Catatan Banjarmasin Bersyukur, 29-30 September 2016

Menyusuri Empirisme Surga

Menjelang matahari terbit, panitia mengajak Cak Nun KiaiKanjeng menyusuri sungai Martapura yang sebagian wilayahnya berada di kota Banjarmasin.

Aslinya Cak Nun kurang punya bakat dan kecenderungan untuk berwisata. Hanya karena tema ke Banjarmasin ini berhubungan dengan sungai, maka pagi-pagi tadi menjelang matahari terbit, panitia mengajak Cak Nun ditemani beberapa orang KiaiKanjeng untuk menyusuri sungai Martapura yang sebagian wilayahnya berada di kota Banjarmasin. Tujuan susur sungai ini adalah mengunjungi Pasar Terapung Lok Baintan.

Sepanjang perjalanan satu jam menuju tujuan, empat belas orang dari Jogja yang berada di atas perahu diesel ini melihat denyut kehidupan masyarakat Banjarmasin yang tinggal di pinggir Sungai. Di atas air itu tampak rumah-rumah yang kebanyakan terbuat dari kayu. Rumah-rumah ini sebenarnya memiliki dua wajah. Wajah menghadap daratan dan perkampungan, dan wajah yang menghadap ke perairan sungai. Dari wajah yang terakhir ini, sebagian aktivitas yang kelihatan adalah kegiatan domestik. Mencuci, menjemur pakaian, mandi, seputar memasak, dan bersih-bersih rumah. Rumah-rumah ini disangga oleh kayu ulin, yang menurut penuturan umurnya bisa ribuan tahun dan karakternya adalah semakin kuat kayu itu bila terkena air. “Allah telah memberikan jodoh bagi kebutuhan orang dan lingkungan di sini,” kata Cak Nun yang duduk di belakang, di kursi terbuka.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Kayu-kayu ulin ini pula yang dipakai membuat perahu-perahu yang saban hari berkeliling pergi-pulang di sungai Martapura ini dengan beberapa ukuran. Selain melihat dan merasakan langsung situasi kota Banjarmasin dari view di atas air, dengan salah satu pemandangan jembatan-jembatan besar yang terentang melintasi sungai dan di atasnya mulai berlangsung aktivitas masyarakat, rombongan juga mendapatkan kesempatan melihat apa dan bagaimana masyarakat sungai di wilayah yang sudah agak jauh dari kota. Ibu yang sedang memandikan anak-anaknya yang akan berangkat sekolah. Anak-anak SMP yang sedang berdiri di dermaga kecil menanti berhentinya perahu yang menghampiri dan membawa mereka menyeberangi sungai. Perahu-perahu yang membawa kebutuhan, ada beras, kayu, atau hasil bumi. Kadang pria kadang perempuan yang menahkodai. Juga kelihatan beberapa toko, ada makam keramat, mushalla-mushalla, ada klinik bidan, dan ini: ada Warung Soto Alam Roh.

Tiba di Pasar Terapung, rombongan yang dipandu Pak Jimi dari Dinas Pariwisata Banjarmasin ini menjumpai pemandangan yang lain. Perahu-perahu jukung mengumpul dan berkisar-kisar di area situ. Di atas setiap perahu masing-masing, ibu-ibu menjajakan dagangannya. Macam-macam. Hasil bumi seperti buah-buahan dan sayuran. Ada pula makanan dan jajanan, semisal pisang goreng, nasi kuning, tiwul, roti kacang ijo, dan masih banyak lagi. Perahu besar ini pun kemudian dikerubungi mereka, tapi asiknya tidak ada rebutan seperti becak, ojek, maupun taksi di stasiun dan terminal. Mereka bisa berbagi giliran untuk merapatkan perahunya ke perahu besar yang membawa orang atau tamu ke situ.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Mereka tak hanya berjualan tapi juga membuka jasa membantu orang-orang itu merasakan naik perahu kecil yang lebarnya hanya cukup untuk satu orang. Tamu yang naik akan dipandunya supaya tidak oleng dengan dipinjami dayung, dan selama di atas perahu itu, dia bisa menikmati jajanan yang ditawarkannya, sekaligus bisa difoto (oleh temannya tentu) atau memfoto diri. Ada tentunya sedikit imbalan yang layak buat mereka. Pasar Terapung ini hanya dipagi hari saja berlangsung. Lewat pukul 08.30 mereka langsung bubar dan menyebar.

