Menyelami Maiyah Cinta Segitiga

Di penghujung tahun 2016 ini, di tengah hiruk pikuk kebobrokan peradaban hari ini, dalam situasi geger nasional (Jakarta) yang menimbulkan 411-212, pada Silatnas III Jannatul Maiyah dan ditegaskan saat Mocopat Syafaat 17 Desember kemarin, Cak Nun mengingatkan kembali Ilmu Dasar Maiyah. Di akhir tahun 2010, Cak Nun juga pernah mengajak Jamaah Maiyah untuk mengingat-ingat kembali, menggali, memperdalam, mendiskusikan, meng-ijtihadi bersama ilmu dasar itu, yaitu Maiyah Cinta Segitiga.

Dalam Mocopat Syafaat kemarin, Cinta Segitiga (Allah-Rasulullah-Hamba) itu diperkuat lagi sebagai sebuah rumusan solusi dalam upaya mengatasi problem yang dihadapi manusia baik yang berada dalam bulatan dunia, Indonesia, Ummat Islam, Jamaah Maiyah, keluarga, dan individu. Semua bulatan ini berada di dalam Solusi Segitiga. Mengapa solusi itu harus segitiga? Ini karena selama ini, usaha menghadapi permasalahan berat di dalam bulatan hanya menggunakan ilmu yang berasal dari bulatan. Obat yang berasal dari ilmu pengetahuan dalam bulatan yang telah bervirus, sehingga penyakit bulatan itu coba disembuhkan dengan obat bervirus.

Sebelum menyelami lebih dalam tentang Solusi Segitiga, ada baiknya mari kita mencoba mengurai Cinta Segitiga itu terlebih dahulu. Segitiga di mana Allah berada di titik puncak segitiga, sementara Rasulullah di titik kiri dan hamba di titik kanan bisa kita cari relasi intra dan antar titik-titik itu salah satunya bisa dari yang terkait Maiyah di dalam Al-Qur`an. Relasi itu nanti juga akan kita coba mentadabburinya dari sudut pandang lain dalam Al-Qur`an.

Kita Jannatul Maiyah patut bersyukur memiliki para Marja’ Maiyah, para Dzat (Cak Nun, Cak Fuad, dan Syaikh Nursamad Kamba) yang sangat mencintai Al-Qur`an, yang menjadikan Al-Qur`an bahan baku obat untuk penyakit zaman akhir ini, Al-Qur`an yang merupakan sumber informasi Mutlaq sebagai rujukan utama mereka. Bukan menggunakan rujukan utama informasi ilmu pengetahuan dari bulatan yang Mutanajjis.

Cak Fuad pada Desember 2009 telah melacak, mengumpulkan, dan merangkum yang berkaitan dengan Maiyah di Al-Qur`an dalam bukunya “Ma’iyah di dalam Al-Qur`an: Kajian Tafsir Tematik”. Buku tafsir tematik yang dalam bahasa Arab disebut dengan Tafsir Maudlu’i ini mencoba membangun satu pandangan Al-Qur`an yang integral mengenai suatu tema, karena semua ayat yang berkaitan dengan tema itu dikumpulkan, kemudian dianalisis, dikaji, dihubungkan, dan akhirnya disimpulkan agar kita memperoleh gambaran yang komprehensif. Tema yang diangkat dalam kajian di buku ini adalah Ma’iyah yang berasal dari kata Ma’a yang artinya bersama.

Dalam mendalami Cinta Segitiga, bahwa pada kajian tersebut, kata Ma’a di dalam Al-Qur`an disebutkan sebanyak 161 kali berada di antara relasi atau kebersamaan tiga titik di dalam segitiga. Kebersaman antara Allah, Rasulullah, dan hamba (semua makhluk tidak hanya manusia).

Dengan bekal semangat Tadabbur, Kebersamaan (Ma’iyah) di antara titik-titik itu bisa ditadabburi dalam beberapa hubungan yaitu Ma’iyah Allah dengan Rasulullah, Ma’iyah Rasulullah dengan Allah, Ma’iyah Allah dengan Hamba, Ma’iyah Hamba dengan Allah, Ma’iyah antara Rasulullah dengan Manusia dan sebaliknya, serta Ma’iyah di antara sesama Hamba (Manusia dan seluruh makhluk).

Pertama, Ma’iyah Allah dengan Rasulullah.

Kata Ma’a dalam relasi ini terdapat dalam situasi khusus ketika Nabi Muhammad dan Abu Bakar saat dikejar oleh kaum musyrikin dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Untuk menenangkan kekhawatiran Abu Bakar saat bersembunyi di dalam gua, seperti digambarkan di surah At-Taubah 20, La tahzan innAllaha ma’ana.

Kedua, Ma’iyah Rasulullah degan Allah.

Dalam pola hubungan ini, salah satu uslub (susunan kalimat) di dalam Al-Qur`an berupa kalimat istifhamiyah-istinkariyah (tanya-larangan) seperti pada surah Al-An’am 19. Konteks ayat ini berupa penegasan bahwa Allah menjadi saksi antara Nabi Muhammad dan penduduk Mekkah. Juga Al-Qur`an disampaikan kepada Muhammad untuk memberi peringatan kepada penduduk Mekkah dan orang-orang yang Al-Qur`an sampai kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

Ketiga, Ma’iyah Allah dengan Hamba.

