Daur (135)

Merepotkan dan Membosankan

Ta’qid : “Bukan menyederhanakan sesuatu yang tidak sederhana, melainkan berangkat dari segala hal yang benar-benar sederhana”

Ketika Markesot tiba kembali di rumah kontrakannya, ternyata Saimon sudah ada di sana.

“Kurang ajar”, katanya, “kamu kok nongol lagi di sini?”

Saimon tertawa. “Saya diperintah oleh Kiai Sudrun untuk memonitor kamu”

“Lebih kurang ajar lagi itu”

“Saya disuruh mengamati apakah kamu bisa memulai kembali semuanya dengan hal-hal yang sederhana. Bukan menyederhanakan sesuatu yang tidak sederhana, melainkan berangkat dari segala hal yang benar-benar sederhana”

“Ah, mana mungkin Kiai Sudrun berurusan dengan kamu”

“Terserah dia dong mau berurusan dengan siapa”

“Memangnya Kiai Sudrun itu siapa?”

“Ya siapa lagi. Kiai Sudrun ya Kiai Sudrun”

“Memangnya Kiai Sudrun itu ada?”

“Perintahnya jelas sampai ke saya”

“Itu perasaan kamu saja”

“Kalaupun perasaan, itu saya yakini”

“Bagaimana kalau Kiai Sudrun adalah saya sendiri”

“Bisa saja. Terserah. Yang pasti ia memerintah saya”

“Saya tidak pernah memerintah kamu”

“Tapi Kiai Sudrun memerintah saya”

“Saya akan melakukan apa saja yang saya mau lakukan. Tetapi itu tidak karena perintah Kiai Sudrun, apalagi karena kamu”

“Terserah. Kita menjalankan tugas kita masing-masing”

“Menjalankan tugas masing-masing, bukan bersama-sama”

“Apa maksudmu?”

“Selama saya bertugas, kamu jangan nongol”

“Kenapa?”

“Supaya tidak membebani saya dengan keharusan bersopan santun kepadamu, menjawab pertanyaanmu, menanggapi omonganmu dan semua hal-hal yang merepotkan dan membosankan”

“Lebih merepotkan dan membosankan yang mana antara tugasmu dengan kehadiran saya?”

“Tugas yang saya jalani sudah sangat merepotkan dan membosankan. Jangan ditambahi repot dan bosan oleh kamu. Terutama kalau saya harus menanggapi keusilanmu, nanti semua orang menyangka saya sudah gila karena sering menemukan saya omong sendiri”

“Tidak ada masalah bagi saya untuk tidak hadir menemuimu, bersamamu atau omong-omong denganmu. Jin tidak mudah kesepian seperti manusia”

“Pokoknya kapan saja saya suruh kamu pergi, kamu harus pergi, tidak bisa tidak”

“Ada kecualinya”

“Apa?”

“Kalau yang kamu lakukan tidak sesuai dengan pesan Kiai Sudrun, saya wajib nongol”

“Kembali ke awal tadi: bagaimana kalau Sudrun adalah saya sendiri?”

“Terserah. Yang penting saya sudah berjanji akan menjalankan pesan Kiai Sudrun”

“Berangkat dari hal-hal kecil yang sederhana, misalnya?”

“Ya”

“Itu gagasan saya sendiri”

“Bukan. Itu pesan Kiai Sudrun”

“Itu gagasan saya, yang saya tiup melalui bayangan Kiai Sudrun di hadapanmu”

“Terserah. Pokoknya saya sudah pegang daftar perintah Kiai Sudrun tentang hal-hal kecil elementer mendasar sederhana yang harus kamu kerjakan ulang di setiap praktik keterlibatanmu dengan manusia: Sudra, Keledai tidak bisa diperkuda, dzikir sapu lidi, IT, kapitalisme lahir di sorga, boleh buta jangan tuli, adil makmur jadi makmur adil, Jawa itu etnis, Barat itu universal, Arab itu Islam, Malaikat memindah letak gawang, ramai-ramai membodohi Tuhan….

“Cukup. Cukup”, Markesot memotong, “Itu semua ide saya….”