nonstop untuk satu pementasan. Ini pentas dengan pemeran-pemeran “kagetan” dari pelosok-pelosok, ditangani Agung sendiri seminggu dua kali selama hanya dua bulan — dan pentasnya berlangsung lumayan.

Pun pementasan itu berjudul “Lautan Jilbab”, blakasuta berbaju Islam dan sangat rawan tuduhan primordial, sektarianistik, atau apapun yang amat merendahkan dan menghina.

Karya seni semacam itu apakah diperlukan? Apakah umat Islam, organisasi-organisasi Islam beserta para pemimpinnya, menganggap karya semacam itu ada manfaatnya?

Cak Nun berta'ziah di kediaman Alm. Agung Waskito.
Cak Nun berta’ziah di kediaman Alm. Agung Waskito.

Sesudah sukses pentas di Madiun itu — juga sebelumnya di Ujungpandang, Malang, dan Yogya sendiri — permintaan mengalir dari Sabah Malaysia, Gontor, Pare, Solo, Jember, Surabaya, dan semua harus antre satu per satu, tiga bulan per tiga bulan, karena awal Mei ini Agung harus melangsungkan pernikahannya dulu di Palopo, Sulawesi Selatan.

Sebenarnya, kalau karya semacam itu, juga kalau kesenian Islam, tidak sungguh-sungguh penting, tolong janganlah kami diundang, sebab Tuhan alhamdulillah masih berkenan menitipkan banyak hal lain yang baik untuk diperbuat dan bermanfaat bagi kehidupan.

Akan tetapi, kalau niat ingsun dan nawaitu-nya mengundang, maka marilah kita sepakati kerendahan hati dan rasa syukur di antara kita.

Kami amat membutuhkan itu, sebab para pemeran karya itu adalah anak-anak muda yang masih sedang mencari. Mereka bukan muslim kamil seperti Pak AR, Pak Azhar, Pak Amien, Pak Suroyo, dan lain-lain. Anak-anak muda itu masih berkapasitas seperti lazimnya anak-anak muda: shalatnya belum khusyuk, tahajudnya belum mendalam, bahkan terkadang masih kecolongan perilaku yang membahayakan.

Di awal 1980-an, saya kerepotan menggembalakan anak-anak Teater Dinasti yang saya ajak pentas musik puisi khusus untuk jamaah Islam kampus. Dan ini berlangsung berulang-ulang. Perilakunya masih ada yang abangan. Juga ketika sanggar Shalahuddin awal-awal berdiri, masih banyak teman “yang belum lulus masuk surga”.

Kelebihan konkret mereka hanyalah bahwa mereka bersedia membantu syiar Islam melalui kesenian serta bersusah payah untuk itu, termasuk mau dicaci maki oleh orang Islam sendiri. Misalnya karena jilbabnya belum tertib, duduknya metingkrang, gaya perilakunya tidak santri, dan sebagainya.

Di Madiun kemarin mereka juga memperoleh caci maki semacam itu. Dan mereka menerimanya dengan tak lagi menangis, meskipun mereka tahu karya-karya seperti itu tak akan terwujud tanpa peran serta mereka.

Apakah Anthony Quinn dan Irene Papas yang beragama Kristen dulu dicaci maki oleh umat Islam karena keduanya membintangi film The Message dan Lion of the Dessert karya Musthafa Akkad?

Kasihan anak-anak yatim di Madiun itu. Tubuhnya kumuh, pakainnya kumal, uangnya selalu tipis, rambutnya awut-awutan, bekerja ekstrakeras untuk syiar, ditonton oleh puluhan ribu Muslimin-Muslimat dan dicaci maki dari belakang.

Proses Pemakaman alm. Agung Waskito.
Proses Pemakaman alm. Agung Waskito.

Rupanya syarat menjadi pemain drama Islam ialah kadar kemuslimannya harus sempurna dan utuh dulu bagaikan Sayyidina Ali dan Abu Dzar Al-Ghiffari.

Saya setuju dengan syarat dan modal itu, sehingga kaum muslim di mana saja janganlah mengundang anak-anak yang saya temani itu.

Sebab pada suatu hari anak-anak itu bisa tak tahan hati terus dimaki-maki dan ditikam dari belakang. Seandainya mereka mualaf, mungkin mereka minggir dari Islam oleh caci maki itu. Seandainya mereka baru pada taraf bersimpati kepada Islam, mungkin mereka akan meralat simpatinya kepada Islam.

Dan apabila hal itu terjadi, apabila anak-anak itu pergi karena tak tahan hati, percayalah bahwa saya, Emha Ainun Nadjib, akan melangkahkan kaki di sisi mereka.