Daur (92)

Menshalawati Muhammad
Yang Belum Lahir

Siapa yang meyakini bahwa dirinya adalah hanya dirinya, bahwa tidak ada diri di dalam dirinya yang bukan sebagaimana dirinya yang diri, atau ribuan kalimat berikutnya apabila kalimat ini diteruskan — maka berhentilah mengikuti perjalanan Markesot. Konsentrasilah berjuang untuk menafkahi anak istri, membayar kredit, menyicil pelunasan hutang, meningkatkan taraf kehidupan, atau apapun yang lebih nyata dan urgen.

Ambillah anjuran pertama Markesot tentang pilihan-pilihan bagaimana dan ke mana menempuh kehidupan. Yang pertama tentu sebagaimana kebanyakan orang: menempuh karier, menentukan profesi, membangun kesuksesan hidup di dunia, mengejar kekayaan sebanyak-banyaknya, pangkat setinggi-tingginya, reputasi, prestasi, gengsi, harga diri sosial, kemasyhuran atau popularitas, serta apa saja seperti yang hampir semua orang mengejarnya, berkompetisi untuk meraihnya.

Alhasil, dunia adalah tempat berprestasi. Dunia adalah tujuan membangun kejayaan. Hidup di dunia untuk mengejar dunia. Karena akhirat belum tentu ada.

Anjuran kedua adalah hidup berijtihad, menguak rahasia, membelah masa depan, mencari sesuatu yang tidak seperti yang sudah ada. Tidak murni dan total tak ada sebelumnya, tetapi bentuknya, formulanya, susunannya, komposisinya, aransemennya, racikannya, belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya.

Istilah lainnya: jadilah Ahli Bid’ah. Belajar membikin sesuatu yang belum ada contoh sebelumnya. Misalnya membuat peci atau kupluk atau songkok, yang belum ada dan belum dipakai orang di zaman Nabi Muhammad, bahkan sejak Nabi Adam. Membuat pengeras suara, penerangan listrik, kendaraan bermotor, pesawat terbang, dan banyak kemungkinan lagi, yang Allah dan Nabi Muhammad tidak pernah memberinya tuntunan, melainkan cukup membatasi diri dengan menganjurkan “apakah kalian tidak menggunakan akal?”

Yang kedua ini landasannya berbeda. Dunia adalah tempat menghimpun batu-bata dan modal-modal lain untuk membangun rumah abadi kelak di sorga. Jadi orang menemukan listrik tidak terutama untuk menerangi dunia dan ia mendapat royalti dari industrialisasinya. Ia menemukan dan membangun listrik dimaksudkan untuk menambah manfaat dan potensi jariyah, yang aplikasi substansialnya nanti di akhirat.

Kalau dua pekerjaan di atas tidak mampu kita melakukannya, ya yang ketiga saja: pokoknya kerjakan apa saja yang membuat Ibu dan Bapak serta seluruh keluarga senang. Dengan catatan tentu saja jangan raih kesenangan dan kebahagiaan apa saja yang Tuhan tidak menyukainya. Apalagi kita sukses meraih berbagai kejayaan dunia yang menggembirakan keluarga, tetapi Tuhan benci dan marah.

***

Markesot tidak berhasil melakukan satu pun di antara ketiganya. Sukses dunia ya tidak. Ijtihad dan bid’ah ya tidak kunjung berwujud. Menyenangkan keluarga ya keluarganya siapa, wong dia tidak berani berkeluarga.

Maka Markesot sibuk berdebat dengan dirinya sendiri. Lebih jelasnya: Markesot sibuk berdebat dengan diri-dirinya atau berbagai dirinya sendiri.

