Daur (106)

Menolak Jadi Jongos

Kalau Markesot mengaku sedang mengantuk kepada Saimon, sebenarnya itu hanya cara agar ia mendapatkan peluang sedikit untuk tidak harus memenuhi sopan santun meladeninya.

Sejak tadi Markesot bermaksud menitipkan pesan kepada pikirannya agar merenungkan dan mengolah suatu tema. Setiap Markesot melemparkan atau menanamkan sesuatu hal kepada pikirannya, maka pikiran itu akan bekerja dengan sendirinya, dengan syarat Markesot harus melindunginya dari berbagai macam gangguan. Termasuk kegaduhan Saimon sahabatnya.

Tema yang Markesot akan perintahkan kepada akalnya untuk mengerjakannya, mengolahnya, memutar mesin pikirannya, menggilingnya sampai menjadi tetesan-tetesan inti ilmu — tidak lain adalah tema yang membuat ia meninggalkan keramaian dan memasuki hutan.

Apa itu?

Kalau yang dilemparkan oleh Markesot ke dalam mesin pikirannya adalah sejumlah kata: Negara, Nagari, Negeri, Bilad, Baldatun Thayyibatun, Baladan Aminan, Baldatan Aminatan….

***

Markesot sendiri pura-pura memejamkan matanya di depan Saimon. Padahal ia sedang menikmati kecengengan hatinya. Meratap. Mengeluh. Sesambatan. Innama asyku batstsi wa huzni ilallah.

Buntunya keadaan masyarakat yang ditemaninya. Arus besar kehancuran yang tak bisa dihentikan lagi oleh rakyat yang ia berada di tengah mereka. Keterperosokan ke dalam jurang sangat dalam, di mana orang-orang yang terperosok itu sudah dididik cukup panjang untuk merasakannya tidak sebagai jurang kehancuran, melainkan angkasa kejayaan, kesejahteraan dan kenikmatan.

Bangsa yang Markesot berada di tengahnya, sudah berubah menjadi sangat alamiah. Maksudnya sudah mirip kambing atau ayam. Kambing itu asalkan ada sesuatu yang dimakannya, selesai urusannya. Ayam itu asalkan bisa thothol-thothol supaya besok bisa bertelor, tak ada lagi masalah baginya.

Kambing dan ayam tidak peduli, bahkan tidak mengerti siapa yang menyediakannya makanan dan minuman. Tidak ada urusan halal haram bagi kambing dan ayam. Tidak ada bedanya bagi mereka berdua makanan itu berasal dari garis ridha Tuhan atau pada jalur khianat kepada-Nya.

Tidak ada bedanya apakah mereka berposisi sebagai hewan merdeka atau binatang yang diternakkan, dikurung, digiring dan dikandangkan kembali. Yang penting bisa makan. Dan kalau makanan di depannya lebih banyak jumlahnya, maka siapa saja yang menyediakan makanan yang lebih banyak itu langsung disimpulkan sebagai Tuhan.

***

Tidak apa-apa dijajah asalkan bisa makan bersama keluarganya, punya rumah meskipun masih kontrakan, ada biaya untuk menyekolahkan anak-anak sampai setinggi-tingginya, punya uang ekstra untuk tidak kehabisan pulsa, syukur bisa tamasya sekeluarga atau bersama tetangga sekampung di hari-hari terjepit nasional.

Terutama kalau bisa ke stasiun televisi nasional, mendaftar untuk ikut menjadi pendengar, membayar berapa saja, pakai seragam, disuruh bertepuk tangan pada saat-saat tertentu, diharuskan tersenyum terus dan tertawa untuk hal-hal khusus, diatur untuk menghapalkan yel-yel, meneriakkannya bersama-sama sambil mengacungkan tangan kompak serempak beramai-ramai.

