Reportase Bangbang Wetan Desember 2015

Menjunjung Langit, Memangku Bumi

Dalam surat Al-Anbiya ayat 30 diterangkan bahwa sesungguhnya langit dan bumi dulunya adalah satu, lalu Allah membelahnya sehingga ada langit dan ada bumi.

Setelah diterpa hujan dan angin di sore harinya, suasana di pendopo taman budaya jawa timur malam itu tampak terasa lebih dingin dan terkesan lebih mistis dari biasanya. Banyaknya dedaunan yang berserakan membuat para penggiat BangbangWetan sedikit bekerja keras untuk membersihkan lokasi. Selesai nderes surat Al-Hujurat dan sholawat serta wirid padhang mbulan, mas Amin menyapa jama’ah dan langsung mempersilakan grup musik padhang howo untuk menghangatkan suasana pendopo. Padhang howo membawakan satu nomor dari Kiai Kanjeng yang cukup fenomenal, kado Muhammad, dengan gubahan aransemen ala padhang howo.

Mas Anam, jama’ah dari Blitar, dipersilakan mas Amin untuk menyapa jama’ah yang sudah memenuhi pendopo. Mas Anam adalah tetangga dari ki dalang “gemblung” yang dulu sering hadir di Maiyahan. Seperti malam yang sudah-sudah, di awal sebelum masuk ke tema, jama’ah selalu dipersilakan untuk berpendapat atau bercerita seputar pengalaman mereka berMaiyah. Lantas penggiat akan mencoba untuk menyambungkan cerita-cerita jama’ah dengan tema. Salah satu jama’ah, mas Ageng, mencoba menganalogikan tema malam itu — menjunjung langit, memangku bumi, dengan adagium hablumminallah dan hablumminannas. Jika dapat disimpulkan, alasan dari sekian banyak jama’ah Maiyah nusantara untuk istiqomah hadir adalah; belajar, ilmu. Mungkin memang demikianlah adanya, Maiyah selalu mengalirkan ilmu-ilmu yang tak pernah kita dapat dari pemdidikan formal.

Silatnas II Penggiat Maiyah Nusantara dan Akhlaq Media Sosial

Pak Dudung, yang selama ini hanya berada di belakang layar BangbangWetan, kali ini angkat bicara. Beliau berbagi “laporan” tentang silaturahmi nasional II penggiat Maiyah nusantara yang diadakan pada tanggal 4-6 Desember 2015 lalu, dengan Maneges Qudroh (lingkar Maiyah di Magelang) sebagai tuan rumah. Ditemani mas Harianto dan mas Jamal dari Yogyakarta, beliau menceritakan mengenai program-program yang sudah dibahas saat silatnas II kemarin. Silatnas II ini merupakan lanjutan dari silatnas I yang pada 2014 lalu diadakan di Baturaden. Beliau melaporkan, bahwa lingkar Maiyah nusantara kini sudah memiliki 19 lingkaran (yang telah terdata). Mulai dari Lampung, hingga Sulawesi. Silatnas II kali ini, melahirkan 4 bidang yang perlu mendapat perhatian dan telah disepakati oleh seluruh lingkar Maiyah Nusantara. 4 bidang itu adalah: politik, ekonomi, literasi media, pendidikan. Dan, diharapkan masing-masing lingkar Maiyah memiliki keterikatan untuk mempermudah 4 program kerja tersebut.

Selesai membagikan laporan, kesempatan berbicara bergeser kepada mas Harianto. Maiyah hari ini, bukan hanya Maiyah yang membentuk lingkaran seperti yang dilakukan jama’ah malam itu. Maiyahan, istilahnya. Padahal Maiyahan sendiri hanya salah satu entitas Maiyah secara keseluruhan. Ada pula entitas Maiyah gelombang, Maiyah cair dan Maiyah padat. Mas harianto memberikan sedikit definisi apa itu Maiyah gelombang, cair dan padat. Bahwa siapapun yang pernah bersentuhan, mendengar, melihat, membaca atau merasakan Maiyah baik secara langsung ataupun tidak, itulah Maiyah gelombang. Sedangkan Maiyah cair, adalah seperti yang dilakukan pada malam itu. Kita menyebutnya Maiyahan. Dan Maiyah padat, adalah wujud “organisasi” Maiyah yang sudah dirumuskan pada Silatnas I.

