Mensyukuri Seratus Daur

Tidak terasa, sejak edisi pertama #Daur pada tanggal 3 Februari 2016, pendaran ilmu dari Cak Nun melalui tulisan-tulisan anyar di website ini tidak terasa sudah berlangsung tiga bulan lebih. Betapa nikmatnya kita sebagai jamaah maiyah, selain mendapatkan banyak sekali butiran-butiran ilmu dari Allah yang tidak ada habisnya pada setiap Maiyahan, asupan ilmu dari Cak Nun melalui #Daur yang setiap hari terbit ini menjadi pelengkap ilmu yang bisa dijadikan bekal kehidupan.

Jika sebelumnya kita menikmati tulisan-tulisan lawas Cak Nun yang sebelumnya dipublikasi di media massa atau dicetak oleh beberapa penerbit, maka #Daur yang setiap hari terbit secara kontinyu ini merupakan tulisan-tulisan yang benar-benar gress, fresh from the oven, belum pernah dipublikasikan di media manapun sebelumnya.

Tepat di hari Kamis ini, #Daur memasuki edisi ke seratus. Sejak awal, Cak Nun sudah memberitahu bahwa apa yang disajikan dalam #Daur ini bukanlah sebuah ilmu yang sudah matang, melainkan layaknya sebuah pelok mangga yang tidak bisa kita telan secara langsung. Ada beberapa tulisan yang mungkin dalam rentang satu kali baca sudah dapat langsung dipahami. Ada juga tulisan yang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa dipahami dan diambil nilai-nilainya untuk menjadi pegangan hidup.

Melalui #Daur ini, Cak Nun secara konsisten memberikan pelok, memberikan kepada kita kepingan-kepingan puzzle untuk dikuak, disusun, dipasangkan satu sama lain, dipelajari, dan direnungkan. Satu contoh, sebuah kalimat penutup dari #Daur seri ketujuh; “Indonesia adalah salah satu dari sekian anak asuhmu”. Satu kalimat yang tentu saja bisa ditafsirkan oleh jamaah maiyah dengan versinya masing-masing. Tetapi dari kalimat ini, jelas sekali Cak Nun ingin menyampaikan bahwa Indonesia ini merupakan satu pihak yang tidak layak menjadi faktor primer dalam kehidupan jamaah maiyah saat ini. Bukan berarti kemudian kita menyatakan bahwa Indonesia itu tidak penting. Tetapi, di Maiyah sudah dibiasakan bahwa adakalanya Indonesia diposisikan untuk dipegang di tangan kanan, ada juga saatnya Indonesia diletakkan di tangan kiri. Bahkan ada saatnya Indonesia dimasukkan ke dalam saku celana bagian belakang.

Dengan cara berpikir seperti ini, jamaah maiyah secara tidak langsung sudah terlatih untuk menentukan berapa persen tenaga dan pikirannya yang memang harus dikeluarkan untuk memikirkan Indonesia. Toh pada kenyataannya jamaah maiyah tidak memiliki kewajiban apa-apa terhadap Indonesia.

***

Sebagaimana niat #Daur sejak awal (Tajuk: Menyambut DAUR), #Daur bukan merupakan kumpulan tulisan berseri yang tersambung antara satu dengan yang lainnya. Melainkan berupa kepingan-kepingan puzzle yang berserakan, yang dimaksudkan untuk jamaah maiyah menyusunnya secara mandiri. Bisa saja bagi sebagian jamaah maiyah, ada yang menyusunnya secara berurutan untuk menemukan pola dan kepingan kunci ilmu di setiap tulisannya. Dan bisa jadi pula ada yang menyusunnya secara acak untuk kemudian menemukan polanya sendiri dalam mengambil nilai yang tersimpan dari #Daur ini.

Dalam #Daur edisi 15, Maiyah Lil ‘Alamiin misalnya, Cak Nun secara eksplisit mengungkapkan kasih sayangnya kepada jamaah maiyah yang begitu mendalam. Tulisan-tulisan yang digambarkan oleh Cak Nun berupa pelok ini merupakan sebuah bekal bagi jamaah maiyah dan generasi selanjutnya. Bagi masyarakat mainstream saat ini, sudah pasti tulisan-tulisan dalam rubrik #Daur ini lebih sulit lagi dipahami, sehingga memang Cak Nun secara gamblang mengkhususkan dalam bahwa #Daur ini merupakan sajian spesial yang hanya dihidangkan kepada jamaah maiyah dan anak cucu.

