Reportase LD Malaya edisi September 2016

Mimpi Basah Kepemimpinan

Tema Mimpi Basah Kepemimpinan sama sekali tidak ada hubungannya dengan akan diselenggarakannya Pilkada Serentak di Kota Tasikmalaya.

Bahasan Pemimpin dan Kepemimpinan di Lingkar Daulat Malaya merupakan hal baru yang disuguhkan dalam majelis bulanan. Namun, di forum mingguan soal pemimpin dan kepemimpinan selalu menjadi pembahasan yang asyik dan hangat dan paling sering. Terlebih di Daur sekarang-sekarang ini menjadi bahasan. Tapi, bukan sebagai tindakan untuk menyindir Kota Tasikmalaya yang menjadi salah satu daerah yang terdaftar dalam Pilkada Serentak 2017.

Tema “Mimpi Basah Kepemimpinan” sama sekali tidak ada hubungannya dengan akan diselenggarakannya Pilkada Serentak di Kota Tasikmalaya. Berbicara pemimpin dan kepemimpinan, dalam majelisan merupakan tindakan dan sikap ke dalam diri sendiri (Ngabenahan diri sorangan, kara ka diri batur). Demikian, menjadi muatan atau misi dalam pembahasan tema teresebut. Hal itu disebabkan, banyaknya masyarakat yang kini semakin tidak tahu apa itu pemimpin, khalifah, imam, yang akhirnya mereka menikmati pemimpin yang dibentuk dan dilahirkan oleh para pemodal. Tidak tahu bedanya dengan penguasa, pemerintah dan lain-lain. Seolah pemimpin itu pemerintah.

Forum LD Malaya edisi September 2016.
Forum LD Malaya edisi September 2016.

Berguru Pada Hujan

Musim hujan, menjadi muatan kebarokahan atas turunnya rahmat dari Allah SWT. Diberbagai tempat Maiyahan, tak terkecuali Tasikmalaya selalu dilanda hujan deras. Namun, tak mengurungkan niat para pegiat untuk tidak terlaksananya acara majelisan. Sejak sore, hujan deras menimpa Kota Tasikmalaya. Diyakini, tetesan hujan merupakan kumpulan rahmatNya yg dibawakan lewat malaikat sebagai staffNya.

Para pegiat memasrahkan semua hal yang ada diluar pengetahuan dirinya untuk terselenggarakannya acara kepada yang menurunkan hujan. Majelisan edisi September 2016 dimulai dengan Ta’dib selepas shalat Magrib sampai Isya. Selesai Ta’dib, Syaepul sebagai salah satu pegiat memimpin tadarusan Quran Surat Al Baqoroh. Setelahnya, membacakan wirid panggilan (Maulan Siwallah) dan beberapa Wirid lainnya.

Ada yang berbeda dari maiyahan bulan-bulan sebelumnya, pertama doa bersama untuk musibah banjir bandang yang menimpa saudara-saudara di Garut dan longsor di Sumedang. Kedua, kedatangan  sadulur yang sangat dirindukan, yaitu Isim Maiyah, Mas Harianto dan rombongan Jamaah Maiyah Bandung (Jamparing Asih).

Syaepul, membuka majelisan dengan mempersilahkan Kang Adi Nabil (Pegiat dari Pondok Pesantren Darussalam Ciamis) untuk memaparkan terkait mukadimah “Mimpi Basah Kepemimpinan”.

“Pemimpin yang diibaratkan suami dan rakyat sebagai istrinya. Dalam kehidupan sehari-hari si suami dengan si istri terlihat baik. Namun, bersamaan itu alam pikir si suami selingkuh dengan memikirkan seorang perempuan yang berwarna kulit kuning langsat, bermata sipit dan seksi.”

Ketika berbicara pemimpin, seolah sedang bermimpi. Memaksakan keinginan dan kesukaan kita pada diri orang lain. Ketika kita tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Maka kita menyalahkan.

Padahal, itu semua dibentuk dan dilahirkan atas dasar keinginan. Karenanya, disaat membicarakan seorang pemimpin, ya diri sendiri lah seorang pemimpin. Bentuk dan lahirkan diri sendiri sesuai dengan apa yang diinginkan dan disebutkan dalam kriteria seorang pemimpin tersebut. Apa itu yang terkandung dalam wangsit siliwangi maupun terkait satrio piningit. Sesungguhnya, kita lah seorang satrio piningit itu, kitalah apa yang ada dalam wangsit siliwangi. Bentuk lah diri ini menjadi yang lebih baik. Tingkatkan aji.