Maiyah hari ini menyebar lebih massive justru melalui media sosial yang terkadang asosial. Sayangnya, media sosial hari ini justru lebih banyak menampilkan yang seharusnya tak ditampilkan. Banyaknya potongan-potongan atau penggalan dari kalimat Cak Nun yang dijadikan quote atau video yang lalu diadu dengan seseorang/tokoh lainnya. Demikian pula yang sudah terjadi di Facebook dan Twitter. Banyak pihak yang kurang bertanggung jawab menggunakan nama Beliau untuk membuat akun. Hal ini sungguh sangat disayangkan, sebab, Cak Nun sendiri sama sekali tak memiliki akun personal di media sosial. Cak Nun berpuasa dari media sejak masa reformasi, kenapa orang lain yang membatalkan puasa Beliau? Nama Beliau itu memiliki perjalanan dan penderitaan yang teramat panjang. Seharusnya pihak-pihak tersebut lebih bertanggung jawab. Bukan soal siapa membela siapa, tapi, sudah menjadi adab dan akhlaq bagi seorang murid untuk melakukan pembelaan atas apa yang Sang Guru tidak lakukan. Bukankah Beliau sudah membagikan ilmu Allah kepada kita? Apakah tidak ada perasaan terima kasih dan penghargaan — meski Beliau sendiri tidak akan pernah meminta hal itu? Jika memang tidak bisa membantu, paling tidak jangan menambahi kerumitan.

Menjunjung Langit, Memangku Bumi

Ada satu kesadaran sebagai manusia, jika sudah pada titik penghabisan, mereka sudah pasti akan melibatkan “Yang Di Atas”. Manusia akan selalu mencoba menjaga hubungan vertikal dengan Tuhannya. Bagaimana orang-orang terdahulu mengasosiasikan bahwa Tuhan berada di langit. Ini sebenarnya hanyalah sebuah metafora untuk sesuatu yang tak mampu dijangkau oleh panca indra. Bukankah mata tak mampu melihat batas langit? Bahwa manusia tidak akan pernah bisa lepas dari takdir. Mau tinggal dan hidup di manakah jika kita tak tunduk pada sunnatullah? Junjunglah langit.

Memangku Bumi. Sebagai masyarakat Maiyah, sudah seharusnya memiliki perasaan untuk menjaga, berbagi, merawat dan mengasuh bumi. Bumi bukan hanya diasosiasikan kepada alam, tapi siapapun, dan apapun. Sudah pantaskah diri kita — sebagai masyarakat Maiyah, menjadi pengasuh dari semuanya? Kesadaran seperti inilah yang harus ditumbuhkan dan dipelihara serta diaplikasikan oleh diri sendiri.

Sejenak setelah tema dipaparkan, grup Padhang Howo membawakan satu nomor dan memberikan kesempatan kepada jama’ah untuk memikirkan dan menanggapi tema.

Pak Suko Widodo yang kemudian menemani mas Amin memoderatori forum mempersilahkan Kyai Muzzammil untuk memberikan uraiannya. Kyai Muzzammil memulai dengan menjelaskan persepsi umum masyarakat bahwa yang ada di atas itu adalah langit, sedangkan yang di bawah adalah bumi. Padahal tinggal persepsi kita untuk menempatkan siapa atau apa yang ada diatas atau dibawah. Dalam surat Al-Anbiya ayat 30 diterangkan bahwa sesungguhnya langit dan bumi dulunya adalah satu, lalu Allah membelahnya sehingga ada langit dan ada bumi. Merunut pada tema, kyai Muzammil juga menerangkan mengapa langit dan bumi perlu dibelah, itu karena identifikasi atas dan bawah memang diperlukan. Walau, sekarangpun tidak jelas mana atas dan mana bawah. Namun, dalam kehidupan manusia tetap ada sesuatu yang harus dijunjung dan dipangku. Tinggal menentukan apa yang harus dijunjung dan apa yang harus dipangku.