Pertanyaannya, apakah cukup rasional berjualan di situ? Siapa dan banyakkah pembeli yang akan berbelanja? Apakah ibu-ibu yang mahir mendayung perahu itu akan membawa pulang keuntungan? Rupanya di sini ini adalah titik di mana suplai dan pendistribusi bertemu. Setelah sekitar tiga jam mendasarkan dagangannya di sini, mereka selanjutnya akan menjualnya (mensuplaikan lagi) di pasar-pasar atau ke rumah-rumah yang ada di sekitar anak-anak sungai. Atau sebagian lain yang mungkin sudah habis situ akan kembali ke rumah untuk beraktivitas lain seperti cocok tanam. Selain mereka berada pada titik antara suplai dan pasar, bentuk aktivitas ekonomi lain yang terjadi di situ adalah barter di antara mereka.

Dengan kata lain, memang ada keperluan ekonomi yang melatarbelakangi terjadinya pasar Terapung ini. Bukan sekadar dorongan budaya atau wisata. Bahkan menurut ceritanya, pasar Terapung ini sudah ada sejak tahun 1800-an. Sempat Cak Nun bertanya, “Jadi sebenarnya ini maritim atau agraris ya?” Pertanyaan ini semalam juga dilontarkan kepada peserta Silaturahmi semalam dengan salah satu maksud menunjukkan bahwa Banjarmasin jenis ketiga sesudah maritim dan agraris yang entah bisa disebut dengan apa. Jenis yang baru benar-benar disadari sesudah berada di Banjarmasin dan memikirkan pembangunan kota sungai. Hal yang merupakan anugerah dan kekuatan tersendiri yang harus disyukuri dan dikhalifahi dengan maksimal oleh pemerintah dan masyarakat Banjarmasin.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Di dalam, di belakang, maupun di atas atap perahu, KiaiKanjeng menikmati perjalanan. Bahkan Pak Nevi tiba-tiba sibuk memotret dengan gadget-nya tak seperti biasanya. Sementara Cak Nun lebih banyak mendengarkan Pak Jimi menceritakan apa-apa yang tampak di kanan kiri meliputi nama tempat maupun sejarah. Sesekali sibuk membaca atau menulis. Lalu ngobrol sedikit. Saat tiba di Pasar Terapung, duh mohon maaf, Pak Nevi, Pak Jokam, Mas Gianto, Mas Sariyanto, Mbak Yuli Mbak Nia, Mas Zakki, Mas Alay, semuanya mencicipi naik perahu ibu-ibu itu, dan tentulah difoto-foto diabadikan oleh Mas Adin. Cak Nun juga akhirnya berhasil dirayu untuk ikut turun, namun beliau dengan ekspresi yang tenang dan terjaga, sementara Adit Drum dan lain-lain gagal menahan diri berekspresi. Tetapi semua hanya luapan sesaat saja, dan dengan cepat kembali ke kesadaran akan tugas.

Di antara ibu-ibu itu ada yang bertanya dari mana bapak-bapak ini, dan setelah mendapatkan jawaban, ia berkomentar, “Oh yang nanti malam acara di Balai Kota ya!”. Beberapa saat kemudian semua sudah berkumpul lagi di perahu, kecuali Mas Adin yang masih berdiri memegang kameranya di atas kerumunan perahu untuk mengambil gambar-gambar dan tinggal dihampiri saja. Rombongan segera menyusur kembali untuk balik ke hotel, sarapan pagi, dan selanjutnya briefing persiapan acara nanti malam. (hm/adn)