Terciptanya seorang kekasih Allah untuk saat ini, merekalah yang mau berpikir. Merenung. Bersifat kedalam maupun keluar diri. Kedalam, perbaiki diri sendiri. Keluar, perbaiki prilaku kita terhadap orang lain. Jadi, salahkan dulu diri sendiri ketika ada tindakan yang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Diharapkan.

Berpikir, apa itu terkait sejarah maupun Bahasa. Terlebih, dalam Al Quran keduanya banyak dibahas. Dalam Quran Surat Al Insyroh; Kalimat kesulitan ada kemudahan itu bersifat dinamis. Upaya untuk menemukan kemudahan itu penekannya ada dalam ayat sebelumnya. Lapangkanlah Dadamu, yang memberatkan punggungmu. Bukankah telah ku tinggikan sebutanmu.

Sebutan (Dalam Al Quran Surat Al Insyroh — red), itu berkaitan dengan nilai-nilai yang misalnya kalau di sunda itu rendah hati, berehan, bageur kasasama, someah jeung sajabana. Karenanya, titenkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tamu Yang Dirindukan

Disela Majelisan, sekitar pukul 22.00 WIB; rasa syukur yang menjadi perjuangan masing-masing jamaah dalam hal syukur itu, tak disangka-sangka kedatangan tamu istimewa, Mas Harianto (Isim Maiyah) bersama rombongan Jamaah Maiyah Bandung (Jamparing Asih) yaitu, Mas Aam, Kang Teguh beserta Istri, Teh Nissa, Kang Cecep, dan Kang Temi.

Semua jama’ah menyambut dengan Peluk kemesraan. Seolah kekasih yang sedang menanti kenyataan untuk saling bertatapan. Sebuah kerinduan yang selalu tersimpan, sekarang tertumpahkan.

Diskusi pun kembali dimulai dengan penuh kekhusuan. Dialog yg sangat mencair dengan dialektika yang mendalam, sangat dirasakan oleh para jama’ah.

Kang Danil (pengkaji Sejarah dan Budaya Sunda) dari Ciamis mengelaborasi tema dengan pendekatan falsafah Sunda yang behubungan erat dengan Islam. Dalam falsafah Sunda, seorang pemimpin itu merupakan “Bocah Angon”; kepekaan sosialnya tajam, paham akan apa yang dibutuhkan masyarakat serta spiritualitas nya yang luhur. Ketika berbicara Pemimpin dan Kepemimpinan di budaya kita (Sunda) banyak di bahasa.

Mas Har (panggilan akrab Mas Harianto), dengan keluhuran informasi pengetahuannya, membuka selang-selang air dan wadah benih kepada jamaah. Dari sini, diskusi terasa mencair. Jamaah yang satu dengan yang lainnya saling mengelaborasi pengalamannya dengan tema.

“Teruslah menanam kebaikan. Menebar cinta. Konsisten dalam berbuat kebaikan. Karena yang dilihat itu adalah proses bukan tercapainya. Dan, konsisten dalam berbuat baik serta melatih kepekaan dan analisa sosial yang perubahannya itu bersifat dinamis. Terlebih, dalam berbuat kebaikan pun memerlukan strategi. Karena dalam kebaikan berdekatan dengan kejelekan.”

Mengenai kepemimpinan, yang lebih utama adalah berkaitan dengan diri sendiri. Semua orang membicarakan sifat kepemimpinan dalam diri orang lain. Menyebutkan kepribadian seorang pemimpin dalam wangsit Siliwangi maupun seorang Satrio Piningit.

Padahal, kepemimpinan dalam diri sendirilah yang harus dibentuk dan dilahirkan. Siapa diri kita dan apa sebenarnya peran kita yang sejati. Peradaban saat ini, merupakan peradaban kepurapuraan, kepalsuan dan prasangka. Dengan medianya, yaitu materi yang ditembakkan kepada pikiran dan praktik, orientasi dan cita-cita manusia.

Menjelang Pukul 02.00 WIB, Maiyahan Edisi September 2016 dipuncaki dengan bersama-sama membacakan Wirid Panggilan (Maulan Siwallah) dan membacakan Quran Surat Al Insyroh. Ditutup dengan Doa dan setelahnya bermushofahah dengan diiringi Sholawat Indal Qiyam.

(Epul/ LD Malaya)