Kalau untuk memiliki semua itu mereka harus menyembah Iblis, tidak ada masalah. Menjadi budak, jongos, pekatik, bukan persoalan sama sekali. Toh semua bisa bersaing, mendesak-desak, menjegal-jegal, memotong antrean, dan apapun saja, supaya siapa tahu bisa menjadi sekurang-kurangnya Kepala Rombongan Jongos.

***

Banyak orang dari Bangsa yang Markesot ada di dalamnya masih memiliki idealisme, yang terkadang diideologisasikan, untuk tidak mau begitu saja dijajah, diperbudakkan, diperjongos, diinjak-injak martabatnya dan dirampok harta bendanya.

Mereka berjuang keras dan tidak pernah putus asa. Mereka melakukan apa saja sampai yang sememalukan dan sehina atau sekasar apapun, untuk mencapai posisi tidak dijajah. Demi Allah dan Rasulullah benar-benar mereka tidak mau dijajah, sebab mereka maunya menjajah, atau sekurang-kurangnya menjadi bagian dari penjajah, menjadi karyawan sistem penjajahan, syukur diangkat menjadi Kepala Divisi Bidang tertentu dalam pemerintahan penjajah.

Para pejuang itu menolak korupsi, kalau mereka tidak dilibatkan. Mereka menolak perampokan harta rakyat, kecuali mereka diajak merampok. Mereka tidak bersedia menjadi jongos, karena cita-citanya adalah menjadi Kepala Jongos. Mereka tidak mau menjadi budak, karena mereka mengerti bagaimana nikmatnya mencambuki punggung budak-budak.

***

Akhir-akhir ini, di tengah mobilisasi penjongosan nasional, banyak orang-orang tua di antara Bangsa yang Markesot ada di dalamnya dibikin pusing oleh banyaknya berseliweran Palu dan Arit, serta warna merah ngecembeng di sejumlah tempat yang kalau dilihat dari angkasa berbentuk seperti tumpahan-tumpahan darah.

Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan palu, arit atau warna merah. Para penggembala sapi kerbau kambing semua punya arit, pande-pande besi di mana-mana juga bikin arit. Juga palu. Semua rumah ada palunya. Mana mungkin ada rumah tak ada palunya, kecuali tuan rumahnya bisa memukul dan menancapkan paku memakai jidatnya.

Apalagi warna merah. Apa yang aneh dengan warna merah. Bendera Negara si Bangsa itu sendiri ada bagian merahnya. Darah mereka semua juga merah, tak ada yang kuning atau loreng. Termasuk para ningrat dan aristokrat, Ndoro-ndoro Raden-Raden setelah terluka tubuhnya ketahuan bahwa darahnya tidak berwarna biru.

Di setiap perempatan jalan warna merah sangat diperlukan dan berjasa. Perempatan tanpa lampu merah ibarat laut tanpa pantai atau kendaraan tanpa rem. Sambal-sambal juga kebanyakan berwarna merah, meskipun ada yang hijau, coklat atau hitam. Jangan lupa Nabi Muhammad sendiri memanggil putrinya “Humaira”, si pipi merah.

***

Yang menjadi masalah adalah palu di rumah, arit di kandang kerbau dan merah di perempatan jalan digabung menjadi satu di bendera atau kaos. Kemudian ditambah jungkir baliknya pengetahuan sejarah di belakang bendera dan kaos itu. Ada yang benar sebagian kecil, ada yang dibalik sebagian besar, ada yang diputar, dijungkir, dimanipulasi, alhasil kacau balaulah keadaan. Yang jungkir dibalik saja kacau, apalagi balik yang dijungkir.

Kasihan orang-orang tua yang mengalami kengerian dan penderitaan tragedi masa silam. Kasihan juga anak-anak muda yang tidak mengalami dan tidak memahami kengerian dan penderitaan tragedi masa silam.

Padahal fokus masalah yang terjadi sebenarnya bukan itu. Sama sekali bukan itu. Meskipun, meskipun, jangan lantas palu arit merah itu dianggap bukan masalah. Hanya bukan fokusnya. Itu kamuflasenya.