Catatan Tadabburan HUT ke-99 RSUD dr. Iskak Tulungagung, 28 November 2016

Menyaksikan Indonesia yang Lain di RSUD dr. Iskak Tulungagung

Cak Nun merasa menemukan sebuah Indonesia baru yang luput dari perhatian dan tak disadari banyak para stakeholder.

Di tengah publik dihidang oleh ketidakseimbangan, dispresisi, dan tegangan di ranah politik nasional hari-hari ini, Allah memperjalankan Cak Nun untuk menyaksikan sesuatu yang sama sekali lain. Sore menjelang Tadabburan malam ini, Cak Nun diminta oleh Direktur RSUD dr. Iskak Tulungagung, Dokter Supriyanto, SP. B., untuk datang ke rumah sakit daerah ini, menjenguk pasien, melihat suasana rumah sakit, dan shalat maghrib berjamaah.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Biasanya panitia pengundang telah menyiapkan detail tema kepada KiaiKanjeng jauh hari, tetapi untuk malam ini, Dokter Supriyanto ingin menyampaikan langsung kepada Cak Nun sore ini. Rupanya detail tema ini bukan kata-kata tertulis, melainkan pengalaman empiris langsung dengan melihat rumah sakit ini. Memang unik, bukan siapa-siapa tetapi Cak Nun diajak masuk ke sejumlah tempat atau ruangan di dalam rumah sakit yang berdiri sejak 1917 ini. Sembari berjalan, berhenti melihat ruangan-ruangan, dan menemui pasien, Dokter Supriyanto selaku direktur menerangkan apa dan bagaimana rumah sakit ini terutama terobosan-terobosan yang sudah dilakukannya.

Dokter Supriyanto memaparkan konsep-konsep baru yang diterapkan di sini. Misalnya, dirintisnya dokter spesialis emergency yang bertugas menangani pasien darurat atau IGD. Dalam pemikirannya, pasien IGD adalah orang yang sangat susah dan cemas, karenanya harus ditangani secara khusus oleh dokter yang memang spesialis emergency. Ibaratnya anak TK perlu ditangani oleh guru level profesor. Cak Nun dipertemukan langsung dengan dokter yang dimaksud. Dari rumah sakit inilah dirintis disiplin yang bernama speliasis emergency dan butuh waktu tujuh tahun. Di rumah sakit ini pula klasifikasi pasien kritis pun dibedakan, ada kritis, semi kritis, dan nonkritis, yang disimbolkan dengan warna ruang yang berbeda: kuning, merah, dan hijau. Cak Nun diajak masuk ke ruang- ruang tersebut. Juga ruang perawatan intensif untuk jenis dan kondisi pasien khusus. Ada pula ruang psikiatris untuk orang yang mengalami gangguan psikologis. Ruang itu ber-AC, dindingnya terbuat dari bahan yang empuk sehingga kalau si pasien mengamuk dan membenturkan kepala atau badannya ke tembok, dia tak akan terluka. Ruangan ini juga dilengkapi cctv untuk memantau si pasien.

Selasar rumah sakit dr. Iskak sore itu lain dari biasanya. Para pengunjung atau petugas-petugas kesehatan dan dokter kedatangan tamu istimewa: Cak Nun. Mereka melihat Pak Direktur memaparkan apa yang dilakukan rumah sakit ini terhadap pasien-pasiennya. Cak Nun diajak masuk ruang III, di mana terdapat pasien dari masyarakat kurang yang kurang mampu. Untuk mereka diberikan perlakuan khusus. Membayar sesuai kemampuan mereka. Andai tak punya, pun tak masalah. Rumah sakit menyiapkan subsidi silang bagi mereka. Kesehatan adalah hak warga masyarakat. Keuangan rumah sakit diatur sedemikian rupa untuk memungkinkan hal itu. Keuangan rumah sakit juga diaudit oleh akuntan independen.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Sambil menunjukkan ruang jenazah, Cak Nun mendengarkan bahwa ruang “serem” itu dikonsep dan ditata sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan rasa takut apapun. Untuk pasien, pembezuk, dan pengunjung maupun suasana secara keseluruhan, di salah satu ruang yang dilalui pengunjung diperdengarkan secara live suara gending gamelan Jawa yang ditabuh oleh empat orang sepuh yang mengalunkan keteduhan.

RSUD dr. Iskak ini merupakan rumah sakit regional rujukan di Jawa Timur dengan pasien berasal dari daerah Tulungagung, Blitar, Trenggalek, dan Karesidenan Madiun. Rumah sakit ini juga merupakan rumah sakit pendidikan untuk mahasiswa S1, S2, maupun spesialis di wilayah disiplin kedokteran yang disediakan mess untuk mereka. Untuk pengembangan RSUD ini, tak segan pihak manajemen meminjam dana dari Bank untuk membangun sejumlah fasilitas.