Kyai Muzzammil juga sedikit memberi koreksi terhadap tema dari yang awalnya “menjunjung langit, memangku bumi” menjadi “menjunjung langit = memangku bumi”, karena Tuhan tidak bisa disembah dengan cara “menginjak-injak” yang ada di bumi, Tuhan tidak bisa kita agung-agungkan dengan cara kita melakukan kedholiman kepada yang di bumi. Karena Tuhan tidak dilangit, tetapi Tuhan meliputi semuanya. Kyai Muzzammil kemudian mencontohkannya sebagai berikut. Hablumminallah jangan hanya diartikan dengan melakukan ibadah maghdoh, karena tujuan dari Islam adalah terwujudnya kemaslahatan bersama. Karena melaksanakan sholat (ibadah maghdoh) adalah input, sedangkan perilaku sosial kepada masyarakat adalah outputnya.

Terakhir Kyai Muzammil juga menambahkan dengan sebuah hadits untuk menguatkan pendapatnya, yang terjemahannya adalah sebagai berikut, “sayangilah yang ada dimuka bumi, maka kamu akan disayangi oleh yang di langit”. Selain itu masih menurut Kyai Muzzammil, dalam sebuah hadits ada seseorang pernah bertanya kepada Rasulallah, “Manusia yang mana yang paling dicintai oleh Allah?”.

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”, Rasulallah menjawab.

“Perbuatan apa yang paling dicintai oleh Allah SWT?”, tanya orang itu lagi.

“Menyenangkan saudaramu; apabila saudaramu punya kesusahan, kamu carikan jalan keluarnya; kalau punya teman yang punya hutang, bayarkanlah hutangnya; kalau dia kelaparan, berilah makan ”, jawab Rasulallah lagi.

“Aku berjalan untuk bisa membantu hajatnya saudaraku, lebih aku cintai daripada aku i’tikaf di masjidku ini selama satu bulan”, tambah Rasulullah (H.R Tabrani).

Setelah pemaparan yang diberikan oleh Kyai Muzzammil, Pak Suko langsung mempersilahkan mas Sabrang untuk memberikan paparannya. Mas Sabrang, dengan pemikirannya sendiri, memulai dengan memberikan terjemahan tema (menjunjung langit, memangku bumi) sebagai berikut:

“Karena langit adalah tempat yang biasa manusia sebut sebagai tempat yang maha, maka sangkaan kita kepada yang maha buat kita menengadah dan melihat langit, coba kita junjung akan kita bisa menyentuh cahaya-cahayanya, setelah kita mampu menempuh cahaya, kita mampu menyerap cahaya, menjadikan kita cahaya, kita menjadi orang di bumi, tidak lupa bahwa kita menapak di bumi, dan memangku semua yang ada di bumi dengan cahaya yang kita dapat dari langit”.

Mas Sabrang kemudian mengaitkan dengan apa yang telah dijelaskan Kyai Muzzammil tentang bumi dan langit yang dulunya satu. Dalam fisika kita mengenal teori bigbang, dari yang tadinya satu (singularitas) menjadi sebegitu banyak (polaritas) dalam sekejapan mata. Tapi menurut mas Sabrang polaritas itu yang dibutuhkan manusia, Ada panas, ada dingin; ada tinggi, ada rendah; ada panjang, ada pendek; dll. Dalam kehidupan manusia untuk bisa dinamis dibutuhkan dua titik polaritas itu. Tapi, tugas manusia adalah menemukan pertemuan dari dua paradoks tersebut.

Mas Sabrang juga mengatakan bahwa tanda naiknya maqam seseorang, adalah ketika dia menemukan pertemuan dari dua paradoks. Kalau kamu masih melihat baik dan buruk, kamu pada maqam tertentu. Tapi, kalau kamu sudah melihat diatasnya, misalnya dengan konsep pengabdian, maka maqamnya naik lagi satu peringkat.

Setelah respon mas Sabrang terhadap tema, pak Suko mempersilahkan Padhang Howo featuring mas Sabrang menghibur jamaah dengan lagu-lagu yang dibawakannya.

Setelah beberapa lagu yang dibawakan padhang howo, pak Suko melanjutkan dengan mempersilahkan jamaah untuk merespon paparan yang telah disampaikan oleh Kyai Muzzammil dan mas Sabrang tadi. Ada banyak jamaah yang ingin memberikan responnya, namun mas Amin hanya memilih 10 orang untuk mendekat ke depan guna memberi respon serta pertanyaan bagi dua nara sumber. Respon dan pertanyaan yang diberikan jamaah sangat beragam. Mas Sabrang kemudian memberikan respon balik terhadap respon dan pertanyaan dari jamaah.

