Mukadimah Lingkar Daulat Maiyah Tasikmalaya (LDMalaya) Edisi 26 Juni 2016

Merdesa Tasikmalaya

(Note: Mending mana; Merdesa Tasikmalaya atanapi Tasikmalaya Merdesa?)

“Merdeka panginten, kang. Sanes merdesa,” kata seorang teman, melalui pesan pribadi. Ia mengingatkan. Wajar. Baginya, kata merdeka lebih familiar ketimbang merdesa. Saya sampaikan, yang dimaksud memang merdesa, bukan merdeka.

Merdeka tapi tidak merdesa, buat apa? Hampa nilai. Minim keteladanan. Tengoklah Indonesia sekarang. Lihatlah Tasikmalaya saat ini. Merdesa adalah keniscayaan. Tak ada pilihan lain. Layak; patut; sopan (beradab). Itulah arti kata merdesa, seperti yang dijelaskan dalam kamus.

Bila ditarik ke tempat saat ini kita berpijak, kata itu sangat relevan; desa. Izinkah saya memecah kata itu menjadi dua bagian; mer dan desa. Ambil kata desanya. Untuk sementara, mer-nya kita abaikan. Sekilas melenceng, dalam bahasa Indonesia tidak ada awalan mer. Mengubah, bukan merubah. Merubah adalah kesalahan turun-temurun dalam berbahasa yang sampai saat ini masih diberi tempat luas. Itu hanya contoh.

Kembali ke desa. Kata merdesa telah melahirkan harapan; kita ingin punya tempat hidup (desa) yang layak, sejahtera, dan patut. Beradab. Suatu kawasan yang merdeka dan berdaulat. Mari sedikit berakal nakal; ada persamaan antara paradise (sorga) dengan paradesa. Sorga selalu dibayangkan berada di atas. Beda dengan neraka. Tempatnya di bawah. Begitupun desa. Paradesa.

Kedudukan desa diletakkan dalam maqam, derajat, dan martabat di tempat paling atas. Desa merupakan visi, cita-cita tertinggi, pencapaian membangun sorga di dunia nyata. Desa semestinya jadi tempat hidup yang layak, sejahtera, dan patut. Beradab.

LDMalaya edisi Juni 2016
LDMalaya edisi Juni 2016

Patut (kepatutan) memiliki dimensi yang holistik; adanya pola hidup yang bersahaja, rukun, penuh kesederhanaan, berbalut kebersamaan. Sistem kehidupannya dilandasi pertimbangan bersama. Tidak ada yang dominan pada kepentingan diri pribadi, karena orang yang mementingkan diri pribadi justru diyakini sedang membangun neraka dan dianggap durhaka, dur-angkara — semua ada takarannya.

Gandhi pernah berkata, “Bumi ini cukup untuk kesejahteraan seluruh umat manusia, namun tidak cukup untuk keserakahan satu manusia”.

Kemanusiaan direnggut kala tak merdesa. Tengok keadaan sekarang. Desa-desa dipaksakan untuk menjadi perkotaan. Didorong untuk menjadi pusat perindustrian. Pembangunan keserakahan. Kapital menjalar.

Dulu, Tasikmalaya dikenal sebagai kota seribu bukit. Kota berkultur tanah yang membaik. Kini, gunung dan goa sebagai tempat penyerapan air hilang. Paku bumi menipis. Pepohonan jadi barang mahal. Paru-paru kota berubah jadi paku-paku kota. Pusat perbelanjaan mudah didapat. Semua itu telah memasung orang-orang dan memaksa mereka menuhankan gaya. Iklan-iklan di billboard meruyak di mana-mana. Siapa yang kuat adalah pemenangnya. Dialah yang berhak mendapatkan rangking. Hidup menjadi ajang pertempuran untuk memaknai dunia; siapa atau paham apa yang menang, dialah yang kelak akan dianggap benar.

Budaya desa yang disebut tradisional direnggut oleh modernisasi. Selama ini antara tradisional dan modern dianggap sebuah tahapan atau tangga untuk naik tingkat. Tradisional posisinya acap di belakang atau di bawah. Modern sebaliknya.

Modernisasi diyakini merupakan pilihan arah yang dapat membangkitkan keyakinan menuju perubahan. Tradisionalisme dianggap sebagai momok, penyakit yang harus disingkirkan. Diberantas. Upaya penyingkiran penyakit tradisionalisme untuk mendorong lahirnya sikap modern yang akan membawa pertumbuhan ekonomi, yakni jalan menuju masyarakat yang sejahtera. Satu-persatu penguasaan pengetahuan, teknologi, dan budaya masyarakat tradisional dilucuti oleh modernisasi.

Seluruh prinsip penyebaran dan penguasaannya melalui strategi yang sama, yakni menaklukkan kaum tradisional hingga melupakan pengetahuan, nilai/prinsip, teknologi, politik dan sosial budaya tradisi yang selama ini dikuasai dan diyakini. Hampir semua sektor pada akhirnya juga diwarisi berbagai kerusakan dan juga melahirkan berbagai persoalan bahkan konflik berkepanjangan.

Apakah kemajuan berarti sama dengan masyarakat harus memiliki uang banyak apabila ingin dilayani kesehatannya? Hutan telah dibabat habis. Perut bumi dikeruk isinya. Gunung diratakan. Apakah kemajuan identik dengan kerusakan dan kesengsaraan?

Uraian singkat di atas upaya untuk menggambarkan, bahwa berbagai hal yang terjadi bukanlah sesuatu yang lahir secara alamiah (bukan wis sakmesthine). Banjir yang melibas peradaban jagad pedesaan memang secara sadar telah dirancang dan direkayasa oleh para aparatus pembangunan-modernisasi.

Pembangunan seolah gerakan untuk menjadikan masyarakat sejahtera. Andai kita berkaca dan membaca apa yang direncanakan para intelektual barat, sehingga kita beranggapan bahwa ini terjadi bukan semata-mata atas dorongan pemimpin bangsa, tapi sudah direncanakan. Kasihan. Boleh dikata ini adalah kembalinya jaman jahiliyah. Subur menjamur jamaah penyembah “berhala” materialisme sambil bernyanyi mengagungkan nama tuhan. (Tim Redaksi LDMalaya/Saepul)