Di beberapa ruang pasien itu, Cak Nun menemui dan mendoakan mereka yang sedang sakit. Mereka tak menyangka akan kedatangan Cak Nun. Ada pasien yang tak kuasa menahan haru hingga matanya berkaca-kaca. Cak Nun juga mengelus kepala cukup lama seorang pasien yang sedang koma untuk didoakan, dan dikuatkan hati keluarganya. Seorang gadis kecil yang sakit pun tak terlewatkan didoakan oleh Beliau. Beberapa keluarga pasien senang dan mengungkapkannya dengan menyalami Cak Nun, dan terutama sekali sungguh-sungguh mengamini doa Cak Nun.

Ada satu ruangan unik yang Cak Nun diajak masuk di situ. Ruang Call Center. Di ruangan ini pasukan “berani mati”, istilah pak Direktur, siaga 24 jam. Di ruangan itu terpajang banyak monitor tv yang memantau banyak hal. Aplikasinya dibuat secara khusus dan genuine oleh salah satu staf di RSUD ini dan belum ada di rumah sakit manapun. Dari ruang ini terpantau kejadian dan kebutuhan masyarakat, termasuk layar yang menampilkan beberapa titik di dalam kota untuk antisipasi jika ada kecelakaan sehingga rumah sakit bisa segera info ke polisi dan mengirimkan ambulance. Lima jenis ambulance disiapkan untuk masyarakat termasuk yang dilengkapi ruang operasi. Menariknya, nomor Call Center ini tak hanya untuk keperluan penanganan kesehatan atau pengobatan, tetapi apa saja mulai dari bencana, perampokan, atau kegawatdaruratan apa saja yang nanti akan disambung ke pihak terkait.

Menjalankan tugas medis bukan pekerjaan yang mudah, sehingga rumah sakit menyediakan satu ruang band untuk para petugas supaya bisa melepaskan penat di sela-sela tugas yang berat dan padat. Ruang direktur pun di-set bersebelahan dengan ruang dokter, agar memudahkan koordinasi. Pelayanan perbankan pun 24 jam untuk memudahkan proses pembayaran atau keperluan keuangan keluarga pasien. Masyarakat disediakan satu nomor kontak untuk masyarakat jika sewaktu-sewaktu membutuhkan pertolongan atau penanganan. Secara keseluruhan kawasan RSUD ini didesain tidak seperti kebanyakan rumah sakit. Suasana kenyamanan sangat ditekankan dalam tata ruangnya. “Kami ingin memanusiakan manusia di sini, Cak,” ujar Pak Direktur.

Didampingi Wakil Direktur dan beberapa jajaran lainnya, Cak Nun terus diajak berjalan menyusuri selasar demi selasar, ruangan demi ruangan, dan terakhir diajak masuk di ruangan Pak Direktur. Di ruangan inilah, akhirnya Pak Supriyanto menyampaikan garis besar inovasi dan terobosannya untuk mewujudkan rumah sakit yang dibangun dengan paradigma yang semestinya. Cak Nun merasa menemukan sebuah Indonesia baru yang luput dari perhatian dan tak disadari banyak para stakeholder, sebagaimana Cak Nun kerap diperjalankan di banyak tempat untuk melihat fenomenologi baru di berbagai bidang yang sesungguhnya menjanjikan masa depan Indonesia yang sejati.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Pak Direktur sempat pula menuturkan kecemasannya akan kesinambungan sistem, terobosan dan terapan-terapan barua yang telah dirintisnya bersama para dokter dan manajemen di sini manakala nanti dirinya sudah tidak lagi menjabat sebagai direktur. Hal yang bagi Cak Nun memang wajar kecemasan itu di tengah belum terbedakannya ‘negara’ dan ‘pemerintah’ di Indonesia. Cak Nun menyampaikan sejumlah saran dan pemikiran.

Pak Direktur Supriyanto mengisahkan telah mengenal Cak Nun sejak tahun 1989 di Malang. Diceritakan oleh beliau, dulu Cak Nun pernah datang di Fakultas Biologi Unibraw dan di sana Cak Nun mengajak para mahasiswa menaman pohon pioner. Pohon itu kini telah berkembang dan berbuah. Cak Nun sendiri sudah lupa. Sampai saat ini pun setiap malam, seperti kata istri beliau, Pak Supriyanto menyimak pengajian Cak Nun via siaran televisi lokal atau youtube. “Saya santri Njenengan, Cak!”, kata beliau. (hm/adn).