Dalam #Daur edisi 15 itu, Cak Nun menegaskan sebuah pedoman yang bisa dikatakan sebagai aturan main untuk membaca rubrik #Daur ini. Dengan catatan sebagaimana engkau membaca Al Qur`an: jangan menyangka bahwa untuk mempelajari Sapi, engkau membaca dan memperdalam Surah Al-Baqarah? Mengira bahwa Surah Al-Fil adalah bab pelajaran sekolah tentang Gajah? An-Naml adalah bahan-bahan biologis tentang Semut?

Apabila kita menggunakan pisau bedah bernama Tafsir untuk menjelajahi ruangan-ruangan ilmu dalam #Daur ini, bisa dipastikan kita akan menemukan kegagalan dalam memahami tulisan-tulisan dan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya. Bahkan mungkin kita akan frustasi sendiri dan mempertanyakan apa maksud Cak Nun menuliskan tulisan itu. Tetapi, di beberapa#Daur, Cak Nun sangat jelas memberikan satu metode untuk memudahkan kita memasuki ruang-ruang ilmu dalam rubrik #Daur ini, metode itu bernama Tadabbur.

Dalam #Daur edisi 62; Revolusi Tlethong, Cak Nun dengan gaya tulisannya yang khas menjelaskan perbedaan antara Tadabbur dan Tafakkur. Orang yang bertafakkur memerlukan beberapa syarat yang belum tentu bisa dipenuhi oleh banyak orang; seperti orang pandai, cendekiawan, dan sejumlah orang istimewa. Sedangkan untuk bertadabbur, semua orang bisa melakukannya karena tidak memiliki syarat yang njlimet. Karena dalam Tadabbur, yang diutamakan adalah mencari manfaat yang sebaik-baiknya dari apa yang ditadabburi. Paralel dengan #Daur, tema Tadabbur juga menjadi bingkai dan landasan Maiyahan ke depan. Ini dalam rangka mengupayakan agar sebanyak mungkin orang melakukan Tadabbur Qur`an dalam hidupnya. Harus disebarkan kesadaran tentang pembiasaan tadabbur. Supaya orang tidak berabad-abad merasa jauh dari Tuhan, merasa awam dalam beragama, merasa tidak mengerti Kitab Suci Tuhan.

Coba diperhatikan judul-judul dalam rubrik #Daur, seperti; Empat Huruf Yang Mengatasi Demokrasi dan Tuhan. Sebuah tema yang diangkat ketika masyarakat diresahkan dengan isu LGBT. Apakah dalam tulisan tersebut Cak Nun membahas tuntas tentang bahaya LGBT, tentang maraknya LGBT yang semakin meluas di Indonesia, tentang bahaya penyakit seks menular yang ditimbulkan? Tentu saja tidak. Dalam tulisan tersebut dan edisi-edisi setelahnya Cak Nun mengemas dengan apik dan dipenuhi butiran-butiran nilai yang sangat dalam untuk dijadikan pegangan bagi jamaah maiyah dalam menyikapi isu LGBT saat itu. Dan masih banyak lagi judul-judul #Daur yang secara pemilihan kata akan diduga sebagai tulisan untuk merespon isu yang sedang dibahas oleh masyarakat saat ini. Tetapi ternyata, setelah dibaca dan dipahami, ilmu yang terkuak justru lebih luas dari yang diduga sebelumnya.

Beberapa tulisan lain yang juga kemudian memunculkan kembali tokoh-tokoh lama dalam tulisan Cak Nun, seperti Markesot dan Kiai Sudrun menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah maiyah untuk kemudian setiap hari selalu menantikan edisi #Daur terbaru. Jamaah maiyah senantiasa menantikan kejutan ilmu apalagi yang dihadirkan oleh Cak Nun dalam tulisan terbarunya.

Pada akhirnya, istiqomah, kesetiaan dan konsistensi merupakan satu nilai yang juga Cak Nun berikan kepada jamaah maiyah. Dalam kondisi apapun, sesibuk apapun di tengah jadwal padat bersama KiaiKanjeng, Cak Nun tidak pernah merasa lelah dan tidak pernah terbesit keinginan sedikitpun istirahat berpikir mengambil jeda sejenak meninggalkan maiyah. Kesetiaan Cak Nun yang sudah teruji puluhan tahun lamanya, kali ini beliau simulasikan dalam bentuk konsistensi#Daur yang setiap hari dirilis. (RED)