Daur (170)

Menikmati Intimitas

Ta’qid : “Kamu pikir ada orang bodoh, yang tidak memiliki kearifan ilmu dan kerendahan hati, yang boleh menjadi pemimpin, kecuali di Negeri yang rakyatnya memang menyukai kebodohan?”

Paduka Harun Ar-Rasyid penasaran.

“Berbeda bagaimana?”

“Maulana Abu Nawas tidak lengkap melaporkan kepada Paduka tentang jumlah bintang di langit”, jawab Markesot.

“Tidak lengkap bagaimana?”

“Ketidaklengkapan itu bisa disebut kebohongan bisa tidak, bergantung pada kearifan ilmu Paduka”

“Ya teruskan”

“Pertama, tidak kecil kemungkinan mripat Maulana Abu Nawas rabun jauh, sehingga tidak lengkap hitungannya tentang jumlah bintang-bintang di langit”

Paduka Harun tersenyum.

“Kedua, kambing yang Maulana bawa ke Istana itu pinjam kepada tetangganya, sehingga tak mungkin beliau sempat menghitung bulu-bulunya”

“Baik. Teruskan”

“Ketiga, dan ini yang terpenting, Paduka”

“Apa itu”

“Di langit yang sangat jauh di sana, yang bahkan tidak bisa dirumuskan dengan kata ‘jauh’, jauh lebih banyak bintang-bintang yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia, dibanding yang tampak…”

“Cukup”, Paduka Harus memotong.

“Hamba, Paduka”

“Kamu pikir ada orang bodoh, yang tidak memiliki kearifan ilmu dan kerendahan hati, yang boleh menjadi pemimpin?”

“Tentu tidak, Paduka”, jawab Markesot, “tapi terus terang hamba belum mengerti yang Paduka maksudkan”

“Saya balik saja kalimatnya”, kata Paduka, “Kamu pikir saya adalah Khalifah yang bodoh, yang tidak memiliki kearifan ilmu dan kerendahan hati?”

“Sebaliknya, Paduka”

“Sebaliknya bagaimana?”

“Karena Paduka sama sekali tidak bodoh serta memiliki kearifan ilmu dan kerendahan hati, maka Paduka menjadi Khalifah yang dicintai oleh semua rakyat dan ummat”

Paduka tersenyum lebih lebar. “Jadi kenapa kamu berpikir bahwa saya adalah Khalifah bodoh yang menanyakan kepada Abu Nawas berapa jumlah bintang di langit?”

“Mohon maaf, Paduka”

“Kenapa kamu menyimpulkan bahwa saya tidak memiliki kearifan ilmu sehingga menyangka bahwa ada orang yang sanggup menghitung jumlah bintang di langit?”

“Mohon ampun, Paduka”

“Terlebih lagi kamu menuduh saya adalah Khalifah yang tidak memiliki kerendahan hati, sehingga tega mempermalukan Maulana Abu Nawas dengan menanyakan sesuatu yang mustahil dijawab olehnya?”

“Mohon izin, Paduka”, jawab Markesot.

“Saya tidak punya kuasa untuk mengizinkan atau melarangmu melakukan apapun”, kata Paduka Harun, “karena kamu bukan rakyatku dan saya bukan pemimpinmu”

Markesot menarik napas panjang, kemudian berkata dengan sangat hati-hati. “Hamba tidak pernah minta izin, mohon maaf atau mohon ampun, sebab hamba tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa untuk dimaafkan dan diampuni, juga tidak punya rencana untuk melakukan apapun untuk diizinkan oleh Paduka”

“Sekarang giliran saya yang belum mengerti”, kata Paduka.

“Saya hanya menikmati kemesraan Paduka dengan Maulana Abu Nawas. Paduka berkelakar tentang bintang, Maulana bercanda tentang bulu kambing, sedangkan hamba ingin masuk dan menikmatinya. Kalau Allah memberikan hak kepada Paduka untuk menikmati cinta dan intimitas batin dengan Maulana, maka hak yang sama pasti dianugerahkan pula kepada semua hamba-hambaNya, termasuk saya”.