Mukadimah Kidung Syafaat September 2016

Mi-kultur Dhuwur

Jika engkau berjalan menyusuri kehijauan desa maka tak lagi engkau dengar sahut-sahutan kicauan burung se-semarak sedia kala. Dulu ketika berkicau burung prenjak orang desa acap kali mengartikan tamu (kabar gembira) akan segera datang. Semua menanti dengan penuh senyuman, dan senyuman itu mereka bawa dalam aktifitasnya sehingga ber-output pada etos kerja, keberkahan hidup, dan kesadaran berfikir. Kini, burung-burung telah terperangkap dalam sangkar.

Fitrah manusia telah terbelenggu dalam kejumudan. Tidak ada yang menghela suasana di tengah hiruk-pikuk manusia. Ada yang lambat laun mengalami distorsi dari semangat kebudayaan kita. Ada yang perlahan bersedimentasi dalam relung-relung hati. Ada pula yang diam-diam mencair, mengalir dalam nadi bangsa kita. Yang barangkali menjadi bahan kontemplasi kita adalah apakah sejatinya yang sedang memadat, mencair, mengalir, mikultur atau membudaya itu. Kemudian dari sana kita punya opsi-opsi yang mana yang harus kita gali kembali, kemudian kita openi, lalu kita junjung, kita pikul dhuwur.

Kidung Syafaat
Kidung Syafaat

Tolehlah sekeliling kita. Dulu orang kaya memang tak nampak mentereng seperti zaman sekarang. Mereka masih memelihara rasa pekewuh kepada si miskin kalau sampai menampakkan kekayaannya. Tapi sekarang, hampir bisa kita temui rumah-rumah mewah dengan segenap perabot penghiasnya dan mungkin menjadi pemandangan yang tak ayal bagi kita berdiri pula di sampingnya rumah yang sederhana, biasa saja, bahkan jauh dari kata layak huni, begitu senjang, sehingga bikin kempropok yang lainnya. Nasehat simbah-simbah dulu orang Jawa itu tidak mengenal urip mblegendhu, menumpuk, memvisualkan, atau menonjolkan harta, tapi berusaha untuk urip prasojo, sederhana, apa adanya, dan syukur nikmat.

Kita sedang berada pada zaman dimana kompetisi sekulerisme digelar secara masif. Adat pemenuhan keinginan manusia mem-booming melampaui garis kebutuhan. Tradisi asketisisme memudar, berganti dengan hedonisme tak terpuaskan. Orang sudah enggan dan gagal memikul dhuwur nilai kesederhanaan. Tapi lebih cenderung melebihkan, membuang sia-sia nikmat yang diberikan. Jika membeli gadget fokusnya bukan pada daya guna telekomunikasi alat tersebut tapi lebih ke keren, mutakhir, atau canggih tidaknya. Menjamur perasaan gengsi kalau ndak keren.Bahasa Jawa juga kalah populer di mata anak-anak sekarang. Maka tak heran mereka lebih fasih meniru logat bahasa Upin dan Ipin daripada wejangan kanjeng Sunan Ampel. Negara juga, bikin infrastruktur sudah tidak penting lagi manfaat atau tidaknya. Yang penting tidak kalah kece di mata bangsa lain. Sudah hilang mental ngluruk tanpa bala nya. Menjual banyak agar massanya banyak. Memang ketika kita bicara soal etika itu bukan hanya menyangkut benar salah suatu kelakuan. Tapi lebih kepada norma kesopanan, unggah ungguh, baik atau tidaknya. Konstitusi atau hukum lah yang mengurusi wilayah benar atau salah. Dan tindakan pemerintah yang tadi itu memang tidak salah, secara hukum.

Menyoal apa saja sejatinya kita lebih unggul. Di barat, sudah mulai berkembang semangat penggalian kearifan kuno warisan leluhurnya. Perlahan mereka mengendus, menatapi, dan mengamati dalam-dalam peninggalan kuno itu. Kearifan kuno ada di setiap komunitas sosial di setiap bangsa. Entah yang bersifat rahasia maupun yang terbuka. Tidak mudah menyibak rahasia kearifan itu karena pada awalnya mereka harus mengenal bahasa simbolik. Bahasa simbolik itu masih banyak kita temukan di tanah Jawa ini. Unggah-ungguh, tradisi, adat-istiadat itu simbolik. Misalnya, kaum muda menundukkan badan ketika lewat di depan orang yang lebih tua sebagai penghormatan. Dalam ketauhidan juga, sebutlah organisasi tua illuminati yang mengajarkan pencerahan dalam penemuan sains yang menakjubkan. Atau freemasonry yang memperkenalkan faham ‘penyatuan’ (at one ment). Di Timur tengah dikenal juga ajaran wahdatul wujudnya. Di jawa kita punya semua itu. Manusia jawa sudah sejak lama mengenal konsep ‘manunggaling kawula lan gusti’.