Makna Ma’iyah Allah dengan para hamba bisa mengandung dua: Ma’iyah adz-dzat dalam arti Allah bersama Hamba dengan Dzat-Nya dan Ma’iyah ash-shifat bermakna Allah bersama Hamba dengan sifat-sifat-Nya. Hamba di sini tidak hanya manusia, melainkan dengan malaikat dan alam semesta. Bersama manusia juga kepada semuanya tanpa kecuali tidak memandang apakah dia percaya kepada Allah atau tidak, baik atau jahat, dan seterusnya. Ini bisa kita lihat dalam surah Al-Mujadalah 7. Di sini Allah membersamai mereka dengan ilmu-Nya, pengetahuan-Nya, dan kekuasaan-Nya.

Keempat, Ma’iyah Hamba dengan Allah.

Dalam Al-Qur`an, pola hubungan ini muncul dalam bentuk frase Ma’allah atau Ma’ahu, yang hanya untuk satu tujuan yakni menolak penyekutuan Allah dengan makhluk-Nya. Semua ayat mengenai hal ini berbentuk kalimat negatif, dalam arti menafikan atau melarang untuk mempadankan, menyejajarkan, atau menyekutukan manusia dengan Allah. Ini untuk menutup peluang sekecil apapun keraguan terhadap ke-Tunggal-an Allah, dan menegaskan sesatnya kemusyrikan. Ini bisa ditadabburi dalam surah-surah Al-Furqan 68, Al-Mu`minun 91 dan 117, Al-Isra` 32, Al-Jin 18, An-Naml 64, Al-An’am 19, Al-Hijr 96, Al-Isra` 42, dan Al-Baqarah 152.

Kelima, Ma’iyah antara Rasulullah dengan Manusia.

Ma’iyah Nabi Muhammad Saw dan para pengikutnya di dalam Al-Qur`an disebutkan dengan frekuensi yang tinggi, lebih mendasar, dan komprehensif. Dari sisi Ma’iyah Rasulullah dengan Manusia, kebersamaan itu meliputi dalam penantian pengadilah Allah, dalam kesabaran dan konsistensi, dan dalam pergaulan atau pertemanan.

Cak Fuad juga menerangkan bahwa secara garis besar pola hubungan ini, dari sudut Ma’iyah manusia dengan Rasulullah, terwujud dalam kelompok kebersamaan yang menyangkut urusan keislaman dan kenabian secara umum, dan juga yang bersifat tertentu atau khusus seperti Ma’iyah dalam Jihad, Hijrah, Shalat, dan Etika ber-Ma’iyah.

Rasulullah, juga para nabi dan rasul pendahulu membangun Ma’iyah dengan pengikutnya (betapapun sedikit jumlahnya), karena Ma’iyah itu merupakan salah satu prasyarat keberhasilan nubuwah dan risalahnya. Rasulullah tidak cukup hanya menyampaikan dakwah kemudian pulang ke rumah, shalat, dan tidur. Beliau harus membangun komunitas, masyarakat, dan ummat, untuk menegakkan risalahnya, bahkan sampai kelak sesudah beliau wafat.

Keenam, Ma’iyah manusia dengan sesama makhluk.

Mai’yah sesama makhluk ini, baik itu sesama manusia, atau manusia dengan burung-burung, gunung-gunung, pepohonan, dll, terwujud dalam kebersamaan dalam bertasbih mengagungkan Allah. Yang perlu digarisbawahi dalam relasi ini, dalam kesimpulan di tafsir tematik ini, Cak Fuad salah satunya menekankan bahwa Ma’iyah ummat Muhammad Saw tidak berhenti setelah Rasulullah wafat. Ma’iyah sesama ummat atas dasar Ma’iyah dengan Rasulullah Saw harus terus dibangun, karena hanya dengan Ma’iyah itulah ummat layak mengharapkan Ma’iyah Allah.

***

Masih banyak yang bisa kita selami lebih dalam dari hubungan kebersamaan dalam Cinta Segitiga ini sebelum kita memasuki Solusi Segitiga, yang akan coba kita sama-sama belajar dengan semangat Sinau Bareng di tulisan-tulisan berikutnya. Juga nanti mudah-mudahan kita bisa belajar dalam kaitannya dengan Jurus Jalan Panjang untuk melawan upaya pemutusan hubungan manusia dengan Allah dan Rasulullah di dalam relasi Cinta Segitiga oleh penjajahan global.

Ada baiknya kita juga mentadabburi 161 ayat tentang Ma’iyah yang ada di dalam Al-Qur`an yang telah disampaikan Cak Fuad. Buku Ma’iyah di dalam Al-Qur`an ini bisa diunduh, yang tersedia di bagian akhir tulisan ini. Dan juga hendaknya bisa menjadi bahan Sinau Bareng dalam lingkungan Jannatul Maiyah.

Menutup tulisan ini, sesuai saran Dzat Maiyah yang telah disampaikan dalam Menyambut 2017 dengan Silatnas 2016 Jannatul Maiyah, bahwa agar dalam setiap mengupayakan atau memperjuangkan apapun saja, kita hanya menyandarkan harapan kepada Allah semata. Wa ila Robbika Farghob.

Ya Allah anugerahi kami hidup dalam ma’iyah bersama orang-orang beriman yang sungguh-sungguh (jujur), dan bangkitkan kami dalam ma’iyah bersama Nabi-Mu yang mulia, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang bersamanya. Cahaya mereka memancar di depan dan di sisi kanan mereka, sambil berkata: Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Download buku Ma’iyah di dalam Al-Qur`an (versi PDF)