Mas Sabrang pernah melogikakan apa hubungannya antara sholat dengan mencegah perbutan keji dan munkar. Mas Sabrang kemudian mencoba mencari lebih dalam tentang hal itu, dan menemukan bahwa mungkin hal itu advertising dari Tuhan. Sholat yang bisa mencegah perbuatan keji dan munkar adalah menegakkan sholat bukan melakukan sholat, karena melakukan sholat itu hanya advertising. Advertising bagaimana? Intinya adalah mengingatkan positioning kita, bahwa aku hamba dan Tuhan adalah junjungan (yang disembah). Sholat lima waktu adalah mengingatkan positioning kita dalam satu garis tersebut (hamba dengan Tuhannya). Sedangkan yang harus dijaga setiap hari dalam menegakkan sholat adalah mengetahui posisi kita dalam masyarakat. Kalau kamu sadar terus terhadap positioningmu, maka kamu tidak bisa melakukan perbuatan keji dan munkar.

Mas Sabrang kemudian berpindah merespon jamaah yang lain. Dengan uraian bahwa, sebuah konsep dasar akan punya manifestasi yang banyak. Dan, manifestasi konsep bisa berlapis-lapis. Manusia bisa berimajinasi sendiri terhadap sebuah konsep, namun terkadang Tuhan tidak menerjemahkan dalam bentuk yang kita bayangkan. Sedari itu, manusia harus berfikir terbuka. Manusia harus berani menerima konsep-konsep atau tanda-tanda yang tidak kita bayangkan sebelumnya. Karena terkadang pertolongan datang dari tempat yang tak terduga.

Selanjutnya, berpindah ke jamaah ketiga tentang proses untuk meridhoi Allah untuk mendapat ridhoNya. Mas Sabrang kemudian memberikan analogi melalui lagu sandaran hati yang dia ciptakan saat masa-masa tidak tahu apa “poin” dari hidup itu. Kalau manusia tidak paham dan tidak mampu atas kehidupan ini, cukup lemparkanlah ke Allah SWT. Janganlah jadikan sebuah beban, janganlah bersedih, tegaklah melakukan apa yang sudah diberikan oleh Tuhan (yaitu hidup), dan jalani kehidupan itu menjadi berguna. Persembahkanlah kepada Allah kesungguhan hidup dan kesungguhan mencari. Dan bahwa pencarian setiap manusia memiliki jalan dan hasil yang berbeda, maka tidak bisa kita general-kan. Jangan pernah berhenti mencari, karena berhenti mencari adalah rumus utama menjadi tersesat. Carilah perjalananmu sendiri, temukan intinya dan ridholah kepada hasil yang diberikan Allah untukmu.

Mas Sabrang melanjutkan, yang membedakan manusia dengan hewan adalah cita. Kita sering melakukan pembahasan mengenai cita-cita, tapi tanpa membahas tentang cita. Cinta, cita dan cipta. Ketika manusia memiliki cinta, maka selanjutnya tinggal menyalakan cita untuk akhirnya menemukan cipta (Sang Pencipta).

Geometri suci, Fibonacci series, Golden Ratio, Platonic Solid. Empat hal yang disebutkan mas Sabrang itu adalah kunci yang bisa diterapkan para arsitek untuk mempelajari ilmu ruang.

Karena waktu yang semakin pagi, penjelasan Sabrang malam itu tidak diteruskan yang langsung diakhiri penutup oleh Kyai Muzzammil.

Bersikap materialis adalah ciri dari jahiliyah. Bukankah Tuhan tidak bersifat materi? Lantas, apakah yang tidak memiliki sifat materi berarti tidak ada? Berhentilah bersikap seperti kaum jahiliyah yang menuhankan materi/wujud.

Sesungguhnya manusia ini pun yang hakiki adalah tidak ada, karena yang ada hanyalah Sang Maha Ada. Perbedaan-perbedaan pendapat antar umat ini sebenarnya tidak perlu ada jika tiap-tiap manusia mengembalikan segala keputusan kepada Allah Ta’ala. Bukankah Dia adalah Sang Maha Memberi Petunjuk? Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh jama’ah, cak Luthfi mengajak semuanya untuk melantunkan sholawat kepada Rosulullah SAW dan diakhiri dengan do’a oleh Kyai Muzzammil. [Red/BangbangWetan]