“Ah, mestinya ya kelihatan atau terasa, apakah seseorang itu Nabi atau Rasul atau Wali atau bukan”

“Tidak. Meskipun menurut penilaian kita seseorang itu berkualitas Nabi, tetap tidak mencukupi untuk dijadikan bahan kesimpulan. Sebaliknya, meskipun menurut manusia seseorang itu bukan Nabi karena kadar kualitas ilmunya, mentalnya, akhlaknya dan apa saja, tetapi kalau Tuhan bilang dia Nabi, ya Nabi. Sebab rahasia dan aplikasi kehendak Tuhan itu tak terbatas, dan kita hanya tahu sangat sedikit”

“Lho, untuk apa Tuhan menghadirkan seorang Nabi kalau di pandangan manusia orang itu tidak memenuhi syarat untuk disebut Nabi. Kan tidak efektif penerapan kenabiannya”

“Ya kamu komplain langsung sana kepada Tuhan. Tapi jangan ajak saya. Karena bagi saya, itu semua terserah-serah Tuhan. Meskipun sekadar sebatang kayu atau seonggok batu, kalau Tuhan berfirman itu adalah Nabi, atau Rasul, atau bahkan pun Malaikat, saya percaya dan ngikut-ngikut saja”

“Saya tidak komplain. Saya cuma berpendapat”

“Pendapatmu tidak penting dan tidak berlaku untuk tema Nabi. Yang penting dan yang pasti berlaku adalah pendapat Tuhan. Kan Tuhan sudah sangat jelas mengumumkan kepada makhluk-makhlukNya: Wahai manusia, kalian punya kemauan dan Aku juga punya kemauan. Hendaklah kalian mengetahui bahwa yang berlaku adalah kemauan-Ku”

“Kenapa sih kok kita berkepanjangan berbantah di antara kita yang toh hanya satu dan sendiri ini”

“Kita tidak berbantah. Kamu yang membantah”

“Tapi lha kok kamu bisa mengatakan bahwa Kharmiyo bin Sulaiman itu Nabi. Mana pernyataan Tuhan tentang itu?”

“Tuhan hanya mengumumkan ada 25 Rasul, yang sekaligus juga Nabi. Semua Ulama bersepakat bahwa 25 adalah jumlah Rasul, tetapi jumlah Nabi tidak terbatas. Yang terbatas adalah bahan-bahan sejarah yang bisa kita pakai untuk menentukan siapa Nabi siapa bukan, dan berapa jumlah Nabi keseluruhannya. Tapi saya tidak peduli berapa jumlah Nabi selama sejarah manusia. Yang ada saja yang kita nikmati”

“Tapi bagaimana kamu bisa bilang putra Sulaiman itu Nabi?”

“Para pendahulu kita, para leluhur yang alim dan shaleh mengisahkan dengan menyebut beliau adalah Nabi dan Raja sebagaimana Bapaknya. Baginda Kharmiyo juga Raja besar, membawa rombongan besar berkeliling melakukan dakwah ke berbagai Negeri, Habsyah, Room, Turki, bahkan menembus Kerajaan Angin”

“Aduh”, kata Markesot, “ternyata kamu lebih serem dari bayangan saya”

“Ketika tiba di Mesir, Baginda Kharmiyo menemui Raja Hudan, yang kemudian segera meninggal pada usia 40 tahun, digantikan oleh putranya bernama Bulkiyo. Baginda Kharmiyo mengatakan bahwa di Kerajaan Bulkiyo tersimpan sebuah peti. Bulkiyo kaget oleh informasi Kharmiyo. Kemudian mereka mencari dan menemukannya”

“Isinya emas permata intan berlian hadiah dari Baginda Sulaiman?”

“Tidak. Isinya adalah sebuah buku besar, berisi ribuan kalimat-kalimat pepujian kepada Baginda Nabi Muhammad”

“Lho kan Nabi Muhammad belum lahir?”

“Begitu indahnya puisi-puisi puja-puji kepada Kanjeng Nabi Muhammad itu sehingga Baginda Bulkiyo menangis dan menyatakan begitu ingin dan rindunya ia kepada kekasih Allah di akhir zaman itu”

“Ah, rindu kok kepada orang yang belum ada”

“Kelak yang dahsyat dari rahmat Allah di muka bumi adalah cinta ummat manusia sedunia yang melebihi cinta mereka kepada apapun saja selain Allah, padahal mereka belum dan tidak pernah bertemu dengan yang sangat mereka cintai itu”

Markesot terpana oleh Markesot.

“Tidak penting masa depan, masa kini atau masa silam. Itu masalah teknis. Itu hal yang sangat mudah bagi-Ku, kata Tuhan. Cinta dan kerinduan sejati merangkum sebesar apapun ruang dan seluas apapun waktu. Menyatukan semua yang bercinta di satu titik tajalli….