Daur (286)

Mewarisi Kelelahan

Tahqiq : “...Pakde hanya berhasil tidak ikut keputusan yang tidak benar, tapi belum pernah sampai pada keputusan yang benar.... Jadi bengong dan mubadzir sampai tua....”

Sekarang Brakodin yang tertawa terkekeh-kekeh berkepanjangan sampai seperti menangis-nangis.

“Anak-anak, tertawa Pakdemu Brakodin itu tertawa putus asa”, Tarmihim yang membuka pembicaraan sesudah tawa Brakodin agak mereda.

“Bukan, Nak, bukan…”, Brakodin menyahut, “bukan tertawa putus asa. Bukan. Ini tertawanya orang yang sebenarnya sudah mati karena toh hidupnya tidak berguna….”

Anak-anak saling bertatapan satu sama lain.

“Katanya wa la taiasu min rouhillah, Pakde…”, kata Toling, “jangan berputus asa kepada ketentuan Allah….”

Ternyata Brakodin meluncur lagi tertawanya. Bahkan lebih parah. Anak-anak saling menoleh lagi. Juga Tarmihin dengan Sundusin, tetapi mereka berdua tersenyum geli.

“Anak-anak”, kata Brakodin lagi kemudian, “Pakde Paklik ini, terutama saya sendiri, sangat meyakini dan mengikhlasi ketentuan Allah atas hidup kami. Yang saya berputus asa bukan atas ketentuan Allah, melainkan atas kedunguan sejarah hidup saya sendiri”

Junit Jitul Toling Seger tidak menanggapi, sampai kemudian Brakodin melanjutkan.

“Allah sudah memberi keputusan sesudah perjanjian dengan manusia sebelum lahir. Tapi manusia, terutama Pakde kalian ini sendiri, yang termangu-mangu tidak pernah sanggup mengambil keputusan. Pakde ini mungkin tidak terlalu rendah nilainya untuk berakidah benar, berpikir benar, bersikap benar, serta menghindar dari keputusan yang tidak benar. Tetapi, coba perhatikan yang terakhir itu: menghindar dari keputusan yang tidak benar… Artinya itu satu tahap sebelum mengambil keputusan yang benar. Pakde hanya berhasil tidak ikut keputusan yang tidak benar, tapi belum pernah sampai pada keputusan yang benar…. Jadi bengong dan mubadzir sampai tua….”

Brakodin semakin terkekeh. Dan semua lainnya membiarkan. Menunggu saja sampai reda sendiri.

“Menghindari keputusan yang tidak benar adalah sebuah keputusan yang benar, Pakde”, Junit membuka pembicaraan lagi.

“Tidak terseret oleh arus zaman yang tidak benar adalah sebuah keputusan yang benar”, Jitul menambahkan.

“Ya Pakde”, Toling menyambung, “tidur di rumah, atau menyabit rumput, membersihi halaman rumah dan kebun belakang, tidak ikut gerakan pencurian massal, korupsi tersusun, pencopetan struktural, atau apapun saja namanya, adalah sebuah keputusan yang benar”

Seger juga menimpali. “Kata Pakde Paklik dulu, kalau kita berada di arus yang deras di sungai, bisa bertahan tidak terseret oleh arus saja, meskipun tidak sanggup juga berenang berlawanan arah dengan arus itu, sudah merupakan keputusan yang benar”

Brakodin menjawab terbata-bata sambil meredakan tertawanya. “Memang benar demikian, anak-anak. Tetapi pengetahuan dan keyakinan seperti itu mantap dalam hati di saat-saat awal saja. Nanti kalau sudah berlangsung puluhan tahun, dan tetap saja kami tidak sanggup melawan arus — yang tersisa adalah rasa tidak berdaya, rasa lumpuh, rasa tak berguna dan selapisan lagi sebenarnya adalah rasa putus asa. Itulah yang Pakde maksudkan”

Anak-anak muda itu tidak bisa merespons, karena temanya adalah jam terbang dan udzurnya usia, sedangkan mereka masih anak-anak muda yang belum mengalami keterhajaran dalam rentang waktu yang cukup panjang.

“Di satu sisi Pakde bahagia dan optimis mendengarkan diskusi kalian selama ini”, Brakodin melanjutkan, “tapi di sisi lain sangat frustrasi. Sejak puluhan tahun yang lalu Pakde Paklik ini ya begini-begini saja. Benar pikirannya, hebat diskusinya, tapi tak kunjung ada yang bermanfaat yang bisa kami lakukan untuk masyarakat, bangsa dan Negara”

Anak-anak muda itu masih diam saja.

“Seger mencatat semua isi diskusi kalian dan kita semua beberapa lama ini. Catatan Seger pasti hanya berupa deretan pikiran-pikiran. Dan itu melelahkan. Siapa anak cucu kita kelak yang sudi mewarisi kelelahan? Apakah Seger juga mencatat di mana pertemuan diskusi kita selama ini? Tanggalnya? Jamnya? Suguhan makanan dan minumannya apa? Apa yang kita lakukan untuk menghindari kelelahan berpikir? Main remi atau gaple? Mendengarkan lagu? Mandinya bagaimana? Ganti pakaiannya siap atau tidak? Bagaimana keluarga di rumah? Apa kira-kira yang muncul di pikiran keluarga Pakde Paklik tentang hidup kami dan pertemuan-pertemuan seperti ini? Karena diskusi kita lebih riuh rendah dibanding Sidang Kabinet atau Sidang Wakil Rakyat?…”

Seger memotong. “Lho, Pakde. Yang saya catat dan tulis ini pointers. Saya tidak harus menulis novel atau cerita pendek….”.