Daur (264)

Menyampaikan Benih Kepada Tanah

Tahqiq : “…Mengabulkan atau tidak. Menolong atau tidak. Dan andaikan yang terjadi adalah tidak, tidak, dan tidak, maka tidak ada perhitungan apapun dari pihak manusia atas-Nya. Terserah-serah Allah,… ”

Anak-anak muda itu malah tidak lebih terfokus perhatiannya kepada tamu orang tua itu dibanding konsentrasinya untuk berusaha memahami apa sebenarnya isi kalimat-kalimat Mbah Markesot mereka. Dan Pakde mereka Tarmihim berpendapat “mungkin salah satu pintu terbaik untuk memahami kalimat Mbah kalian ini adalah adagium Jawa ngelmu kuwi kelakone kanthi laku. Pasti ada beberapa pintu yang lain, tapi itu yang terbersit awal tadi ketika membaca pesan Mbah kalian Markesot”

Seger yang pertama menanggapi. “Saya belum menemukan kaitannya, Pakde. Sepemahaman saya kalimat Jawa itu menganjurkan empirisme. Bahwa pengetahuan dan ilmu tidak akan menjadi apa-apa, bahkan menjadi beban yang mubadzir, kalau tidak dilakukan, dimanifestasikan, diaplikasikan, diwujudkan atau dijadikan kenyataan”

Toling menyahut. “Istilah lainnya, ilmu amaliyah, yang kalau dari sisi lain: amal yang ilmiyah

“Kelihatannya itu kritik terhadap tradisi para pencari ilmu yang kurang memperhatikan pelaksanaan dan manfaatnya”, Jitul menambahkan.

Tapi Junit agak membantah. “Rasanya kok tidak lurus seperti itu. Saya merasakan yang sebaliknya…”

“Bagaimana itu, Nit”, Sundusin bertanya.

“Ngelmu iku kelakone kanthi laku yang saya pahami justru sebaliknya. Bukan ada ilmu dulu kemudian disarankan untuk diamalkan. Melainkan pelaksanaan hidup itu sendiri yang melahirkan ilmu. Tidak terjadi atau tidak dihasilkan ilmu kalau tidak terlebih dulu mengerjakan dan mengalami sesuatu”

“O, jadi bukan ilmu diteruskan dengan lelaku, melainkan lelaku yang melahirkan ilmu?”, Sundusin mengejar.

“Tampaknya juga ada perbedaan tidak main-main antara ilmu dengan ngelmu. Yang disebut oleh kalimat Jawa tadi itu bukan ilmu, melainkan ngelmu”, jawab Junit.

Seger menyela. “Benar, Nit. Ada dimensi plus pada ngelmu dibanding ilmu…”

“Bahkan mungkin bukan sekadar tambahan”, kata Junit mempertegas, “Rasanya konstruksinya beda antara ilmu dengan ngelmu. Ramuannya beda, aransemennya beda, asal-usul dan sebab akibatnya juga tidak sama”

Tarmihim dan Sundusin sangat senang mendengarkan diskusi anak-anak muda keponakan mereka itu. Bahkan ada rasa bangga. Bukannya bangga dalam posisi sebagai Guru mereka, karena mereka memang bukan Guru anak-anak muda itu. Kebanggaan dan kegembiraan mereka berdua sepertinya terkait dengan optimisme regenerasi untuk peluang kesembuhan penyakit-penyakit Negara dan keterpurukan Bangsa.

Itu lahir dari nasionalisme dan rasa memiliki Indonesia Nusantara. Dan itu tidak ada hubungannya dengan fakta bahwa mereka bukan siapa-siapa, bukan tokoh, bahkan tidak dikenal oleh Indonesia Nusantara itu sendiri. Juga tidak menjadi berkurang kegembiraan mereka oleh kenyataan bahwa anak-anak muda yang punya energi berpikir besar serta daya juang untuk masa depan bangsanya ini jumlahnya sangat sedikit. Urusan mereka adalah setia menabur cara berpikir yang tepat dan menyebar muatan-muatan pikiran yang bermanfaat.

Bahwa itu akan bersemi atau tidak, akan tumbuh atau tidak, akan berbuah atau tidak, itu urusan tangan baiknya Tuhan yang Maha Pemberi Kejutan. Manusia mempersiapkan tanah dan menabur benih, Tuhan menugasi Diri-Nya untuk berempati, menumbuhkan dan membuahkan. ‘Alaikumudda’wah wa ‘alaiNal balagh. Kalian wahai manusia yang menyampaikan benih ke tanah, Aku yang menumbuhkan dan membuahkan.

Dan seandainya tidak terjadi penumbuhan dan pembuahan, mereka juga tidak kecewa, karena kewajiban telah mereka jalani dengan tekun dan setia: yakni menyampaikan benih kepada tanah. Keberhasilan mereka terletak pada pekerjaan menyampaikan benih kepada tanah itu, bukan pada berhasilnya tetanaman itu berbuah. Dan kalau pohon-pohon itu tidak berbuah atau bahkan tidak tumbuh, jangan katakan bahwa Tuhan telah gagal.

Tuhan mustahil gagal. Maha Eksistensi Allah tidak punya cacat. Ia Maha Merdeka dari kekurangan dan kelemahan. Dan tidak bisa dikotori oleh kegagalan. Yang terjadi adalah Tuhan berkenan atau tidak. Berkehendak atau tidak. Mengabulkan atau tidak. Menolong atau tidak. Dan andaikan yang terjadi adalah tidak, tidak, dan tidak, maka tidak ada perhitungan apapun dari pihak manusia atas-Nya. Terserah-serah Allah, karena Ia yang menciptakan, Ia yang menguasai dan Ia yang berhak mutlak atas segala kehendak.